Filosofi Kopi, Filosofi Tani

Kamis, 12 Juli 2018, 14:31 WIB

ilustrasi | Sumber Foto:prophotostock

Filosofi Kopi. Pernah nonton film ini tentu. Film yang diperani oleh Rio Dewanto dan Chicco Jericko. Dua aktor keren itu. Ada keasyikan di dalamnya. Keasyikan yang didramatisasi dengan baik oleh Dewi Lestari, sang penulis cerita. Juga oleh penulis skenario dan sutradara. Keasyikan itu tentu soal kopi.

Kopi memang asyik. Setidaknya dalam 10 tahun terakhir ini. Tiba-tiba semua ngopi. Kafe-kafe kopi bermunculan. Bukan hanya di kota-kota besar. Juga di daerah-daerah. Tak sedikit pula warung kopi tradisional mengubah wajah. Menjadi kafe atau kedai kopi kekinian.

Tukang kopi pun kini berstatus tinggi. Menjadi barista. Profesi yang sekarang sudah jadi pilihan cita-cita. Serupa dokter atau insinyur di masa lampau. Sekolah-sekolah barista laku keras. Bahkan ada yang ke keluar negeri. Khusus buat belajar jadi barista. Walau harus dengan membayar mahal.

Kalau tak dapat jadi barista profesional juga tak apa. Masih bisa jadi barista amatir. Di sebuah perusahaan media, puluhan karyawannya belajar menyajikan kopi. Termasuk wartawannya. Banyak yang malah membeli ‘mesin kopi’ sendiri. Buat bersaing adu racik kopi antar kawan di kantor.

Menjadi ahli kopi lalu prestisius. Dirujuk banyak orang. Hampir selalu dipandang dan didengarkan dengan takzim pula. Kiprahnya dimuat di majalah-majalah bergengsi. Reviewer kopi, blogger kopi, hingga photographer kopi ikut jadi profesi menarik. Mendiskusikan kopi pun mengasyikkan.

Maka pamor kopi pun naik kelas. Dulu kopi lebih menjadi minum pelepas penat sejenak buat petani. Juga bagi para pekerja informal. Bahkan sebagai kawan berbual membunuh waktu. Di kedai atau lapo. Kini kopi dipandang sebagai ‘gaya hidup moderen’.  Juga oleh mereka yang berkelas menengah atas.

Kopi dan politik pun bersinggungan. Seperti yang dilakukan Gubernur Ahmad Heryawan. Pemimpin provinsi yang –sebelumnya-- lebih terasosiasi dengan teh. Aher, panggilan Pak Gubernur, biasa gunakan diplomasi kopi. Hal yang membuat Jawa Barat jadi berasosiasi dengan varian ‘kopi butik’ kelas dunia.

Presiden Joko Widodo tak ketinggalan meng-endorse kopi. Merek Kopi Tuku melejit setelah diapresiasi oleh Presiden.  Namanya bersanding dengan merek kopi menengah atas seperti Anomali. Bahu-membahu mengangkat nama kopi anak negeri di tengah serbuan masal brand kopi asing.

**

Mengapa pamor kopi begitu naik? Ini yang perlu dipelajari. Apa yang membuat kopi maju pesat? Apa yang dapat dipetik dari kopi buat majukan komoditas lain? Dapatkah ‘Filosofi (bisnis) kopi’ diadaptasi menjadi ‘filosofi tani’. Bagaimana bisnis agro secara umum dapat maju seperti kopi?

Ada beberapa kata kunci. Kata kunci yang kait mengait dan menjadi resep memajukan kopi. Di antara kata-kata itu: kekinian, gaya hidup, global, urban, muda, media sosial, dan cerita. Itu kata-kata kunci yang mungkin dapat majukan bisnis agro. Sebagaimana juga telah majukan bisnis kopi.

Kekinian. Bisnis agro perlu kekinian. Perlu modern. Ada kebaruan. Entah dari pengolahan, pengemasan, atau gimmick pemasaran. Branding dan rebranding menjadi bagian dari kekinian. Itu terjadi pada kopi. Semestinya ditiru untuk komoditas lainnya.

Gaya hidup.  Kopi dianggap bukan sekadar minuman. Kopi juga gaya hidup. Bila mau mengikuti jejak kopi, komoditas lain harus dapat ditransformasi sebagai gaya hidup pula. Apalagi bila dianggap bagian gaya hidup kelas menengah atas.  Branding, sekali lagi, penting.

Global. Mendunia. Kopi mendunia. Bila mau maju pesat, komoditas lain perlu seperti kopi. Ada dan diterima di seluruh negara. Tak harus menjadi kegemaran semua kalangan. Menjadi niche atau ceruk kalangan tertentu pun tak apa. Selama memang mendunia.

Urban. Perkotaan. Kota dianggap sebagai pusat kehidupan. Sentra semua hal. Rujukan sebagian besar orang. Kopi berhasil mengisi dunia urban. Ada di pusat-pusat perbelanjaan. Tempat yang harus diisi pula oleh komoditas agro lain yang juga mau maju.

Muda. Kopi maju karena ditopang orang muda. Dari paling hulu hingga paling hilir. Orang muda cenderung berinovasi dan mudah membuat perubahan. Komoditas lain perlu mampu mengikat kaum muda pula untuk maju.

Sosial media. Kopi sangat disosialmediakan. Kopi pun maju. Ini tantangan bagi komoditas lain. Seberapa mungkin disosialmediakan? Ini terkait dengan kalangan muda. Kalangan generasi X, Y, dan Z itu.

Cerita. Story. Seberapa bisa membuat cerita terkait jenis produk agro. ‘Kopi berhasil membuat kelestarian Desa X terjaga.” “Di kawasan ini kopi beraroma apel.” Dan lain-lain. Selalu dibuat cerita. Hingga kopi tidak semata komoditas, namun juga sosok yang berkarakter.

**

Kekinian, gaya hidup, global, urban, muda, media sosial, hingga cerita. Itu bagian dari ‘filosofi kopi’. Semestinya itu juga bagian ‘filosofi tani’. ‘Filosofi’ ini tentu dapat dikembangkan ke jenis agro lain. Untuk coklat, teh, pala, mangga, alpukat, papaya, sirsak, produk kelapa, jahe, atau apapun lainnya.

Bahkan juga buat beragam hasil peternakan dan perikanan. Resto kambing bakar kekinian mulai juga muncul. Seperti di Bandung. Kota paling kreatif. Juga acuan gaya hidup ini. Kepiting lada hitam pun  bisa jadi sangat keren. Bergantung peneguhan ‘filosofi’-nya serupa ‘filosofi kopi’ itu.

Setiap komoditas perlu mampu melahirkan ahlinya. Juga para selebriti-nya. Merekalah yang akan mentransformasi. Dari komoditas menjadi produk. Lalu jadi varian produk unik berkarakter yang layak dimediasosialkan sebagai selebriti pula. Kopi telah lebih dulu jadi selebriti.

Lokomotif transformasi itu haruslah kalangan muda kekinian. Bergaya hidup urban, berorientasi global, aktif bermedia sosial, kreatif pula membangun cerita. Itu bagian ‘filosofi kopi’.  Semestinya itu pula yang akan jadi kontribusi ‘filosofi kopi’. Buat membangun ‘filosofi tani’. Kita tunggu saatnya!         

 

Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi AGRONET