Prospek Pengembangan Ubi Kayu Nasional

Kamis, 27 Desember 2018, 06:53 WIB

Karyawan pabrik pengolahan ubi kayu. | Sumber Foto: ForPati

AGRONET -- Saat ini, ubi kayu merupakan komoditas tanaman pangan penting di Indonesia, selain padi, jagung, kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau. Tingginya fluktuasi harga ubi kayu lebih banyak berdampak ke petani dari pada ke pelaku pedagang atau industri.

Pentingnya ubi kayu dalam mewujudkan kedaulatan pangan adalah karena selain berperan dalam pemenuhan kebutuhan sumber karbohidrat untuk substitusi beras, juga untuk diversifikasi pangan. Ubi kayu juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan, bahan baku industri, dan bahan baku bioetanol.

Dahulu ubi kayu dianggap “inferior good,” hanya dilihat sebelah mata dalam bisnis komoditas, sehingga kesejahteraan ekonomi petani ubi kayu relatif tetap. Dulu manfaat ekonomi ubi kayu masih banyak pada kisaran pelaku tengah (middle man), yaitu pedagang dan pelaku hulu (industri dan pabrik).

Seperti analisis Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), ubi kayu mempunyai daya adaptasi tumbuh luas di tanah subur hingga kurang subur (marjinal). Akan tetapi, ubi kayu umumnya banyak diusahakan di lahan-lahan marjinal, kesuburan tanah kurang, dan kondisi topografi yang berbukit. Semua keterbatasan inilah yang mendukung posisi petani tidak banyak mengambil manfaat ekonomi dari ubi kayu sebagai komoditas yang diusahakan.

Dukungan Sumber Daya Ubi Kayu

Hasil identifikasi SWOT (strengths-weakness-opportunities-threats) menunjukkan faktor internal banyak berpengaruh pada komoditas ubi kayu di tingkat usaha tani. Pengaruh faktor internal yang utama berupa wujud kekuatan dari sumber daya yang dimiliki, seperti luasnya lahan marjinal dan telah tersedianya teknologi ubi kayu. Pengolahan produk dari ubi kayu juga sudah banyak ditunjang dengan teknologi-teknologi hasil penelitian, seperti pada pengolahan untuk pangan maupun industri lainnya. Sosialisasi hasil-hasil penelitian tersebut belum optimal sampai ke pengguna.

Pengaruh negatif faktor internal berupa kelemahan yang dimiliki oleh sumber daya ubi kayu, seperti tingkat produktivitas rendah dan pengetahuan ubi kayu belum dikuasai, serta beberapa aspek lain. Penerapan teknologi produksi belum dilakukan petani secara optimal. Umumnya petani menggunakan varietas lokal dan pemupukan belum diterapkan sesuai dengan rekomendasi atau bahkan tidak menggunakan pupuk sama sekali.

Peluang yang terbuka luas seperti permintaan komoditas tinggi dan harga pasar semakin kondusif merupakan pengaruh eksternal yang menjadi pendorong pengembangan ubi kayu. Potensi dan peluang pengembangan ubi kayu masih sangat terbuka luas sejalan dengan berkembangnya industri ternak, pangan olahan, dan industri, lainnya seperti alkohol, sorbitol, fruktosa, dan sebagainya.

Bahkan ke depan industri plastik akan menggunakan umbi-umbian termasuk ubi kayu sebagai bahan baku. Sementara, pengaruh eksternal yang negatif berupa faktor ancaman tidak terlalu berat untuk dihadapi dengan ketersediaan teknologi ubi kayu dan desiminasi permasalahan dapat teratasi. 

Dapat disimpulkan, pengembangan ubi kayu saat ini sangat prospektif terutama dalam mewujudkan kedaulatan pangan dari semua tingkatan usaha tani, pengolahan sebagai bahan baku pangan, pakan, dan industri. Permasalahan yang ada dapat teratasi dengan potensi dan peluang yang dimiliki.

Strategi operasional yang diperlukan untuk pengembangan ubi kayu dalam jangka pendek adalah budi daya intensif dengan penggunaan teknologi baru pada fase produksi dan pasca produksi; Peningkatan skala usaha dengan peningkatan kapasitas produsen dan pengembangan (diversifikasi) produk; Diseminasi teknologi untuk ransum ternak dengan penggunaan biomassa ubi kayu. Sedangkan strategi jangka panjang adalah pengaturan sistem produksi komoditas ubi kayu dari hulu sampai hilir. (591)