Inovasi ditujukan untuk menghasilkan tanaman tebu berproduktivitas dan rendemen tinggi.

BRIN: Indonesia Perlu Dorong Inovasi Varietas Unggul Tebu

Kamis, 27 Juli 2023, 18:20 WIB

Petani tengah memanen tebu | Sumber Foto:pixabay

AGRONET -- Tebu sebagai bahan baku industri gula merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peran strategis dalam perekonomian nasional. Gula juga salah satu kebutuhan pokok masyarakat.

Berbagai upaya dilakukan untuk mendukung peningkatan produksi gula nasional, salah satunya adalah perakitan varietas unggul tebu dengan produksi dan rendemen tinggi. Perakitan varietas unggul tebu dapat dilakukan secara konvensional maupun inkonvensional yang melibatkan bioteknologi.

Secara konvensional, umumnya persilangan dilakukan untuk mendapatkan keragaman genetik sebagai bahan dasar seleksi sesuai tujuan pemuliaannya.

"Peningkatan kebutuhan gula konsumsi secara nasional, menuntut kita untuk terus melakukan inovasi dan upaya dalam rangka perakitan varietas unggul yang memiliki produksi tinggi," kata Kepala Pusat Riset Holrtikultura dan Perkebunan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),  Dwinita Wikan Utami, pada Rabu (26/7) seperti dikutip dari situs resmi BRIN.

Upaya inovasi varietas tebu ini dibahas dalam dalam webinar HortiEs Talk #9 bertajuk: "Perakitan Varietas Unggul dan Pengelolaan Penyakit Utama Tanaman Tebu". Kegiatan ini digelar Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan (PRHP) Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP).

Dwinita melanjutkan, pada zaman kolonial pada 1930, Indonesia pernah berhasil dalam pemuliaan tebu, yaitu adanya varietas POJ 2878, beberapa varietas introduksi. "Kita berharap dapat mengulang masa sukses untuk perakitan varietas tebu dengan memahami bahwa tantangan di masa saat ini berbeda dengan sebelumnya di tahun 1930.”

Untuk itu mencapai harapan itu, ada kendala yang perlu diatasi. Kendalanya antara lain terbatasnya ketersediaan material genetik, terutama untuk varietas-varietas unggul, dukungan budidaya dengan menghadapi adanya perubahan iklim, dan cekaman lingkungan. “Semua itu, menuntut inovasi- inovasi menghadapi dinamika populasi patogen," katanya.

Peneliti PRHP BRIN Subiyakto, mengatakan, varietas POJ 2878 di bawah pemerintahan Belanda merupakan tebu unggulan di tahun 1930 ini. Varietas ini penyelamat gula dunia. "POJ 2878 diabadikan di salah satu lembaga riset kelas dunia di Cenicana Kolombia dan varietas tersebut banyak digunakan sebagai tetua oleh pemulia tebu di dunia."

Hal pertama yang perlu dilakukan dalam mempersiapkan perakitan varietas tebu, lanjutnya, adalah menyiapkan bahan persilangan, yaitu materi genetik. BRIN merupakan Lembaga penelitian baru belum memiliki bahan genetik yang cukup. Karena itu, perlu pendekatan dan kerja sama ke kementerian atau lembaga yang memiliki koleksi plasma nutfah.

Kementerian, walaupun memiliki galur tersebut, kepemilikan kekayaan intelektualnya ada pada peneliti yang sekarang bekerja di BRIN. Kalaupun harus eksplorasi perlu lahan cukup air untuk koleksi plasma nutfah dibutuhkan biaya tinggi.

"Konsekuensinya kalau kita melakukan eksplorasi plasma nutfah, seleksi, persilangan, dan seterusnya, perlu waktu lama,” tambah Subiyakto.  Pelepasan varietas tebu membutuhkan 10 sampai 11 tahun dan berbiaya tinggi. “Ini merupakan pekerjaan rumah kita bersama untuk tindak lanjut dalam rangka mendukung swasembada gula tahun 2028 dan gula industri tahun 2030.”

Peneliti PRHP BRIN lainnya, Mala Murianingrum mengatakan, tebu memiliki masalah produktivitas dan rendemen tebunya cenderung stagnan.

Menurut data statistik perkebunan Indonesia terjadi penurunan produktivitas dan rendemen tebu setiap tahun sekitar 0,5 persen, sehingga dibutuhkan upaya untuk meningkatkannya.

"Dalam menjawab tantangan tersebut kami melakukan perbaikan karakter tanaman dengan perakitan varietas unggul baru melalui persilangan, sedangkan untuk perbaikan lingkungan tumbuh tanaman kami melakukan eksplorasi, karakterisasi, seleksi dan isolasi bakteri PRG," kata Mala. 

Penelitian tersebut, tambah Mala, ditujukan untuk menghasilkan varietas unggul tebu berproduktivitas dan rendemen tinggi. Dalam studi tersebut, digunakan formula dan teknologi aplikasi bioinokulan PGP skala lapang.

Peneliti PRHP BRIN Nurul Hidayah menjelaskan, tanaman tebu rentan terhadap penyakit luka api. Kasus pertama penyakit ini dilaporkan di Kepulauan Natal, Afrika, tahun 1877 dan tersebar ke berbagai negara yang mengembangkan tebu.

Kasus penyakit luka api pertama di Indonesia, berdasarkan catatan literatur, dilaporkan tahun 1881 dan mulai menimbulkan masalah di Jawa Tengah bagian utara tahun 1979. "Tahun 1994 penyakit luka api menyerang hampir semua pertanaman tebu di Indonesia, kecuali di Sulawesi Utara,” jelas Nurul.

Salah satu penyebab meluasnya penyakit ini, kata dia, adalah masifnya penanaman varietas tebu M44251. Jenis ini mendominasi lebih dari 60 persen pertanaman tebu di Indonesia.  Varietas ini rentan penyakit luka api dan menimbulkan permasalahan yang cukup besar untuk pertebuan.

"Tahun 2014 serangan luka api sekitar hampir 90 persen dari 500 hektare pertanaman tebu di Jawa Barat setelah sekitar tahun 2000 sampai 2008 sempat mereda dengan adanya varietas PS 864 dan PJT 941 yang diketahui tahan luka api," jelas Nurul.

Tanaman tebu termasuk jenis rumpun yang terdiri dari lima sampai belasan batang. Jika salah satu batang terinfeksi luka api, batang lainnya berpotensi terkena juga. Penyakit luka api ini bisa bertahan di dalam jaringan pembuluh tebu.

"Peluang pengendaliannya secara hayati dengan memanfaatkan agen hayati, perbaikan teknik budidaya, pengembangan varietas tahan penyakit, dan penggunaan fungisida berbahan aktif flutriafol," ujarnya. (tar)