Budidaya King Kobia, Primadona Baru Komoditas Ikan Laut

Kamis, 02 Januari 2020, 14:33 WIB

Budidaya Investasi budidaya King Kobia bisa menghasilkan keuntungan hingga 50 persen dalam setahun. | Sumber Foto:Dok KKP

AGRONET --  Budidaya komoditas ikan King Kobia (Rachycentron canadum) yang telah diluncurkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terbukti memberikan manfaat lebih bagi pembudidaya khususnya pembudidaya komoditas ikan laut.

Potensi bisnis King Kobia  bagus terutama untuk budidaya. Sudah cukup lama berhasil dibudidayakan oleh KKP, namun masih belum mencuat di masyarakat pembudidaya. Ikan ini memiliki potensi untuk menjadi ikon budidaya yang baru karena memiliki pangsa pasar yang luas baik domestik maupun internasional.

Pembudidayaan juga sukses dalam melakukan pemeliharaan induk, pemijahan induk, pemeliharaan larva, produksi benih serta melakukan kegiatan produksi ukuran konsumsi di Keramba Jaring Apung (KJA). King Kobia dikembangkan menjadi komoditas unggulan baru subsektor perikanan budidaya. Hal ini karena biaya produksi untuk King Kobia juga terjangkau.

Bisnis yang Menguntungkan

King Kobia merupakan komoditas budidaya yang berpotensi tinggi untuk menjadi andalan di masa depan. Konsistensi dan kerja keras Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung telah berhasil membuat rangkaian teknologi budidaya King Kobia mulai dari tahap reproduksi, pemeliharaan larva dan benih, sistem budidaya bahkan hingga pembuatan pakan khusus King Kobia.

Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) mengklaim bahwa varietas ini bisa menghasilkan keuntungan hingga 50 persen dalam setahun.

Pertumbuhan yang jauh lebih cepat dibanding komoditas laut lain menjadi keunggulan yang paling dirasakan oleh pembudidaya. Saat ikan laut lain baru mencapai berat 1 – 2,5 kg, King Kobia dapat tumbuh mencapai berat 4-6 kg setahun. Artinya dalam kurun waktu singkat, investasi King Kobia bisa menghasilkan keuntungan besar. Namun demikian, sejauh ini ekspor King Kobia ke pasar luar negeri masih kecil. Ekspor King Kobia  yang sudah dilakukan bukan berasal dari hasil budidaya, namun dari hasil tangkapan.

King Kobia telah dikembangkan dan dipasarkan dengan kisaran harga yang terjangkau yakni sekitar Rp 45.000 per kg. Dagingnya yang enak, empuk dan bisa diolah dalam sajian apapun. Terutama untuk kualitas premiumnya. King Kobia juga memiliki keunggulan, yakni bila dipelihara di tambak dapat memutuskan rantai penyakit ikan dan udang. Hal ini karena King Kobia dapat memangsa agen penyebar penyakit seperti udang renik, kerang-kerangan dan ikan liar.

Daging ikan King Kobia masuk ke dalam jenis daging yang digemari oleh dunia karena dagingnya yang putih.  Jenis ikan ini cocok untuk dibuat berbagai macam olahan seperti sashimi, baso, nugget ataupun dimasak dengan citarasa Indonesia seperti dipindang atau digoreng. Untuk pasar ekspor yang berpotensi  adalah Hongkong, Taiwan, Jepang, Australia, Eropa, dan negara lainnya dalam bentuk ikan beku, fillet, dan, olahan lainnya.

Dengan semakin meningkatnya permintaan pasar, baik untuk pengolahan ataupun ekspor, pembudidaya tidak perlu ragu untuk berbudidaya King Kobia, tentunya dengan melalui tahapan cara budidaya ikan yang baik dan tersertifikasi penerapan Cara Pembenihan Ikan yang Baik(CPIB) dan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). Dengan demikian, ke depan King Kobia diharapkan dapat masuk ke jajaran 12 besar ikan komersial di Indonesia.

Kisah Sukses Pembudidaya

Adalah Suhadi, salah seorang pembudidaya King Kobia dari Desa Durian Kabupaten Pesawaran Lampung yang turut merasakan kemudahan dalam memelihara King Kobia. Ia menyatakan bahwa pemeliharaan dan perawatan King Kobia jauh lebih mudah tidak sesulit komoditas ikan laut yang lain.

“Selain pemeliharaan yang mudah, tingkat pertumbuhan King Kobia juga jauh lebih cepat dibandingkan dengan ikan laut yang lain. Sebagai perbandingan, untuk pemeliharaan King Kobia selama 5 bulan sudah bisa tumbuh hingga mencapai hampir 2 Kg, sedangkan untuk ikan laut lain dengan tempo yang sama baru tumbuh mencapai ½ Kg” tutur Suhadi.

Suhadi menambahkan “Penanganan penyakit pada pemeliharaan King Kobia pun juga lebih sederhana. Ikan yang sakit dapat langsung diambil dan diobati serta dikembalikan lagi setelah pulih dalam waktu 1 minggu tanpa harus melalui tahap karantina.”

Suhadi berharap ketersediaan benih dan kepastian pasar dapat terus dijaga. “Kami dari kelompok pembudidaya di Kampung Kobia siap untuk memastikan keberlanjutan usaha budidaya King Kobia di masyarakat” tutup Suhadi.(234)