Dorong Peningkatan Populasi Sapi, Kementan Salurkan 1.430 Ekor Sapi Indukan

Selasa, 11 Desember 2018, 07:32 WIB

Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, saat meninjau sapi-sapi indukan impor di Instalasi Karantina Hewan Sementara (IKHS) Juang Jaya Lampung Selatan. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET - Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), kembali menyalurkan 1.430 ekor sapi indukan impor ke daerah Pulau Sumatera. Kebijakan tambahan ini merupakan salah satu upaya untuk mencari informasi tentang sapi di dalam negeri.

Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, kata pengadaan sapi indukan impor dari Australia untuk wilayah Sumatera dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTUHPT) Sembawa yang dilakukan secara bertahap. "Untuk pertama kalinya datang sebanyak 840 ekor pada tanggal 4 Desember 2018 melalui pelabuhan Panjang, Bandar Lampung. Sisanya akan datang berikutnya," ungkap I Ketut, saat mengakses sapi-sapi indukan impor di Instalasi Karantina Hewan Sementara (IKHS) Juang Jaya, Lampung Selatan, Senin (10/11).

Dia menjelaskan sapi-sapi ini akan menyebar ke 50 kelompok peternak dan 10 Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) yang tersebar di 10 provinsi di Sumatera, antara lain: Provinsi Lampung, Bangka Belitung, Jambi, Sumatera Selatan, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Utara, dan Aceh. Sapi-sapi itu saat ini berada di IKHS Juang Jaya dan telah menjadi masa karantina selama 7 hari, untuk memastikan sapi-sapi yang akan didistribusikan ke peternak dalam keadaan sehat.

Sebelumnya, Kementan telah merealisasikan penyaluran bantuan sapi Brahman Cross sebanyak 1.225 ekor ke 80 kelompok peternak dan 2 UPTD yang berada di 35 kabupaten pada 5 provinsi, yaitu: DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Menurutnya, jumlah total sapi indukan impor yang sudah terealisasi saat ini sebanyak 2.065 ekor. “Sapi-sapi yang telah kami distribusikan sampai saat ini dalam kondisi yang sehat dan cukup adaptif di lokasi penerima manfaat, bahkan ada beberapa ekor yang sudah dalam kondisi bunting, dapat dengan cepat menerima hasil,” ungkap I Ketut.

Secara umum, jumlah total indukan tahun 2018 tanggapan terpenuhi sebanyak 6.000 ekor yang dilaksanakan oleh 3 Unit Pelaksana Teknis (UPT) melalui Ditjen PKH, yaitu: Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak / BBPTUHPT Baturraden, BPTUHPT Sembawa, dan Balai Besar Veteriner / BBVET Maros. Sapi-sapi itu akan didistribusikan ke kelompok peternak dan UPTD di 110 kabupaten / kota di 24 provinsi. 

Dengan menambahkan sapi indukan impor ini, maka pendapatan secara nasional akan bertambah, sekaligus akan menambah input produksi sebagai investasi yang menjadi pondasi menuju daging sapi yang dicanangkan di tahun 2023. “Usaha tambahan khusus sapi indukan wajib bunting (Upsus Siwab), Maka DENGAN adanya Disposals sapi indukan impor Penyanyi diharapkan Terjadi peningkatan pangsa Produksi daging sapi Dalam Negeri Dan bertambahnya usaha sapi berskala usaha komersil di Tingkat peternak,”ujarnya.

Penambahan sapi indukan impor tahun 2018 ini berlalu yang pertama kali dilakukan oleh pemerintah. Sebelumnya, pada tahun 2015 dan 2016 pemerintah juga telah melakukan kegiatan serupa, masing-masing sebesar 1.926 ekor dan 4.397 ekor. Total total sebanyak 6.323 ekor yang didistribusikan ke Provinsi Kalimantan Timur, Aceh, Sumatera Utara, dan Riau.

Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan oleh Ditjen PKH pada bulan Nopember 2018, dari 6.323 ekor sapi indukan impor yang dipelihara oleh kelompok peternak, saat ini telah menjadi 7,439 ekor atau pertumbuhan maksimum 17,65 persen, bertambah 1.116 ekor dari jumlah awal. “Kalau dalam waktu dekat ternak itu tentu akan bertambah lagi karena ada 560 ekor dalam keadaan bunting”, ungkap I Ketut.

Menurutnya, hal tersebut membuktikan bahwa sapi indukan impor dapat dikembangbiakkan dengan baik di Indonesia, asalkan dalam pemeliharaannya dilakukan dengan manajemen yang baik, terutama dalam hal kecukupan pakan. "Jika pakan tercukupi, maka kegiatan-kegiatan biologis akan dapat didukungital dengan baik," ucapnya. 

Dengan melimpahnya biomasa untuk pakan ternak sapi di wilayah sumatera, I Ketut yakin, sapi indukan impor akan berkembang dengan baik di sana. Ia menceritakan bahwa di Kabupaten Lampung Selatan, sebelumnya telah dilakukan lelang pedet hasil pengembangbiakan sapi Brahman cross (BX) sebanyak 87 ekor dari 100 indukan yang dipelihara oleh kelompok peternak Koperasi Produksi Ternak Maju Sejahtera. 

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Sugiono, di tempat yang sama menyebutkan bahwa penerima bantuan sapi indukan impor ini merupakan kelompok ternak dan UPTD yang telah terseleksi/terpilih berdasarkan hasil verifikasi calon penerima calon lokasi (CPCL) yang dilakukan oleh Tim dari BPTUHPT Sembawa dan Dinas Peternakan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Verifikasi yang dilakukan mencakup kemampuan pemeliharaan, ketersediaan pakan, sarana, dan prasarana yang tersedia.

Sugiono menjelaskan bahwa untuk memastikan dan menjamin sapi-sapi yang datang sehat, sebelumnya Timnya juga telah meninjau langsung kedatangan sapi di Pelabuhan Panjang. Selain itu, sapi indukan yang dikirim ini juga telah memenuhi persyaratan kesehatan hewan dan protokol karantina, karena petugas karantina telah melakukan  pre-shepment Inspektion pada tanggal 14-20 Nopember 2018.

“Setelah dilakukan tindakan karantina selama 7 hari di IKHS dan dipastikan sapi-sapi ini 100 persen dalam kondisi sehat dan tidak menunjukkan gejala penyakit, dan telah mengeluarkan sertifikat kesehatan hewan (KH) 14 dari Karantina Lampung, maka selanjutnya akan langsung distribusikan ke titik bagi. Setelah itu kita akan melakukan pengamatan 7 hari di kelompok dan UPTD, dan selanjutnya melaksanakan proses berita acara serah terima, ”pungkasnya. (591)