Batik Caping Gunung dari PTPN VIII

Rabu, 25 April 2018, 18:11 WIB

Para pemetik teh sedang mendapat pelatihan membatik | Sumber Foto:PTPN VIII

AGRONET - Pernah berkunjung ke Agrowisata Gunung Mas yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII)?  Adakah yang berbeda dari Agrowisata Gunung Mas saat ini?  Tentu, tidak hanya menyediakan keindahan alam dari perkebunan teh, kini Agrowisata Gunung Mas disulap menjadi kampung batik. 

Direktur Utama PTPN VIII, Bagya Mulyanto menyebutkan, “Adanya kampung batik ini, lingkungan menjadi semakin terlihat indah.”  Kata BATIK juga mengandung makna “Bersih, Aman, Tertib, Indah dan Kreatif”.  Masyarakat Cisarua, Bogor yang kesehariannya sebagai pemetik teh, didorong oleh pengelola Agrowisata Gunung Mas untuk terus berinofasi.

Setelah rumah-rumah dicat bermotifkan batik sesuai keinginan, PTPN VIII bersama Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Kabupaten Bogor mengajak masyarakat untuk lebih mengenal batik.  Tak hanya itu, pelatihan membatik pun diajarkan.  Kedepannya Warga Cisarua, Bogor ini akan dapat memproduksi sendiri batik khas Gunung Mas yang diberi nama “Caping Gunung”.

Penamaan Caping Gunung sesuai dengan letak geografis dan latar belakang pembatik, yakni pemetik teh.  Diharapkan dengan adanya Kampung Batik dan Batik Caping Gunung, kesejateraan para pemetik teh dapat meningkat.

Di sisi lain, Bagya juga terus berinovasi untuk meningkatkan nilai jual teh produksi PTPN VIII.  Teh yang semula ekspor berupa bulk, dalam tahun ini telah dirancang penjualan dengan kemasan premium.  Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan harga jual teh di pasar global dan juga sebagai ajang publikasi bahwa Indonesia memiliki teh terbaik.

Tak hanya itu, PTPN VIII juga menjalin kerjasama dengan PT Mitra Kerinci, anak perusahaan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero), dalam mengelola perkebunan teh yang produktif dan efisien.  Sebagai tahap awal, pengelolaan akan dimulai pada lahan seluas 2.000 hektare di Kebun Pangheotan, Bandung Barat.

Kolaborsi PTPN VIII dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lain diwujudkan dalam proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.  Stasiun Walini, menjadi salah satu rencana stasiun pemberhentian kereta cepat.  Kehadiran kereta cepat kedepannya menjadi upaya menumbukan ekonomi disekitar.  Disekitar stasiun akan dibagun hotel, gedung pertemuan, dan wisata agroindustri.

Sebagai perusahaan di bidang agro, PTPN VIII tidak melulu mengejar profit.  Penghijaukan di sungai citarum pun dilakukan.  Secara simbolis di Hulu Sungai Citarum, Bagya menanam pohon Manglid.  Dalam kesempatan yang sama 1.000 batang pohon ditanam Presiden Joko Widodo beserta Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, dan masyarakat sekitar di Situ Cisanti, Bandung.

Sebagaimana visi dari PTPN VIII yang mengedepankan profesionalisme dan peduli terhadap lingkungan, serangkaian program telah dijalankan.  Kesejateraan karyawan menjadi perioritas utama.  Bermula dari Kebun Teh Gunung mas, nantinya Kampung Batik dan Batik Caping Gunung akan dikembangkan di perkebunan-perkebunan milik PTPN VIII. (269)

BERITA TERKAIT