Harga gula pada 4 Juni sempat naik ke level tertinggi dalam tiga pekan.  

Harga Gula Merangkak di Tengah Cuaca Global yang Rentan

Rabu, 05 Juni 2024, 07:07 WIB

Tebu | Sumber Foto:Sarah&Jason/Wikimedia

AGRONET – Harga gula pada Selasa (4/6/2024) sempat naik ke level tertinggi dalam tiga pekan. Laman Barchart melaporkan, harga kemudian melandai pada penutupan pasar. Meningkatnya kerentanan cuaca global termasuk di wilayah penghasil gula seperti Brasil, India, dan Thailand kian mempengaruhi harga gula.

Nilai mata uang real Brasil terhadap dolar AS turun ke titik terendah dalam 14 bulan menjadi salah satu bearish factor. Hal ini mendorong produsen gula Brasil untuk mengekspor produk mereka. Brasil adalah produsen dan pengekspor gula terbesar di dunia.

Sementara harga minyak mentah yang meluncur ke anngka terendah dalam hampir empat bulan terakhir. Melemahnya harga minyak mentah ini menekan harga etanol.

Kondisi tersebut diperkirakan akan mendorong produsen-produsen gula dunia mengalihkan produksi mereka  untuk lebih banyak menghasilkan gula daripada etanol. Akibatnya, pasokan gula dunia diperkirakan akan terdongkrak.

Salah satu bulish factor adalah Indian Sugar and Bioenergy Manufacturers Association (ISMA) yang melaporkan pada 13 Mei lalu, bahwa produksi gula India pada musim 2023-2024 turun 1,6 persen year on year (yoy) menjadi 31,4 juta metrik ton. Penyebabnya antara lain lebih banyak pabrik gula yang tutup dan berhenti menggiling tebu. Pada 30 April lalu tercatat 516 pabrik gula tutup. Sementara tahun lalu ada 460 pabrik yang tutup pada waktu yang sama.

India juga memperpanjang pembatasan ekspor gula mulai 31 Oktober 2023 untuk memastikan pasokan di dalam India memadai. Belum diketahui kapan pembatasan ini akan beakhir. 

Pada musim 2022-2023 India hanya mengizinkan pabrik-pabrik gula mengekspor 6,1 juta metrik ton gula. Padahal pada periode sebelumnya mereka mengekspor 11,1 juta metrik ton gula. India adalah produsen gula terbesar kedua di dunia.

Suhu panas di Thailand juga mungkin merusak ladang tebu di negara itu. Pada 5 Mei, badan meteorologi Thailand melaporkan bahwa dari 77 provinsi yang ada, lebih dari separuhnya menderita suhu panas pada April. Bahkan rekor suhu ini melampaui rekor suhu terpanas pada 1958.

Sementara curah hujan di Thailand pada periode kali ini lebih rendah dibanding periode sebelumnya. Bahkan sisten cuaca El Nino saat ini dapat terus menekan curah hujan di negara itu.  

Pabrik gula di Thailand melaporkan hasil penggilingan tebu tahun ini adalah yang terendah dalam 13 tahun. Thailand adalah produsen gula terbesar ketiga dan eksportir terbesar kedua di dunia.  (yen)