Pemerintah Dorong Tingkatkan Konsumsi Protein Hewani

Senin, 05 Agustus 2019, 14:25 WIB

Fini Murfiani (baju pink) pada ada acara Festival Ayam dan Telur (FAT) 2019 di Bogor, Minggu (4/8). | Sumber Foto:Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, I Ketut Diarmita, mengatakan ketersediaan ayam dan telur telah surplus, bahkan sudah diekspor ke beberapa negara. Hal itu disampaikannya pada sambutan yang dibacakan oleh Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Fini Murfiani, pada acara Festival Ayam dan Telur (FAT) 2019 di Bogor, Minggu (4/8).

Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Bogor, Aria Bima, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Rektor Institut Pertanian Bogor, dan Kepala Dinas Pertanian Kota Bogor. Turut hadir Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia, serta asosiasi-asosiasi perunggasan, seperti GPMT, GOPAN, GPPUI, PINSAR, dan warga Kota Bogor.

Ketut menjelaskan berdasarkan data statistik peternakan, ada peningkatan tajam pada produksi unggas nasional. Pada awal tahun 1970-an produksi daging ayam ras hanya sebesar 15 persen dari kebutuhan nasional. Tahun 2018 sesuai dengan data BPS produksinya mencapai 3.565.495 ton atau 116,9 persen dari kebutuhan nasional sebesar 3.047.676 ton. Untuk produksi telur ayam tahun 2018 sebanyak 1.756.691 ton atau 101,5 persen dari kebutuhan nasional sebesar 1.730.550 ton.

Kondisi surplus produksi ini sangat potensial untuk dilakukan peningkatan nilai tambah melalui pengolahan untuk pasar domestik maupun ekspor. Produk ayam Indonesia telah diekspor ke Jepang, Timor Leste, dan Myanmar.

Ketut juga mengungkapkan pengolahan hasil peternakan, khususnya olahan daging ayam dan telur sangat mudah diperoleh. Produk olahan hasil peternakan perlu diproses dengan tata cara yang baik (good practices), mulai dari penanganan bahan baku hingga pemasaran. Pemerintah pusat dan Pemda pun terus menjamin terwujudnya penyelenggaraan keamanan pangan di setiap rantai pasok pangan secara terpadu.

Penerapan sistem jaminan mutu produk diterapkan mulai dari hulu hingga hilir, dari Good Breeding Practices (GBP), Good Farming Practices (GFP), Good Manufacturing Practices (GMP), Good Handling Practices (GHP), hingga Good Distribution Practices (GDP). Hal ini untuk menjamin suplai pangan hewani yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH) yang bernilai tambah dan berdaya saing.

Ketut mengungkapkan untuk penjaminan produk ASUH, produk olahan hasil peternakan harus memiliki sertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, serta Nomor Kontrol Veteriner dari Dinas Provinsi yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan. "Harus ada ijin edar MD dari Badan POM, dengan kepemilikan sertifikat-sertifikat tersebut, sehingga produk dapat dipasarkan lebih luas dan lebih berdaya saing," jelasnya.

Peningkatan Konsumsi Protein Hewani

Ketut menjelaskan kebutuhan nutrisi pangan terutama protein hewani sangatlah penting untuk diperhatikan. Protein hewani mengandung asam amino tak tergantikan yang berfungsi sebagai zat pembangun dan mempengaruhi metabolisme tubuh. Kelebihan kandungan protein hewani adalah asam amino yang dikandungnya lengkap dengan daya serap dalam tubuh yang tinggi.

Di samping itu pangan hewani merupakan sumber berbagai zat gizi mikro yang penting bagi tumbuh kembang, terutama untuk balita dan anak-anak, seperti zat besi, vitamin B12, dan zinc. Protein hewani yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia adalah telur dan daging ayam.

Ketut  merinci sesuai data BPS, tingkat konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia tahun 2018 untuk daging ayam dan telur lebih tinggi bila dibandingkan konsumsi daging sapi. Tingkat konsumsi daging ayam broiler tahun 2018 sebesar 11,5 kg/kapita/tahun, telur ayam 6,53 kg/kapita/tahun (125 butir/kapita/tahun). Sedangkan konsumsi daging sapi hanya 2,5 kg/kapita/tahun, dan konsumsi susu 16,43 kg/kapita/tahun.

Tingginya tingkat konsumsi tersebut antara lain karena daging ayam dan telur tersedia banyak (surplus), mudah didapat, mudah diolah, dan harganya terjangkau. Namun demikian, tingkat konsumsi tersebut masih jauh lebih rendah dari negara tetangga seperti Malaysia. (591)