Dorong ABGC, Kementan Perkuat Konsolidasi Gerakan Pertanian

Jumat, 29 November 2019, 19:38 WIB

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri, dalam acara Makan, Ngopi dan Ngobrol Pertanian Alumni IPB di Kampus IPB, Bogor. | Sumber Foto: Humas Kementan

AGRONET -- Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong academy, business, government, and community (ABGC) untuk bersama-sama mengawal pembangunan pertanian Indonesia. Gerakan yang dicanangkan ini untuk mewujudkan kedaulatan pangan yang nantinya akan terkonsolidasi dengan kampus-kampus lain di Indonesia.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri, mengatakan Kementan akan berusaha menjalin komunikasi dengan berbagai pihak dan pemangku kepentingan untuk menyerap semua potensi di sektor pertanian. Menurutnya, konsolidasi dan peningkatan komunikasi ini merupakan langkah kongkrit yang lahir dari ide Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam memenuhi kebutuhan pangan bagi 267 juta jiwa penduduk Indonesia.

"Langkah dari Pak Menteri dalam 100 hari kerjanya adalah melakukan konsolidasi. Beliau juga berkali-kali menyampaikan agar lebih banyak mendengar suara teman-teman kampus, termasuk Institut Pertanian Bogor (IPB), dan para akademisi dari kampus-kampus lain," kata Kuntoro, dalam acara Makan, Ngopi dan Ngobrol Pertanian Alumni IPB di Taman Koleksi Kampus IPB Baranangsiang, Bogor, Jumat (29/11).

Menurut Kuntoro, IPB memiliki link and match dengan berbagai perguruan tinggi dan jaringan lainnya. Untuk itu Kementan akan berusaha menjalin komunikasi ini untuk menyerap semua potensi di sektor pertanian.

Di samping itu, ujar Kuntoro, Kementan juga tengah fokus melakukan penguatan konsolidasi dengan daerah sampai level desa dengan membentuk kelembagaan Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostra Tani). Komando ini nantinya akan digunakan untuk memantau lalu lintas data dan pembangunan pertanjan di daerah melalui ujung tombak pertanian yakni para penyuluh.

"Kita harus bisa mengoptimalkan semua potensi yang ada di lapangam, baik penyuluh, petani, maupun masyarakat secara luas. Jadi, Kostra Tani ini bisa disebut sebagai jaringan besar untuk pemantauan dinamika di lapangan yang menggunakan pendekatan teknologi artificial intelligence," kata Kuntoro.

Rektor IPB yang diwakili Kepala Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC), Yandra Arkemen, menyambut baik dorongan Kementan dalam mendorong dunia kampus sebagai leading sektor gerakan pertanian. Dia juga mengatakan perampungan data yang dilakukan Kementan sudah tepat sebagai rujukan kebijakan dan program unggulan lima tahun ke depan.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB, Sofyan Sjaf, menyampaikan pentingnya pembekalan teknologi dan mekanisasi kepada generasi muda sebagai persiapan menjelang menghadapi bonus demografi. "Terdapat 74 ribu desa dan 73,14 persennya merupakan desa pertanian. Bonus demografi akan menjadi peluang pembangunan pertanian dari desa," pungkasnya. (591)