Kerbau, Lebih Mudah Diternakkan dan Menguntungkan

Selasa, 07 Juli 2020, 12:01 WIB

Kerbau sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia sejak dahulu, bahkan lebih dahulu populer dibandingkan dengan sapi. | Sumber Foto:Dok Disperta Banten

AGRONET -- Kerbau (Bubalus bubalis) merupakan salah satu jenis ternak yang berkembang baik di Indonesia. Kerbau menjadi istimewa karena merupakan ternak yang erat dengan beberapa kebudayaan yang ada di Indonesia, seperti upacara-upacara adat yang ada di tanah toraja, menggunakan kerbau dalam ritualnya.

Ada tiga alasan utama mengapa kerbau mempunyai peran penting. Pertama, ternak kerbau memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kehidupan peternak dan petani di pedesaan sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD) walaupun tanpa dukungan pemerintah dan tanpa perbaikan pola hidup. Kedua, ternak kerbau masih dapat berproduksi dan bereproduksi dengan baik pada kondisi alam dan agroekosistem yang sangat kritis, misalnya wilayah lahan kering bagian Timur Indonesia (Pulau Sumbawa, Sumba, Flores dll). Ketiga, ternak kerbau dapat mengubah pakan yang sangat rendah.

Beberapa kuliner khas Indonesia banyak yang menggunakan daging atau susu kerbau sebagai bahan bakunya,seperti : Soto kudus, Sate kerbau, dadih dari Sumatera Barat dan sebagainya. Kerbau umumnya diternakkan masyarakat sebagai ternak kerja dan sebagai tabungan. Meskipun tidak sepopuler jenis daging dari ternak lain, namun ternak kerbau mampu membantu menyumbang kebutuhan daging nasional.

Budidaya ternak kerbau masih banyak dilakukan di daerah-daerah, terutama oleh perorangan dan hanya beberapa dalam skala besar.

Pemeliharaan terna kerbau di pedesaan di Indonesia belum memperhatikan aspek keuntungan. Peternak masih mengandalkan ketersediaan pakan dari alam. Peternak belum menerapkan sistem intensif dimana kebutuhan pakan dan lingkungan benar-benar dikontrol oleh peternak itu sendiri, sehingga keuntungan yang dihasilkan bisa optimal.

Para peternak kerbau umumnya menerapkan sistem ekstensif dan semi intensif dalam pemeliharaannya. Sistem ekstensif yaitu ternak digembalakan di ladang penggembalaan. Sedangkan untuk sistem semi intensif yaitu ternak di gembalakan pada siang hari dan dikandangkan pada malam harinya.

Proses perawatan pada budidaya kerbau tidak jauh berbeda dengan budi daya hewan ternak lain seperti sapi, kambing dan yang lainnya. Makanannya pun tergolong mudah didapat karena makanan yang disukainya itu rumput di persawahan.

Kerbau memiliki daya adaptasi yang baik meskipun berada di lingkungan yang jelek. Kerbau memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan sapi karena mampu bertahan hidup dalam kawasan yang relatif sulit terutama dalam hal ketersediaan dan kualitas pakan. Berikut langkah praktis budidaya kerbau . 

  1. Memilih bibit kerbau yang bagus

Seperti halnya ternak lain, beternak kerbau juga harus pandai-pandai memilih bibit yang baik. Ada beberapa jenis kerbau yang bisa diternakkan.

Beberapa kerbau jenis impor yaitu kerbau Murrah, Nilli dan Surti asal India. Sedangkan bibit kerbau lokal seperti kerbau Belang atau Tedong Bonga asal Sulawesi, kerbau Gayo (Aceh) dan lokal lain asal Sumba, Bali, Kalimantan, dan Sumatera.

Untuk pemilihan bibit yang bagus bisa melihat pedoman dari silsilah keturunan. Ini karena biasanya bibit kerbau yang bagus itu akan tercermin dari keturunannya.

Selain itu, dalam pemilihan bibitnya juga harus memerhatikan beberapa faktor, yaitu berat saat lahir, berat saat disapih, pertambahan berat, dan kriteria tertentu misalnya jumlah menang apabila pernah diikutkan dalam perlombaan. Sebenarnya, hal yang paling penting dalam pemilihan bibit kerbau ini dapat dilihat dari pengamatan kesehatan kerbau, umur kerbau, dan juga keadaan luar peternakan kerbau. Untuk kesehatan kerbau sendiri dapat dilihat dari cirinya seperti berikut.

  • Matanya terlihat putih bersih.
  • Kulitnya terlihat bercahaya dan tidak terlihat luka di kulitnya seperti kurap.
  • Tubuhnya terlihat gemuk yang menandakan kerbau itu sehat dan doyan makan.
  • Hidungnya tidak beringus. Walaupun beringus, usahakan cari yang sedikit ingusnya.
  • Tidak terlihat cacat, baik itu fisik maupun mental.
  • Kerbau jantan memiliki alat kelamin dan kakinya harus yang kuat.
  • Kerbau betina mempunyai alat kelamin yang normal serta ambingnya baik.
  1. Mempersiapkan kandang yang ideal untuk kerbau
Setelah memutuskan memilih bibit yang baik, maka kita harus memulai menyiapkan kandang yang baik. Kategori kandang yang baik yaitu jauh dari pemukiman penduduk. Kondisi ini murni untuk menghindari pencemaran udara dari kotoran kerbau. Kandang juga harus mampu melindungi kerbau dari serangan hama dan pemangsa yang bisa saja datang.
 
Berikut ini ada beberapa hal yang harus dipersiapkan dalam membuat kandang yang sesuai untuk kebau.
  • Buatlah kandang kerbau yang jaraknya lumayan jauh dari rumah atau pemukiman sebab bisa mengganggu sekitarnya karena bau yang akan timbul dari kotorannya.
  • Untuk bentuk kandangnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan bisa dibuat dari bambu seperti kandang pada umumnya.
  • Untuk lantai tanah bisa diberi semen atau tanah yang dipadatkan, usahakan lantai di kandang lebih tinggi daripada permukaan tanah di sekitar kandang. Sebab, bila terjadi hujan lantai kandang tidak akan becek terkena air hujan.
  • Berikanlah juga ventilasi pada kandang agar sirkulasi udara tetap baik.
  • Buatlah juga sistem drainase atau pembuangan, baik itu di dalam maupun di luar kandang.
  1. Perawatan pada kerbau

Dalam perawatan kerbau yang harus dilakukan adalah memberikannya pakan setiap hari, menggembalanya di sawah, memandikannya dan yang lainnya.

Kerbau mampu mengkonversi pakan dengan kualitas rendah namun produksi yang dihasilkan tetap optimal.. Kerbau merupakan ternak yang istimewa karena memiliki kemampuan khusus dalam mencerna makanan yang berkualitas rendah untuk dapat bertahan hidup.

Pakan kerbau bukan sesuatu yang sulit. Untuk hasil yang optimal, kerbau harus diberi pakan hijauan dan pakan tambahan. Pakan hijau untuk kerbau yaitu rumput gajah, rumput raja atau bahkan rumput lapangan biasa. Bisa juga diberikan kacang-kacangan seperti lamtoro dan turi, serta imbah pertanian yang diolah dengan proses fermentasi seperti jerami padi, jagung dan lainnya.

Dalam pemberian makanannya bisa diberikan pada pagi dan sore hari yang disesuaikan dengan kebutuhan.

Ternak kerbau betina dapat melahirkan anak setiap tahun. Jarak waktu beranak (calving interval) kerbau yaitu antara 12-18 bulan. Anak ternak yang lahir merupakan produksi paling potensial bagi pengembangan usaha.

Kerbau umumnya lebih tahan dari serangan penyakit dibanding sapi. Tetapi, tetap saja, peternak harus awas terhadap beberapa serangan penyakit seperti antrax, brucellosis, serta penyakit mulut dan kuku.

Kerbau di panen saat sudah cukup umur dan mencapai berat maksimal dan menghasilkan produk berupa daging, kulit, susu dan lain-lain. Penanganan pascapanen berternak kerbau adalah memelihara anak ternak setelah umur penyapihan untuk dijadikan bibit (induk). Sementara anakan yang kurang baik dapat langsung dijual.

Hasil panen tambahan lainnya adalah kotorannya. Kotoran ini dapat digunakan sebagai bahan pupuk organik, pupuk kompos dan sumber energi.(234)