Primadona Ekspor, Petani Subang Antusias Kembangkan Manggis

Selasa, 21 Januari 2020, 20:47 WIB

Tahun 2020 ini, Kementan merancang alokasi APBN untuk pengembangan kawasan manggis di Subang seluas 90 hektare. | Sumber Foto:Humas Ditjen Hortikultura

AGRONET -- Kabupaten Subang, Jawa Barat, dikenal sebagai penghasil manggis. Produksi buah eksotis ini bahkan telah menembus pasar mancanegara. Kabupaten ini merupakan salah satu sentra andalan yang rutin melakukan ekspor.

Buah yang dikenal dengan sebutan Queen of The Tropical Fruits ini menjadi primadona terutama ke negara-negara ASEAN, Timur Tengah, hingga Eropa. BPS menyebutkan, produksi manggis Subang pada 2018 sebanyak 4.025 ton dengan jumlah tanaman produktif mencapai 70.043 pohon atau setara dengan luasan 700 hektare.

Kepala Bidang Produksi Hortikultura Dinas Pertanian Subang, Anang, menyebutkan sentra produksi manggis di Kabupaten Subang tersebar di Kecamatan Cijambe, Serangpanjang, Sagalaherang, Ciater, Jalan Cagak, Kasomalang, Cisalak, dan Tanjung Siang.

"Saat ini manggis banyak dijumpai di Kabupaten Subang terutama di sentra produksi manggis, seperti Kecamatan Serangpanjang, bervariasi dari tanaman muda hingga tanaman warisan. Produktivitasnya mencapai 50-100 kg per pohon untuk tanaman dengan usia 10-20 tahun," ujarnya.

Anang menambahkan untuk tanaman manggis berusia 50 tahun dapat mencapai 2 kuintal/pohon. Musim panen mulai pada akhir Februari-Mei dengan puncak panen raya terjadi di bulan Maret. Paling banyak dikembangkan adalah varietas Wanayasa.

Ia menambahkan, sejak dibukanya kembali keran ekspor ke Cina pada awal 2018, membawa angin segar bagi petani manggis di Indonesia termasuk di Subang. "Petani Subang berlomba-lomba untuk meningkatkan produktivitas dan mutu buah karena peluang masuk pasar Cina terbuka lebar dan tanpa dibatasi kuota," terang Anang semangat.

Sejak tahun 2017, Dinas Pertanian Subang telah memberikan bantuan benih manggis maupun bimtek kepada petani manggis di Kecamatan Segalaherang, Serangpanjang, dan Cisalak.

Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian, Liferdi Lukman, saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (21/1), mengatakan pihaknya sangat mendukung pengembangan manggis di Kabupaten Subang. Menurutnya,  tahun 2020 ini pihaknya  merancang alokasi APBN untuk pengembangan kawasan manggis di Subang seluas 90 hektare.

"Kementan juga memfasilitasi program pengembangan dan pemeliharaan manggis seluas 1.500 hektare senilai Rp172 miliar melalui dana Islamic Development Bank (IDB) yang dimulai tahun 2020. Tim kami bersama-sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Subang sudah turun ke lapangan untuk mengidentifikasi calon lokasi dan petaninya. Secara umum sesuai," ujar Liferdi.

Dia menyebutkan, pengembangan kawasan berbasis korporasi di Subang dilakukan untuk memacu ekspor. Ini merupakan bagian dari dukungan terhadap gerakan peningkatan ekspor tiga kali lipat (Gratieks) yang digagas Menteri Pertanian. Dalam program ini, ditargetkan pada 2024 terjadi lompatan ekspor tiga kali lipat.

Liferdi menambahkan, saat ini Kementan fokus mengembangkan komoditas buah-buahan yang berpotensi mampu mendukung program Gratieks. Komoditas yang didorong antara lain manggis, mangga, pisang, durian, nanas, buah naga, dan alpukat. Di samping itu juga komoditas buah lain dengan tujuan mengurangi impor, seperti lengkeng dan jeruk.

Lebih jauh,  kata Liferdi, tidak hanya pengembangan kawasan, Kementan juga fokus dalam meningkatkan mutu buah-buahan melalui kegiatan sosialisasi/Bimtek penerapan budidaya sesuai dengan kaidah GAP/SOP di lokasi-lokasi sentra produksi buah yang berpotensi ekspor. Selain itu,  ujarnya, Kementan juga terus mendorong sertifikat registrasi kebunnya. 

"Produksi manggis tahun ini diprediksi melimpah. Dukungan dari dinas dan pelaku usaha juga cukup baik. Saya optimis tahun ini Subang mampu meningkatkan ekspor manggis," kata Liferdi. 

Sementara itu, Asep, Ketua Gapoktan Laksana Barokah di Kecamatan Sagalaherang mengungkapkan manggis Subang saat ini banyak diburu oleh para eksportir manggis karena dikenal memenuhi standar mutu.

"Subang memiliki rumah kemas dengan izin dari OKKPD Provinsi Jawa Barat dengan Nomor: PH-32-13-0003-1118. Bahkan rumah kemas ini telah mendapat pengakuan dari Kementerian Pertanian Cina sehingga ekspor manggis bisa langsung dikirim langsung dari rumah tersebut," sebutnya. 

Asep merinci, pada 2018 sebanyak 481 ton manggis dari Subang telah dikirim langsung ke Cina melalui rumah kemas tersebut. Dia menargetkan tahun ini meningkat lagi karena diprediksi produksi akan melonjak.

Dirinya menjelaskan untuk penjualan ke luar negeri seperti Cina dan negara lainnya, manggis dibagi dalam tiga kelas. Ke tiga kelas itu berdasarkan ukuran berat per kilogram, yaitu kelas A4 (14 -15 butir), kelas A5 (10 -13 butir) dan kelas A6 (6-8 butir) dengan kondisi bersih, komplit (dengan telinga), bebas hama, dan penyakit, serta keburikan 0 persen.

“Saya senang dengan adanya ekspor manggis ke Cina. Harganya di Cina bagus, sangat menguntungkan. Untuk kualitas ekspor mencapai Rp 40-48 ribu per kg," jelasnya. (591)