Prof Agus Pakpahan & ‘Peradaban Belatung’

Minggu, 02 September 2018, 22:48 WIB

Agus Pakpahan | Sumber Foto:Dokumen pribadi

AGRONET--Peradaban belatung? Diserukan oleh profesor pula?

Betul. Ini soal perabadan. Peradaban yang memang mengedepankan belatung. Adalah Agus Pakpahan yang menyerukannya.  Profesor riset ini di hari-hari sekarang hampir selalu bicara soal belatung.  Itu dilakukannya paling tidak dalam lima tahun terakhir, yakni sejak 2013. Saat dia benar-benar yakin bahwa kunci masa depan Indonesia memang belatung.

Berlebihan? Mungkin, tapi alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) 1978 ini dapat menunjukkan pentingnya belatung bagi masa depan bangsa. Bukan asal belatung tentu. Namun, ini belatung lalat yang diyakininya paling tepat buat melangkah maju. Ini lalat hitam atau Hermetia illucens. Lalat yang juga populer dengan nama keren black soldier fly dan biasa disingkat BSF.

Perjalanan hidup Prof Pakpahan sebenarnya jauh dari urusan lalat dan belatung. Ia memiliki keteguhan dari ayahnya yang berdarah Batak. Juga kelembutan dan kecintaan budaya dari suku ibunya, Sunda. Di tatar Sunda, tepatnya di Sumedang, dia tumbuh dan besar. Itulah kota tahu serta makam tokoh heroik Aceh, Cut Nya’ Dhien.

Sosok ilmuwan besar Prof Andi Hakim Nasution menarik perhatiannya. Selepas SMA, ia pun bergabung di IPB.  Ia masuk Fakultas Kehutanan.  Saat itu baru dibuka jurusan sains di fakultas tersebut. Jurusan yang disiapkan IPB bagi mahasiswa yang ingin menempuh jalur peneliti untuk masa depannya. “Saya memilih jurusan itu,” katanya. Jurusan yang sepi peminat, hingga ditutup lagi tahun berikutnya.

Bekerja di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian kian meneguhkan naluri meneliti doktor ekonomi sumber daya dari Michigan State University ini. Menduduki posisi struktural di pemerintah tak menyurutkan kecenderungannya, bahkan setelah dia menjadi direktur jenderal perkebunan, lalu menjadi deputi Kementerian BUMN.

Ada satu pertanyaan yang paling menggelitiknya: Indonesia sudah lama merdeka, mengapa belum kunjung juga jadi negara maju? Lama baginya untuk merasa menemukan jawaban. Di yakin, kuncinya ada pada manusianya, termasuk budaya yang dibangun dan membangun manusia. Secara intens dia pun mendalami soal budaya, terutama budaya pertanian kita.

Namun perjalanannya menuju urusan belatung baru mulai tahun 2010. Itupun secara tidak langsung. Berawal saat dia ulang tahun. Anaknya yang di Amerika menghadiahinya buku IQ and The Wealth of Nation karya Richard Lynn dan Tatu Vanhanen.  Dia membaca buku itu berukang kali. “Sampai saya hafal isinya,” kata pengoleksi keris dari berbagai wilayah Nusantara ini.

Buku itu mengingatkan betapa rendah IQ orang Indonesia. Rata-ratanya bahkan di serkitar 90-an. Itu membuatnya gundah. “Bagaimana kita bisa maju?,” ungkapnya. Persoalan itu bukan semata terkait soal pendidikan. Lebih mendasar dari itu adalah menyangkut kualitas fisik. Sekitar 1 dari 3 balita di Indonesia mengalami stunting: tumbuh lebih pendek dari semestinya. Wajar bila nalar mereka juga terbatas.

Gizi menjadi persoalan utama. Kecukupan protein menjadi keharusan. Hal itu yang membuat Agus segera terpikir pada telur. “Telur itu kan protein yang dikemas sangat bagus langsung oleh Tuhan,” katanya. Dia mencoba beternak bebek. Hanya dua tahun, setelah itu dia fokus pada lalat. Buku Flies karya  Stephen A Marshzall meyakinkannya untuk menekuni dunia lalat.

Apalagi setelah dia menyimak Quran, Surat Al-Hajj ayat 73.  Dia mengajak untuk melihat terjemahannya dalam Bahasa Inggris. Lalat jelas disebut sebagai contoh, bukan sekadar sebagai perumpamaan. “Makhluk yang paling tahan berada di sentra penyakit, ya lalat, bukan kecoa,” tegasnya. Agus Pakpahan makin jatuh hati pada lalat, khususnya lalat hitam.

Baginya, lalat ini bukan semata urusan ternak-beternak tapi menyangkut peradaban. Secara teknis BSF memang menjanjikan. Seekor lalat hitam mampu bertelur sebanyak 500 butir dalam satu siklus. Dua puluh ekor lalat saja dapat menghasilkan 10 ribu maggot atau belatung. Cukup buat mengurai sekilo gram sampah organik yang menyisakan 200 gram pupuk berkualitas tinggi.

Terbayang manfaat yang dapat diperoleh. Sampah publik, yang kini banyak menjadi masalah, akan tertangani. Maka kini mulai banyak dikembangkan ternak lalat. Termasuk di berbagai tempat dekat penampungan sampah, seperti di Bantar Gebang, Bekasi yang jadi pusat sampahnya warga Jakarta saat ini. Belum lagi manfaat langsung dari maggot-nya.

Masyarakat luas perlu dibantu agar lebih sehat dan cerdas. Kuncinya apalagi kalau bukan penambahan protein. Sedangkan sumber protein paling mudah tentu peternakan dan perikanan rakyat. Ternak dan ikan perlu pakan murah berkadar protein tinggi. Maggot atau belatung lalat jelas pilihan terbaiknya. “Kadar proteinnya sampai 45 persen,” kata Agus.

“Dulu lalat dianggap masalah. Maka lalat hanya dibiakkan untuk riset, untuk  membuat insektisida pemberantas lalat,” ujarnya. Pandangan itu telah bergeser. Lalat disebutnya makhluk bersih, sehat, dan tahan penyakit. Itu sebabnya lalat kini dibudidayakan di berbagai belahan dunia. Apalagi paradigma peradaban dunia juga mengalami perkembangan.

Dalam dua abad terakhir, dunia dikuasai oleh paradigma peradaban moderen. Semua harus harus rasional, harus ilmiah. Yang tidak data dijelaskan secara ilmiah harus disingkirkan. Dalam dunia kesehatan, yang dianggap ilmiah adalah obat-obatan kimia saja. Yang sebenarnya adalah racun. Juga antibiotik. Segala hal yang berbeda dengan paradigma itu akan disingkirkan. Ternasuk kearifan-kearifan lokal.

Paradigma moderen itu ternyata punya masalah. Paradigma tersebut memang memajukan beberapa negara. Tapi gagal membuat negara-negara berkembang untuk maju. Termasuk negara tropis seperti kita. Negara yang masih punya masalah serius soal gizi buruk.  Lalu berkembanglah ‘paradigma pos-moderen’ yang mengoreksi paradigma moderen dalam peradaban. Agus Pakpahan berada di aliran ini.

Paradigma modern mementingkan antibiotik. Paradigma posmodern lebih mengedepankan probiotik. Paradigma modern melihat masalah dengan kacamata ilmiah secara pukul rata. Paradigma posmodern mengapresiasi kearifan-kearifan lokal.

“Ilmiah modern itu hanya bagus buat menambah pengetahuan dan mengasah logika, karena kebenarannya diukur dengan pengujian hipotesis. Malah sering bermasalah kalau dipakai untuk memecahkan masalah,” papar Agus. Untuk ukuran sekarang, paradigma ilmiah modern tersebut sudah ‘kuno’ dan kurang relevan lagi buat membangun peradaban baru.

Masalahnya, paradigma ilmiah modern itu hingga kini masih mendominasi dunia akademis. Bahkan masih diagungkan kalangan akademis kita. Hal itu yang melanggengkan dominasi bangsa-bangsa maju, denga tetap membuat bangsa sendiri kerdil. Menurut Agus, pendekatan ilmiah modern itu perlu dikoreksi serius. Ini agar mampu menemukan metodologi baru untuk mendapatkan solusi-solusi yang selaras dengan alam serta kearifan lokal. “Perlu standar ilmiah yang baru,” tegasnya.

Pendekatan-pendekatan alternatif di berbagai bidang makin diperlukan buat peradaban sekarang dan masa depan. Sesuai perjalanan hidup dan minatnya selama ini, Agus masuk ke pendekatan alternatif peradaban lewat lalat dan belatungnya.

Sekarang ia bukan saja serius membudidayakan BSF di kampungnya di Sumedang. Agus Pakpahan juga aktif mempromosikan sang belatung lalat itu. Sudah puluhan kelompok tani dibinanya dalam urusan lalat, mulai dari Merauke hingga pedalaman Kalimantan. Usaha skala korporasi juga sudah dikembangkannya, yakni di Lampung, bekerja sama dengan PT Gula Madu Plantation. “Mengubah blothong (limbah ampas tebu) jadi sumber protein dan pupuk bagus,” katanya.

Kesungguhannya bergelimang belatung lalat kian berbuah. APC (alternative protein corporation) yang berbasis di Hongkong menggandengnya. Ini konsorsium empat perusahaan dari Inggris, Denmark, dan Swiss yang spesialis mengembangkan bisnis produk-produk alternatif. “Insya-Allah kami membangun pabrik di Medan untuk menghasilkan protein, lipid, dan sistin,” unngkap Agus. Bahan bakunya limbah sawit. Sedangkan pemrosesnya, apalagi kalau bukan lalat hitam: BSF.

Gara-gara lalat hitam itu Agus bahkan diundang diskusi selama dua minggu di beberapa tempat di Inggris. Dia bertemu dengan para saintis dari berbagai korporasi dunia, juga dengan para peneliti Durham University. Menurut dia, kita masih saja terjebak di paradigma peradaban modern, termasuk para akademisi, birokrasi, dan politisi. Padahal peradaban telah bergeser menuju ke kehidupan madani, civil society, neomodern.

Banyak pintu masuk ke paradigma madani tersebut. Paradigma yang dapat mengatasi kebuntuan mengapa Indonesia tak kunjung menjadi bangsa maju ini.  Agus memilih masuk ke peradaban madani atau neomodern ini lewat belatung lalat hitam. Tak heran bila orang-orang menjuluki profesor ini sebagai komandan Laskar Lalat Hitam. Agus Pakpahan memang ingin berkontribusi membangun bangsa ini lewat ‘peradaban belatung’ lalat hitamnya. (312)

Agro Pilihan