Pelaku Bidang Peternakan Harus Peduli Resistensi Antimikroba

Kamis, 09 Mei 2019, 12:15 WIB

Seminar Peningkatan Kesadaran tentang Pencegahan dan Pengendalian Resistensi Antimikroba di Jakarta. | Sumber Foto:Biro Humas dan Publik Kementan

AGRONET -- Resistensi Antimikroba (AMR) telah menjadi ancaman global bagi kesehatan masyarakat, hewan, dan lingkungan. Munculnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan tidak bertanggung jawab di berbagai sektor, seperti kesehatan masyarakat, peternakan dan kesehatan hewan, pertanian, serta perikanan.

Hal itu disampaikan Ni Made Ria Isriyanthi dari Direktorat Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, pada acara Seminar Peningkatan Kesadaran tentang Pencegahan dan Pengendalian Resistensi Antimikroba untuk Dokter Hewan Technical Service di Jakarta, Rabu (8/5). Seminar diselenggarakan Kementan bersama Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia, Asosiasi Obat Hewan Indonesia, serta Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO).

Ria menjelaskan tujuan pertemuan yakni untuk meningkatkan kesadaran dokter hewan Technical Service/TS tentang penggunaan antimikroba yang bijak dan bertanggung jawab; Mempromosikan kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab profesi dokter hewan tentang penggunaan antimikroba yang bijak dan bertanggung jawab di sektor peternakan dan kesehatan hewan; dan mendorong dokter hewan untuk menjadi agen perubahan pada penggunaan antimikroba yang bijak dan bertanggung jawab di tingkat peternakan dapat tercapai.

Menurutnya, berdasarkan studi WHO tahun 2014, bila AMR tidak dikendalikan diperkirakan angka kematian akibat AMR dapat mencapai 10 juta jiwa pada tahun 2050. Untuk itu diperlukan langkah-langkah strategis berbagai sektor kesehatan dan sektor terkait lainnya.

Lebih jauh Ria menjelaskan Kementan dan kementerian terkait telah mengambil langkah strategis dengan adanya Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba (RAN PRA) yang merupakan tidak lanjut dari Rencana Aksi Global. Kementan telah melakukan kegiatan peningkatan kesadaran dan pemahaman terkait resistensi antimikroba sejak tahun 2016 melalui kegiatan Pekan Kesadaran Antibiotik sedunia, seminar bagi mahasiswa kedokteran hewan di 11 universitas di Indonesia, seminar bagi peternak unggas melalui sarasehan, pameran (Indolivestock, ILDEX dan Sulivec) dengan melibatkan sektor kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan. Kegiatan peningkatan kesadaran dan pemahaman terkait AMR juga telah dilakukan untuk para stakeholder secara bertahap dari tahun 2017 hingga sekarang.

Tri Satya Putri Naipospos, dari Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) menyampaikan pengendalian AMR harus menggunakan pendekatan one health yang bersifat multisektor dan melibatkan semua aktor dari peternakan ke konsumen, dan dari fasilitas kesehatan ke lingkungan. Penggunaan antimikroba yang bijak dan bertanggung jawab harus dipahami oleh semua orang yang terlibat dalam sektor peternakan, termasuk dokter hewan yang bekerja di berbagai sektor seperti praktisi, perwakilan dari sektor swasta terutama perusahaan obat-obatan hewan dan pabrik pakan, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), ataupun dari berbagai organisasi terkait dokter hewan yakni asosiasi profesi untuk dokter hewan (PB-PDHI), serta Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia (AFKHI).

Sementara itu, Hari Parathon, dari Komite Pengendali Resistensi Antimikroba (KPRA), Kemenkes menegaskan pentingnya penggunaan antibiotik yang bijak. Hal iniĀ untukĀ mencegah dan mengurangi laju AMR sehingga di masa yang akan datang masyarakat masih dapat menggunakan antibiotik.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Irawati Fari, Ketua Umum ASOHI. Dia menekankan peran petugas lapang dalam memastikan pemberian obat yang tepat dan bijak. "ASOHI selalu mendukung Pemerintah dalam implementasi berbagai peraturan, seperti peraturan terkait pelarangan penggunaan antibiotik untuk imbuhan pakan, juga petunjuk teknis untuk medicated feed," ungkapnya. (591)