IPB Dukung Budidaya Ikan Badut Betina

Kamis, 19 Oktober 2017, 19:20 WIB

Ikan Badut | Sumber Foto:Pixabay


AGRONET - Ikan badut Amphiprion ocellaris menjadi spesies ikan hias ekspor yang banyak diminati. Namun, faktanya, 90% ikan hias air laut yang dihasilkan berasal dari penangkapan di alam.

Beberapa eksportir menganggap lebih murah mengambil langsung di alam dibandingkan dengan proses budidaya. Padahal, budidaya ikan badut sudah mulai banyak dikembangkan.

Kendala yang dihadapi adalah stok induk betina yang terbatas. Terbatasnya stok betina karena sifat monogami ikan badut. Keterbatasan juga disebabkan adanya hirarki sosial pada ikan badut, yaitu ikan yang paling dominan yang akan bereproduksi.

Kondisi ini membuat peneliti dari Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor melakukan feminisasi ikan badut menggunakan hormon 17?-Estradiol dan 17?-Metiltestosteron. Penelitian dilakukan oleh Prawita Anggeni, Muhammad Zairin Jr, Ligaya Ita Tumbelaka dan Dinar Tri Soelistyowati.
Dinar mengatakan, di antara ikan-ikan yang berganti kelamin, ikan badut (genus Amphiprion) merupakan salah satu ikan yang unik. Mulai dari kontrol sosialnya hingga perubahan seksual dengan sistem monogami.

Ikan badut hidup bersimbiosis dengan anemon laut. Pada kelompok ikan badut, ikan betina adalah ikan yang terbesar dan paling dominan. Ikan ranking dua (ikan yang besar kedua) akan menjadi jantan fungsional, dan sisanya akan menjadi individu yang tidak berkembang biak. Jika induk betina mati atau hilang dari kelompok tersebut, maka induk jantan akan berubah kelamin menjadi betina, dan individu yang paling besar di antara ikan nonbreeder akan berganti kelamin menjadi jantan fungsional.

 ”Penentuan jenis kelamin pada ikan didasari oleh kontrol genetik, namun bisa dipengaruhi juga oleh lingkungan. Salah satu langkah pengarahan kelamin dari jantan menjadi betina (feminisasi) pada ikan adalah dengan pemberian hormon 17ß-estradiol (estrogen) yang sangat efektif dalam proses feminisasi,” ujar Dinar Tri Soelistyowati.

Penelitian dilakukan dengan memelihara ikan badut sebanyak dua ekor per akuarium. Kemudian dilakukan feminisasi dengan induksi hormon 17beta-Estradiol dan 17alfa-Metiltestosteron melalui pakan dan disuntik (setiap 3 minggu sekali) dengan dosis yang telah ditentukan selama 90 hari pemeliharaan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian hormon 17alfa-Metiltestosteron 4 mg/kg dan 17beta-Estradiol 0.2, 0.3, 0.4 mg/kg dapat menghasilkan seekor betina dan satu ekor jantan. ”Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa jumlah individu betina yang dihasilkan dalam kelompok ikan badut lebih dipengaruhi oleh hirarki sosial dibandingkan dengan stimulasi hormon,” jelasnya. (Humas IPB/AT/Zul/111)