Ini Strategi Kementan untuk Wujudkan Swasembada Daging

Senin, 04 November 2019, 16:16 WIB

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), menargetkan swasembada daging sapi secepat mungkin. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah komando Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menargetkan secepatnya swasembada daging sapi. Hal itu disampaikan SYL dalam arahannya kepada jajaran Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (4/11).

Syahrul meminta Dirjen PKH beserta jajarannya untuk bekerja keras mewujudkan swasembada daging. Namun demikian, Mentan mengingatkan perlu dilakukan terobosan-terobosan dan kerja lebih keras guna secepatnya mencapai target swasembada tersebut.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri menjelaskan, mengingat saat ini populasi sapi dalam negeri masih kurang, ada beberapa langkah nyata untuk mempercepat swasembada daging sapi. Pertama, Kementan terus berupaya menggenjot dan meningkatkan populasi sapi lokal dengan program inseminasi buatan massal seperti yang sudah dilakukan selama ini.

Hal ini, kata Kuntoro, untuk mengejar kekurangan sekitar 1,4 juta ekor populasi sapi dalam rangka swasembada daging. Jika masih kurang, perlu segera pengadaan sapi indukan sehingga dapat mendongkrak populasi sapi.

“Namun harus dipahami, memperbanyak sapi indukan banyak caranya. Bisa dengan pencegahan pemotongan sapi betina produktif, maupun mendatangkan sapi indukan dari luar. Kita perlu selalu memikirkan untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan membuat neraca perdagangan kita positif. Kita selalu menomorsatukan produk kita untuk ekspor. Impor pilihan terakhir bila terpaksa dan sangat dibutuhkan untuk menutupi kekurangan dalam negeri," ujarnya.

Kedua, kata Kuntoro, Kementan akan mendorong semua elemen terutama pemerintah daerah dan BUMN untuk serius mengembangkan peternakan sapi. Model pengembangan kawasan sapi tidak di semua provinsi, namun dengan fokus pada beberapa provinsi yang menjadi sentra produksi sehingga upaya peningkatan produksi daging dalam negeri benar-benar dilakukan dengan fokus.

“Jika pengembangan sapi dilakukan di 34 provinsi, itu menjadi tidak fokus. Karena itu, strateginya dengan fokus misal pada 10 provinsi pusat pengembangan sapi. Tetapi memang itu menjadi kekuatan real dan menjadi percontohan pengembangan sapi di Indonesia,” demikian arahan Mentan sebut Kuntoro.

Upaya ketiga dilakukan dengan mengembangkan sistem integrasi dengan sawit. Lahan sawit untuk integrasi dengan pengembangan sapi itu baru difungsikan sekitar 0,9 persen, padahal potensi lahan sawit kita untuk pengembalaan sapi sangat luar biasa. 

“Jika kita bisa isi 20 persen dari lahan sawit yang ada, maka akan selesai semua masalah daging sapi kita. Dalam waktu singkat Kementan akan melakukan kontak dengan para pimpinan daerah, bupati, gubernur, dan mantan-mantan gubernurnya untuk dijadikan advisor dalam mensukseskan program integrasi sawit-sapi ini,” tutur Kuntoro.

Keempat Kepala Biro Humas menyampaikan bahwa Mentan SYL menegaskan membangun pertanian khususnya mewujudkan swasembada daging sapi adalah tanggung jawab bersama, gubernur, bupati, pemerintah daerah, dan para pelaku usaha.

“Oleh karena itu, diplomasi pertanian sangat penting dengan eksternal Kementan. Koordinasi dengan swasta, pemerintah daerah dan stakeholder lain sangat penting. Untuk kepetingan rakyat harus bisa bekerjasama dan berkoordinasi di lapangan,” jelasnya.

“Terakhir, Syahrul mengingatkan bahwa swasembada pangan khususnya daging dapat diwujudkan juga dengan berorientasi bisnis dan harus memikirkan pasar. Selama ini swasembada sulit dicapai atau tidak jalan karena tidak memikirkan pasar. Kita sering hanya memikirkan budidaya atau onfarm-nya saja tanpa memikirkan bisnisnya,” kata Kuntoro. (591)