Mentan SYL Lepas Ekspor Produk Peternakan ke Jepang dan Timor Leste

Minggu, 24 November 2019, 15:25 WIB

Mentan SYL didampingi Presiden Komisaris PT. Charoen Phokpand Indonesia Tbk, T Hadi Gunawan, serta pejabat eselon satu lingkup Kementan secara simbolis melepas ekspor produk peternakan ke Jepang dan Timor Leste di Jakarta. | Sumber Foto:Agronet

AGRONET -- Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), melepas ekspor 6 kontainer berisi 64,77 ton produk olahan unggas, dan 10 kontainer berisi 200 ton pakan ternak ke Jepang dan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Produk peternakan asal Indonesia yang diekspor tersebut mencapai nilai Rp2,51 miliar.

Jepang dikenal sebagai negara yang memiliki standar keamanan pangan yang sangat tinggi. Keberhasilan Indonesia menembus pasar negara Sakura tersebut, membuat Syahrul sangat optimis akan peningkatan performa ekspor produk pertenakan di tanah air.

“Hari ini kita menyaksikan sebuah langkah yang tentu saja menjadi harapan dan kebutuhan bangsa ini. Saat ini kita tidak bicara impor, tapi kita bicara tentang kekuatan bangsa ini untuk bisa melakukan ekspor dengan tujuan berbagai negara yang ada di dunia,” ungkap Syahrul di Kantor Pusat PT. Charoen Phokpand Indonesia di Jakarta, Ahad (24/11).

Pada kesempatan itu, Syahrul mendorong agar dunia usaha dapat menciptakan peluang dan solusi praktis bagi peternak dalam mengembangkan usaha peternakan. SYL juga mengharapkan melalui aktivitas ekspor ini dapat menjadi upaya logis yang dihadirkan pemerintah dalam melakukan perluasan pasar ekspor produk olahan unggas dan pakan ternak di Indonesia.

Ia menambahkan melalui ekspor dapat memperluas peluang bisnis, terutama sebagai solusi bagi peternak saat terjadi kelebihan produksi. Berdasarkan data statistik peternakan Tahun 2018, populasi ayam ras pedaging (broiler) mencapai 3,14 milyar ekor, ayam ras petelur (layer) mencapai 261,93 juta ekor, dan ayam bukan rasa (buras) mencapai 399,98 juta ekor.

“Oleh karena itu hari ini kita semua menjadi bagian untuk melakukan langkah ekspor kita baik ke Jepang maupun ke Timor Leste. Ini pertanda Indonesia memiliki berbagai potensi yang juga dibutuhkan oleh negara lain," tambah Syahrul.

SYL meyakini peluang produk peternakan terutama unggas di pasar global cukup terbuka selama aspek kesehatan hewan menjadi perhatian dari pelaku usaha. Ia berharap ke depan ekspor pertanian Indonesia termasuk sub sektor peternakan bisa meningkat hingga tiga kali lipat.

“Saya bersama dengan seluruh pihak akan berupaya untuk bersama-sama meningkatkan ekspor pertanian termasuk sektor peternakan di dalamnya. Targetnya bisa menjadi tiga kali lipat lewat program Gratiks atau Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor. Kita harus optimis,” tegas Syahrul.

Subsektor peternakan akan berperan penting bagi proses pembangunan, Selain itu, peluang pemasarannya juga makin terbuka luas terutama untuk ekspor unggas. Hal tersebut didukung melalui nilai ekspor komoditas subsektor peternakan yang mengalami peningakatan.

Tercatat di tahun 2018 sebesar USD 640,17 juta atau setara Rp9,05 triliun. Angka ini meningkat 2,42 % dibanding Tahun 2017 yang sebesar USD. 625,14 juta atau setara Rp8,83 triliun.

“Yang terpenting bukan hanya angka, tetapi lebih bagaimana negara mendampatkan manfaat dari ekspor pertanian. Bagaimana peternak mendapatkan manfaat dari upaya ekspor yang kita lakukan, dan bagaimana pelaku usaha dapat membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat Indonesia,” ungkap Syahrul.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Komisaris PT. Charoen Phokpand Indonesia Tbk, T Hadi Gunawan, mengatakan pihaknya akan terus berupaya meningkatkan kinerja ekspor produk peternakan di Indonesia. Menurutnya, sejak dilakukan ekspor pada 2018 hingga Oktober 2019 lalu, telah mencapai nilai ekspor Rp26,04 miliar.

"Dengan pelepasan ekspor 16 kontainer hari ini total ekspor kami ke luar negeri sebanyak 203 kontainer. Nilainya mencapai Rp28,54 miliar,” pungkas Hadi. (591)