Kerja Sama Peternakan RI-Bangladesh Segera Direalisasikan  

Jumat, 22 November 2019, 14:35 WIB

Kunjungan delegasi Bangladesh ke Balai Embrio Ternak Cipelang, Bogor, Jawa Barat, Kamis (21/11). | Sumber Foto:Agronet/360

 

AGRONET -- Delegasi dari Kementerian Perikanan dan Peternakan Bangladesh kembali menegaskan keinginannya untuk dapat melakukan kerja sama bidang peternakan antara Bangladesh dan Indonesia.

Hal tersebut disampaikan oleh Joint Secretary Ministry of Fisheries and Livestock Bangladesh Ashim Kumar Bala ketika mengunjungi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Peternalan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) yakni Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang pada Kamis (21/11). Delegasi ini merupakan kelompok yang ketiga dari empat kelompok yang berkunjung ke beberapa instansi bidang peternakan milik pemerintah dan juga swasta.

“Saya mendengar cerita dari rekan saya yang sebelumnya sudah berkunjung ke sini dan memang sepertinya kami bisa memanfaatkan teknologi embrio transfer ini untuk meningkatkan populasi sapi di negara kami. Oleh karena itu, kami mengharapkan kerja sama yang lebih intensif dengan Indonesia,” kata Ashim. Dia melanjutkan, pihaknya akan segera menindaklanjuti kerja sama bidang peternakan dengan membuat MoU antara Indonesia-Bangladesh.

Dirjen PKH Kementan I Ketut Diarmita mengatakan, Pemerintah Indonesia menyambut baik rencana kerja sama dengan Bangladesh. “Kita mendukung keinginan untuk segera merealisasikan kerja sama ini. Mereka tertarik untuk mendapatkan embrio ternak dari Indonesia dan pendampingan tenaga ahli kita ke Bangladesh,” ungkapnya.

Menurut Ketut, delegasi Bangladesh sangat tertarik dengan program pengembangan peternakan di Indonesia, khususnya pengembangan transfer embrio serta inseminasi buatan yang diterapkan dalam program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Buntung (Upsus Siwab).

Kepala BET Cipelang Oloan Parlindungan menyampaikan, kunjungan delegasi Bangladesh ini semakin memperat hubungan kerja sama di bidang peternakan, khususnya transfer embrio. Salah satu yang membuat mereka tertarik adalah kemampuan teknologi embrio transfer di BET Cipelang yang mampu menghasilkan 20-30 embrio per tahun dari 1 sapi donor.

"Hal ini merupakan keunggulan yang bisa didapat melalui embrio transfer dibanding dengan inseminasi buatan," jelasnya.

Ashim menyampaikan, kondisi perekonomian di Bangladesh sangat tergantung pada pertanian dan peternakan. Peternakan adalah alat utama pengurangan kemiskinan dan pemberdayaan perempuan, sehingga pemerintah Bangladesh terus berusaha untuk meningkatkan hasil peternakannya, salah satunya dengan belajar ke negara-negara yang dinilai mempunyai teknologi peternakan yang lebih berkembang dibanding Bangladesh.

Menurut Ashim, Bangladesh tertarik untuk mendapatkan embrio ternak dari jenis sapi Brahman, Ongole, Limousine atau bahkan jenis sapi Madura dan Bali. Jenis-jenis sapi itu mirip dengan jenis sapi yang ada di Bangladesh sehingga kemungkinan besar dapat berhasil. Hal tersebut diamini oleh Oloan yang menjelaskan bahwa untuk realisasi hal tersebut, Bangladesh harus menunggu Peraturan Pemerintah tentang tariff Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang masih dibahas.

Kunjungan delegasi Bangladesh kali ini merupakan kunjungan kelompok ketiga dan masih merupakan rangkaian dari kegiatan Livestock abd Dairy Development Project (LDDP), suatu program peningkatan kapasitas dari pemerintah Bangladesh yang didanai oleh Bank Dunia. Sebelumnya, kelompok pertama sudah melakukan kunjungan ke BET Cipelang pada tanggal 3 Oktober dan kelompok kedua pada tanggal 21 Oktober. Direncanakan ada satu kelompok lagi yang akan berkunjung ke Indonesia pada pertengahan Desember nanti. (360)