Berkah Pedasnya Cabai

Senin, 14 Agustus 2017, 23:23 WIB

Tanaman Cabai | Sumber Foto:Piixabay

AGRONET - Percayakah Anda pada ungkapan berkah pedasnya cabai tersebut di atas? Bahwa cabai membikin pedas, tidak diragukan lagi. Bahkan cabai-lah tanaman pembuat pedas yang paling dikenal masyarakat. Meskipun ada tanaman lain yang juga pedas seperti lada, wasabi, maupun tanaman lainnya. Tapi benarkah pedas cabai itu membawa berkah?

Belum percaya? Lihat saja para pengusaha Masakan Minang, mulai dari rumah makan Sederhana, Natrabu, Simpang Raya hingga ribuan rumah makan Minang lainnya. Mereka semua mendapat berkah dari pedasnya cabai. Begitu pula industri sambal seperti ABC, Indofood, dan lain-lain. Tidak terkecuali para petani pun mendapat berkah dari pedasnya cabai.

Berkah menanam cabai dirasakan saat harga cabai seperti cabai rawit mendekati angka Rp 100 ribu per kg. Hal itu terjadi pada tahun 2016, sekitar bulan Mei, yang membuat para pedagang kecil makanan menjerit.

Pedagang gorengan di Jakarta, misalnya, biasanya membebaskan pembeli untuk mengambil cabai berapapun. Dengan harga cabai yang menjulang, mereka terpaksa membatasi cabai yang diambil. Begitu pula para pedagang rujak cingur di Surabaya. Umumnya mereka memenuhi berapapun permintaan cabai yang diminta pembeli. Dengan melejitnya harga cabai, mereka terpaksa minta tambahan harga untuk permintaan cabai lebih dari 3-5 buah.

Berkah pedasnya cabai itu menggiurkan banyak kalangan. Pada tahun 2016 lalu, sejumlah kasus terkait cabe terjadi di Indonesia. Di Kediri, Jawa Timur, seorang warga ditangkap karena mencuri cabai dari petani setempat dengan cara memanennya lebih dini di sawah. Sementara itu, empat warga negara Tiongkok ditangkap dan diperiksa polisi, karena bertani dan menanam cabai tanpa izin di Sukamakmur.

Mereka menyewa tanah dari petani, serta menggunakan tenaga buruh dari warga setempat, untuk menanam cabai dengan benih dari Tiongkok. Mereka tidak peduli melanggar berbagai aturan karena melihat kesempatan yang menggiurkan dari bisnis pedas cabai. Benih dari Tiongkok itu disebut membawa bakteri Erwinia Chrysanthem yang tidak terdapat di Indonesia. “Bakteri ini dangat berbahaya. Dapat menimbulkan kegagalan panen samoai 70 persen,” kata Artarjo Dikin, Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati.

Melihat ketergantungan orang Indonesia yang sangat besar terhadap cabai, maka bisnis cabai akan selalu merupakan kesempatan yang besar. Terutama pada dua jenis cabai yang paling banyak diperlukan masyarakat, yakni cabai rawit dan cabai keriting. Tumbuhan yang bernama latin Capsicum sp itu mudah pula untuk menanamnya dengan memperhatikan aspek dasar cuaca serta hama dan penyakit. Banyak petani di dataran rendah menanam cabai saat memasuki musim kemarau, setelah bertanam padi di musim penghujan sebelumnya.

Dataran rendah memang menjadi tempat utama untuk bertani cabai. Dengan sinar matahari yang berintentitas tinggi, cabai sudah dapat dipanen setelah berumur 75 hari. Di dataran tinggi, cabai perlu lebih lama untuk panen. Sinar matahari bukan hanya terhalang terhalang bukit, namun juga sering oleh kabut. Sementara itu, curah hujan pada saat yang tidak tepat seperti di musim berbunga akan merontokkan bunga yang baru muncul.

Hama dan penyakit juga yang sangat penting diperhatikan. Hama tumbuhan cabai umumnya adalah kutu daun dan ulat grayak. Sedangkan penyakit yang paling umum adalah berbagai jenis cendawan yang dapat membusukkan daun, maupun buah cabai. Namun yang sebenarnya paling berat adalah menyangkut pasar. Rantai pemasaran cabai cenderung sangat panjang serta tak menguntungkan petani. Hanya petani kuat, dan mempunyai saluran pemasaran pasti yang kuat pula, yang relatif terjamin untuk berusaha tani cabai.

Petani kecil dan juga pemula cukup rawan untuk bertani cabai, terutama menyangkut soal pemasaran. Bagi mereka, berusaha tani secara berkelompok, dan menguatkan kelompoknya dalam soal pemasaran akan sangat membantu. Hal tersebut akan mencegah petani dari harga yang terbanting, yang bahkan dapat menyentuh sekitar Rp 5.000 per kilo. Dengan kelompok usaha yang tangguh, petani kecil cabai akan tetap merasakan untung dari kegemaran orang Indonesia makan pedas. Juga akan membuat petani kecil cabai ikut menikmati berkah pedasnya cabai. (312)

Agronesia Utama
Komunitas