Cagar Buah Condet, Menjaga Identitas Betawi

Senin, 22 April 2019, 13:03 WIB

Salah satu lokasi Cagar Buah Condet. | Sumber Foto: indonesia.go.id

AGRONET -- Bagi sebagian warga Jakarta, belum mengetahui tentang keberadaan perkebunan buah yang terletak di kawasan Condet, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Lokasinya berada tepat di tengah-tengah pemukiman padat penduduk sehingga kebun buah ini tertutup dan tak tampak dari ruas jalan raya.

Cagar Buah Condet seluas 3,7 hektare. Ini merupakan sisa lahan perkebunan milik warga asli Condet. Kemudian diserahkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk dijadikan kawasan pelestarian tanaman buah khas Betawi, yaitu salak condet dan duku condet.

Menurut Mpok Menah (85), salah satu warga asli Condet, kawasan Kelurahan Balekambang, Batu Ampar, dan Kampung Tengah dulunya merupakan area perkebunan buah salak, duku, dan beragam jenis tanaman lain yang sangat luas dan rindang milik puluhan penduduk asli Condet yang bersuku Betawi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Tim Antropologi Universitas Indonesia tahun 1980, kawasan Condet merupakan daerah pemukiman masyarakat petani sawah dan petani buah jauh sebelum abad ke 17.

Namun ketika Belanda mulai memasuki wilayah Condet pada abad 17, daerah tersebut berturut-turut mulai diakui sebagai tanah milik tuan tanah bangsa Belanda D.W. Freyer dan keturunan keluarga Ament. Selama dalam kekuasaan Belanda, mereka membuat kebijakan tentang penetapan pajak tak wajar kepada semua rakyat yang dibayarkan setiap minggu. Jika rakyat tidak membayar pajak, rakyat akan diganjar dengan hukuman kerja paksa dan harta benda mereka akan dirampas. 

Pada tahun 1970-an, total area perkebunan di kawasan Condet mencapai lebih dari 300 hektare. Mayoritas penduduknya masih menggantungkan hidup dengan berjualan hasil panen salak dan duku yang dijual langsung ke Pasar Minggu. Di kelurahan Balekambang sendiri pada tahun 1977, tercatat jumlah pohon salak mencapai 1.656.600 rumpun dan 2.383 pohon duku. Dari jumlah tersebut, hasil panen per tahun bisa mencapai angka 285,7 ton buah salak dan 44 ton buah duku.

Sayangnya, sejak dibukanya jalan raya Condet yang menjadi jalan utama beraspal, arus urbanisasi kian deras terjadi di wilayah Condet. Keadaan ini memicu aktivitas jual beli tanah perkebunan yang disebabkan oleh makin tingginya harga tanah pada saat itu. Warga asli Condet yang memiliki tanah mulai tergoda untuk menjual tanahnya untuk memenuhi kebutuhan hidup, untuk ongkos naik haji, dan kemudian memilih membeli tanah di luar Jakarta yang harganya lebih murah.

Pada tahun 1974, saat Ali Sadikin menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, sebetulnya kawasan Condet sempat ditetapkan sebagai cagar buah-buahan dan cagar budaya Betawi melalui SK Gubernur No D.IV-1V-115/e/3/1974. Namun, hal tersebut tak berlangsung lama. Seiring pergantian gubernur dan perubahan-perubahan kebijakan, Condet kian terlupakan. Hingga akhirnya pada tahun 2004 terbit SK Gubernur yang memerintahkan agar cagar budaya Betawi dipindahkan ke Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Dengan maraknya penjualan tanah kebun milik warga dan pemindahan kawasan cagar budaya Betawi ke Setu Babakan, masyarakat Condet pun akhirnya menerima penawaran Pemprov DKI Jakarta untuk membeli sisa lahan perkebunan warga seharga nilai jual obyek pajak ketika itu. Hal tersebut dengan pertimbangan agar identitas asli suku Betawi yang semakin lama semakin berkurang dan terancam hilang di wilayah Condet, bisa tetap dipertahankan agar masih bisa dinikmati oleh generasi penerus di masa mendatang.

Tepat di tahun 2007, setelah pemerintah mengambil alih kepemilikan kebun, pembebasan lahan perkebunan pun dilakukan dan mulai dibangun pagar besi setinggi dua meter mengelilingi area kebun. Kebun buah inilah yang kini disebut sebagai Cagar Buah Condet, yang lokasinya berada di bantaran sungai Ciliwung, tepatnya di Jalan Kayu Manis RT 07 RW 05 Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Keberadaan kebun buah Condet yang kini tersisa hanya seluas 3,7 hektar dari luas awal mencapai lebih dari 300 hektare.

Mulanya, Cagar Buah Condet sempat terbengkelai hampir 7 tahun lamanya meski sudah diambil alih oleh Pemprov DKI Jakarta. Tak adanya petugas resmi yang dikirimkan pemerintah untuk menjaga dan merawat lokasi cagar, mengetuk hati warga Condet untuk mengurusnya sendiri tanpa honorarium. Barulah pada tahun 2013, Pemprov DKI Jakarta melalui Suku Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan Jakarta Timur, menugaskan beberapa pekerja harian lepas (PHL) untuk merawat Cagar Buah Condet bersama-sama dengan warga Condet.

Setelah sebelumnya area kebun diberi pembatas pagar besi keliling, komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk melestarikan Cagar Buah Condet sebagai identitas suku Betawi kembali terlihat dengan dibangunnya berbagai sarana dan prasarana penunjang wilayah cagar. Di tahun 2016, Cagar Buah Condet telah memiliki fasilitas seperti rumah bibit, kantor pengelola, walking track, bangku-bangku untuk pengunjung, dan lampu penerang.

Salah satu tujuan penyediaan fasilitas tersebut adalah sebagai daya tarik masyarakat, khususnya warga Jakarta, untuk mau berkunjung ke salah satu warisan budaya asli Betawi ini. Hal tersebut didukung dengan diterbitkannya SK Gubernur No.646 Tahun 2016 yang mengatur Percepatan Cagar Budaya dan Buah-Buahan Asli Condet.

Rumah bibit yang ada di Cagar Buah Condet, seperti salak condet dan duku condet memang sengaja dibudidayakan untuk dijual kepada masyarakat. Harga bibitnya sendiri bervariasi, tergantung besar kecilnya bibit tanaman. Untuk harga bibit salak condet sekitar Rp35.000 dan Rp60.000 untuk harga bibit duku condet.

Sedangkan untuk pohon salak dan duku yang masih tumbuh subur di area kebun meski usia pohon sudah lebih dari 100 tahun, hasil panennya tidak lagi dijual ke pasaran. Namun diserahkan kepada Pemprov DKI Jakarta dan beberapa warga yang turut membantu mengelola kebun.

Sebagai salah satu maskot kota Jakarta, salak condet menjadi pohon buah yang paling mendominasi jenis tanaman yang ada di Cagar Buah Condet. Kini jumlah pohon salak di area cagar mencapai lebih dari 2.000 pohon atau sekitar 80 persen. Jumlah tersebut terdiri dari pohon salak yang sudah berusia ratusan tahun dan beberapa pohon salak hasil cangkokan. Soal cita rasa, salak condet memiliki beraneka macam jenis rasa, dari mulai sepat, asam, hingga manis. Ciri khas rasa inilah yang membedakannya dengan jenis salak lain seperti salak pondoh.

Jenis tanaman lain adalah pohon duku condet. Jumlahnya kurang lebih sebanyak 250 pohon atau sekitar 12 persen, baik pohon berukuran besar maupun yang masih kecil. Sedangkan sisanya merupakan beragam jenis tanaman buah lainnya, seperti pohon gandaria, kapuk, kopi, kokosan, buni, menteng, melinjo, lowa, aren, rambutan, cimpedak, nangka, mangga, belimbing, jambu, kelengkeng, durian, bacang, sawo, mahkota dewa, dan markisa.

Tak hanya itu, puluhan jenis tanaman obat-obatan ikut pula melengkapi keanekaragam flora di area cagar, antara lain tanaman getah jarak, binahong, gondola, angsana, sirip tujuh, patikan kebo, ketepeng, sugi, jahe merah, miana, pacar merah, dan kelor. Banyaknya jenis tanaman yang ada di Cagar Buah Condet inilah yang membuat area perkebunan tersebut terasa sangat rindang dan sejuk meski di kala siang yang terik sekalipun. (Indonesia.go.id/591)

BERITA TERKAIT