Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor

Mentan SYL dan Gubernur Jatim Lepas Ekspor Biji Kopi

Senin, 02 Desember 2019, 21:56 WIB

Mentan Syahrul Yasin Limpo (SYL) dan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, melepas ekspor komoditas pertanian di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. | Sumber Foto: Biro Humas dan Informasi Publik Kementan

AGRONET -- Komitmen Kementerian Pertanian mendorong ekspor tiga kali lipat nampaknya semakin terwujud. Ini terbukti dengan dilepasnya ekspor komoditas pertanian ke tiga negara tujuan antara lain Brasil, Italia, dan Singapura, yang langsung dilepas Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) dan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Senen (2/12).

Pelepasan ekspor ini sebanyak 110 ton senilai Rp 2 miliar, terdiri dari pupuk organik 54 ton senilai Rp 108,6 juta dengan negara tujuan Singapura, bunga cengkeh 10 ton senilai Rp 877,8 juta tujuan Brasil, dan biji kopi Robusta 46 ton senilai Rp 1,02 miliar tujuan Italia. 

Dalam pelepasan ekspor ini, SYL sekaligus menyerahkan sertifikat ekspor dan juga menandatanganan deklarasi ekspor pertanian Jawa Timur tiga kali lipat. SYL mengatakan dengan dilepasnya ratusan ton komoditas pertanian ini membuktikan bahwa ekspor merupakan ruang yang cukup bagus untuk memfasilitasi berbagai komoditas yang ada di Indonesia sehingga bisa dikenal dan dinikmati oleh negara luar. 

Mantan Gubernur Sulsel ini juga mengungkapkan bahwa dia bersama Gubernur Jatim berkomitmen mendorong seluruh eksportir bisa berakselerasi lebih tinggi lagi. Kementan bersama kementerian terkait, pemerintah daerah, dan stakeholder lainya membangun gerakan tiga kali lipat ekspor (Grati-Eks) pertanian yang dilakukan secara bertahap, terukur, terencana dalam kurun waktu 4 tahun mendatang secara bersama-sama.

"Grati-Eks, merupakan ajakan kepada seluruh pemegang kepentingan pembangunan pertanian untuk bekerja dengan cara yang tidak biasa. Bekerja dengan memanfaatkan teknologi, inovasi, jejaring, dan kerjasama yang kuat," jelasnya.

"Kita tidak boleh berhenti berkreasi dan berinovasi. Saya mengajak para pelaku usaha Jawa Timur untuk memberi masukan agar kita mampu menggenjot ekspor, mencapai target kita bersama. Saya berharap, kepada seluruh dunia usaha agribisnis dengan potensi dan iklim yang telah terbangun ini dapat terus ditingkatkan. Tiga kali loncatannya dalam 5 tahun ke depan," sambungnya.

SYL menambahkan penolakan Notification of Non Compliance (NNC) sangat kecil dari negara tujuan komoditas yang berasal dari pelabuhan di Jawa Timur merupakan sebuah tanda bahwa pemerintah dan seluruh jajaran di Jawa Timur telah berkejar dengan maksimal dan kompak. Artinya, kata SYL, Karantina Pertanian telah bekerja dengan benar dan kompak sehingga melalui pintu Jatim, Pelabuhan Tanjung Perak penolakan dari negara tujuannya sangat kecil ini akan terus ditingkatkan.

Sementara itu, Gubernur Jatim, Khofifah Indar parawansa, mengatakan mobil ekspor yang dimiliki Badan Karantina Pertanian sebagai terobosan akselerasi ekspor akan membantu para produsen skala menengah bisa terkonsolidasikan. Sebab tak semua terkonfirmasi apa saja persyaratan ekspor.

Karenanya, mantan Menteri Sosial ini mendorong agar suasana perekonomian di Jatim bisa tumbuh signifikan. Sebab Jatim dan Jateng merupakan penopang ekonomi cukup tinggi.  "Makanya proses literasi dan edukasi yang masif akan membuka harapan seperti Pak Menteri sampaikan tiga kali lipat ekspor," ujarnya.

Di tempat yang sama, Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil, mengatakan kinerja eksportasi produk pertaian yang melalui Balai Besar Karantina Petanian Surabaya, Jawa Timur menunjukan tren yang cukup menggembirakan. Dibandingkan tahun 2018 dan 2019 hingga 2 Desember 2019 adalah masing-masing indikator yakni frekuensi meningkat 8%, volume meningkat dari 18,6 %, dimana di tahun 2018 hanya 16,3 juta ton menjadi 20,1 juta ton di tahun 2019, dan nilai ekonomi meningkat 100 persen dari Rp 35,3 triliun tahun 2018 menjadi Rp 70,8 triliun di tahun 2019.

Ali Jamil menyatakan Badan Karantina Pertanian mengambil langkah dengan layanan yang berorientasi mendorong akselerasi ekspor. "Dan yang akan terus menjadi fokus kerja kami, selaku otoritas karantina adalah memastikan produk pertanian yang akan diekspor telah terjamin kesehatan dan keamanannya. "Selain itu, juga mengemban peran sebagai pelindung sumber daya alam hayati Indonesia dengan melakukan pengawasan lalu lintas hewan, tumbuhan, dan produknya di seluruh pintu pemasukan dan pengeluaran NKRI," pungkasnya. (591)