Terjadi defisit pasokan sekitar 3,5 juta metrik ton gula

FAO: Produksi Gula Global Turun 2 Persen pada 2023/2024

Senin, 04 Desember 2023, 10:05 WIB

Tebu | Sumber Foto:Tiny Froglet/Flickr

AGRONET – Lembaga PBB yang mengurusi pangan dan pertanian, Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan, produksi gula global turun 2 persen pada 2023/2024. Penurunan ini dibandingkan pasokan tahun sebelumnya di pasar global.

“Ini berarti terjadi defisit pasokan sekitar 3,5 juta metrik ton gula,” ujar Fabio Palmeri, peneliti pasar komoditas global FAO, yang dimuat Associated Press bulan lalu.

Belakangan, produksi gula berkurang setelah industri beralih meningkatkan penggunaan tebu untuk bahan baku biofuel. Tak heran jika pasokan gula secara global pun ada di titik terandah sejak 2009.

Brasil masih menjadi pengekspor gula terbesar di pasar global. Namun, hasil panen negeri itu hanya bisa menutup kekurangan pasokan global pada pertengahan 2024. Hal ini menyebabkan negara-negara yang masih bergantung pada impor gula dalam kondisi rentan.

 

Indonesia dalam laporan USDA

Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) pada 2023 meramalkan produksi gula Indonesia pada 2023/2024 naik menjadi 2,6 juta metrik ton. Kenaikan produksi ini salah satunya disebabkan penambahan dan perluasan pabrik gula berbasis tebu milik swasta di Indonesia. Bahkan, kenaikan produksi sudah terlihat sejak 2022/2023.

Tak hanya itu, El Nino juga disebut memiliki faktor pendorong. Laporan USDA yang keluar April lalu menyebutkan, El Nino biasanya meningkatkan konten gula dalam tebu. Hal ini tentu berimbas pada naiknya produksi.

Namun, impor gula mentah atau raw sugar diperkirakan malah meningkat seiring naiknya kebutuhan gula rafinasi pada 2023/2024. Sedangkan pada 2022/2023 Pemerintah Indonesia telah mengizinkan impor sebanyak 991 ribu ton gula kristal putih.  

Hingga kini, Thailand masih menjadi pemasok utama raw sugar untuk Indonesia. Pada Mei 2022-Januari 2023, impor dari Thailand sebanyak 36 persen. Pada periode yang sama, impor dari Brasil menyumbang 33 persen, Australia 17 persen, dan India 13 persen.

Menurut USDA, gula rafinasi yang diimpor Indonesia paling banyak datang dari Thailand yaitu sebesar 91 persen. Sisanya, impor dari India 4 persen, dan sisanya dari Korea Selatan. (yen).