Awali Tahun 2020, Kementan Luncurkan Gedor Hortikultura

Kamis, 02 Januari 2020, 08:52 WIB

Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto, menunjukan produksi durian dalam rangkaian kegiatan Gerakan Dorong Produksi, Ekspor, dan Ramah Lingkungan Hortikultura atau GEDOR-HORTI di Garut. | Sumber Foto: Humas Ditjen Hortikultura

AGRONET -- Tepat hari pertama tahun 2020, Kementerian Pertanian (Kementan) langsung gerak cepat mendorong peningkatan produksi hortikultura di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Melalui kegiatan bertajuk Gerakan Dorong Produksi, Ekspor, dan Ramah Lingkungan Hortikultura atau GEDOR-HORTI, Kementan dengan Pemda Garut bersinergi melalui program pengembangan kawasan hortikultura.

Direktur Jenderal Hortikultura, Kementan, Prihasto Setyanto, saat berada di Garut, Rabu (1/01), memastikan Kementan akan terus menggenjot produksi hortikultura, terutama cabai dan bawang merah. "Garut sudah lama dikenal sebagai sentra utama hortikultura, khususnya cabai, bawang merah, dan buah-buahan, seperti jeruk dan durian. Khusus jeruk, saat ini kami fokus untuk mempertahankan keunggulan jeruk Garut," ujar Prihasto.

Pasokan cabai dan bawang merah dari Garut, jelas Prihasto, selama ini terbukti mampu menopang kebutuhan wilayah Jawa Barat dan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Menurutnya, saat momentum tahun baru seperti saat ini, Garut menjadi andalan memasok produk hortikultura.

"Kami terjun langsung ke lapangan. Setelah menyaksikan langsung luasan areal tanam cabai dan bawang, kami optimis Garut akan terus eksis menjadi penyangga stabilisasi pasokan dan harga di Jabodetabek," ujarnya. 

Dirjen yang akrab dipanggil Anton ini menerangkan, Kementerian Pertanian saat ini tengah gencar memacu ekspor komoditas pertanian dengan target peningkatan hingga 3 kali lipat atau GratiEks. "Kita dorong agar Garut dan Jawa Barat pada umumnya mampu menjadi lumbung penyuplai ekspor buah-buahan maupun sayuran," imbuhnya. 

Pada kesempatan itu, Anton juga mengatakan, untuk sentra-sentra yang sudah mapan, Kementan mendorong agar para pelaku usahanya bisa mengakses dan memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Beni Yoga Gunasantika, menambahkan Kecamatan Pasir wangi dan Bayongbong menjadi sentra cabai dan bawang merah di wilayahnya. Sementara di Kecamatan Samarang merupakan sentra jeruk.

Dia menyebutkan, luas panen cabai di Pasirwangi mencapai 600 hektare dengan rata-rata produktivitas 10 ton per hektare. Kawasan tersebut mampu memasok setidaknya 6 ribu ton cabai. Untuk luas panen bawang merah di Bayongbong mencapai 800 hektare atau setara produksi sekitar 8 ribu ton. Sementara luas areal jeruk lebih dari 1.200 hektare.

Bawang merah di Garut umumnya ditanam di daerah lereng atau dataran tinggi sehingga masuk kategori off season. Varietas yang banyak ditanam adalah Batu Ijo, Maja Cipanas, dan Bali Karet.

"Uniknya, saat daerah lain seperti Brebes dan Pantura Jawa berkurang produksinya, di Garut justru panen. Jadi harga yang diperoleh petani cukup baik. Hamparan tanamnya bisa disaksikan sendiri, sangat luas," terang Beni.

Untuk komoditas cabai, lanjut Beni, sudah sejak lama Garut menjadi kantong pengaman pasokan untuk wilayah Jabodetabek termasuk saat momen hari libur dan hari raya keagamaan nasional. Sementara untuk jeruk, jajarannya tengah melakukan peningkatan kualitas.

Petani cabai asal Garut, Asep, mengaku siap mendukung upaya Kementerian Pertanian mendorong peningkatan produksi cabai di daerahnya. Ia mengatakan saat ini dirinya bersama para petani cabai Garut terus mengupayakan pengaturan pola tanam agar cabai bisa tersedia sepanjang waktu dengan harga stabil.

"Saya sendiri saat ini menggarap lahan 5 hektare. Alhamdulillah, sekarang sedang panen. Tiap hari saya bisa memasok cabai 1 ton ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta dan pasar-pasar lokal lain di Garut dan Jabodetabek. Prediksi saya, bulan Januari ini harga cabai relatif stabil," pungkas Asep. (591)