Kedua pihak membahas pengawasan pelayanan publik di sektor pertanian dan pangan.

Tebu dan Kepala Sawit Dibahas Kementan dan Ombudsman

Sabtu, 21 Oktober 2023, 08:49 WIB

Tebu | Sumber Foto:Pxhere

AGRONET -- Plt Menteri Pertanian Arief Prasetyo Adi dan jajarannya bertemu dengan anggota Ombudsman RI (ORI), Yeka Hendra Fatika. Dalam pertemuan di Kantor Pusat Kementerian Pertanian itu mereka membahas pengawasan pelayanan publik di sektor pertanian dan pangan.

“Perlunya koordinasi antarinstansi pemerintah, dinas, pemerintah daerah, badan/lembaga terkait, hingga sampai ke kelompok taninya untuk menyelaraskan kepentingan dan terciptanya pertanian yang transparan,” kata Yeka seperti dikutip dari situs resmi Kementerian Pertanian, Jumat (20/10/2023).

“Agenda ombudsman ini kita sinergikan, rencanakan dan fokus untuk memperbaiki aspek-aspek penting dalam pengembangan pembangunan pertanian demi meningkatkan pelayanan publik kepada petani maupun pekebun. Kita akan bahas bersama supaya kita bisa temukan solusi tepat guna untuk kebijakan perkebunan, hortikultura, pakan, unggas, alat dan mesin pertanian (alsintan),” tambah Yeka.

Menurut ORI, ada beberapa yang menjadi catatan penting terkait kelapa sawit yaitu dalam pembinaan, pengawasan dan penyediaan data produksi sawit nasional yang akurat, transparan dan akuntabel. Selain itu tantangan capaian kinerja Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan program biodiesel juga menjadi isu yang harus segera direalisasikan sesuai target.

Arief mengapresiasi langkah koordinasi ini dengan ORI. “Terimakasih untuk ombudsman sudah berkenan hadir untuk kita sama-sama koordinasi khususnya terkait pertanian. Intinya mari kita bersinergi, supaya bisa lebih optimal dalam melayani petani maupun pekebun dan publik kita. Transparansi itu penting, dan kita ini pelayan publik,” katanya.

Dalam kesempatan ini ia meminta jajarannya untuk memaksimalkan program-program perubahan pertanian. Arief berpesan kepada Direktur Jenderal Perkebunan Andi Nur Alam Syah untuk segera membentuk program akselerasi PSR, pengembangan tebu dan sawit sebagai biodiesel, serta replanting teh dan kopi.

“Sawitnya sudah bagus, kemudian kalau bisa kita buat pabrik minyak merah untuk pekebun sawit kita, dan itu bisa jadi sumber penghasilan tambahan juga untuk pekebunnya. Sementara untuk komoditas lain, seperti tebu kita jadikan energi terbarukan, dalam etanol bentuknya. Selain itu, juga harus bisa cadangkan gula untuk diekspor. Kemudian kita kan belum pernah replanting teh dan kopi, alokasikan ke situ juga,” katanya Arief.

 

Strategi dan sinergi

Menjawab tantangan tersebut, Andi Nur menyatakan, Ditjen Perkebunan siap untuk melakukan program-program lanjutan dan telah menyiapkan strategi untuk tata kelola kelapa sawit nasional dengan aplikasi Sistem Informasi Perizinan Perkebunan atau SIPERIBUN, Pengelolaan Perkebunan Sawit Berkelanjutan, Satgas Sawit dan Gugus Tugas Monitoring TBS, dan pengembangan tebu serta strategi pencapaian swasembada gula konsumsi.

Dirjen Perkebunan telah berkoordinasi dan bersinergi dengan berbagai pihak seperti pemerintah daerah, kementerian/lembaga serta pihak terkait untuk menemukan solusi dan strategi cepat dan tepat demi mencapai target program yang telah Ditjen Perkebunan dibentuk.

“Kita akan mengembangkan sawit dan tebu, karena kedepannya biodiesel akan menjadi salah satu energi terbarukan yang bisa menggantikan bahan bakar fosil yang akan habis. Untuk replanting teh dan kopi, kita akan garap dulu datanya, kemudian koordinasikan dengan pihak terkait,” jelas Andi Nur. (tar)