Dengan Gedor Horti, Enrekang Siap Pacu Produksi Bawang Merah

Kamis, 13 Pebruari 2020, 13:04 WIB

Panen raya bawang merah di Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. | Sumber Foto: Humas Ditjen Hortikultura

AGRONET -- Kementerian Pertanian terus melakukan penataan sentra-sentra produksi bawang merah di seluruh pulau-pulau besar di Indonesia. Tujuannya agar pasokan dan harga komoditas yang rentan menyumbang inflasi tersebut bisa terjaga stabil sepanjang tahun.

Selain mematok target peningkatan produksi hingga 7 persen per tahun, Kementan juga terus mengkampanyekan gerakan produksi ramah lingkungan. Gerakan itu disebut Gedor Horti atau Gerakan Dorong Produksi, Daya Saing dan Ramah Lingkungan Hortikultura.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, dalam sambutannya yang dibacakan Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf, saat menghadiri panen raya bawang merah di Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (12/2), mengatakan Gedor Horti merupakan gerakan terpadu.

Menurutnya gerakan terpadu itu mengkombinasikan berbagai strategi untuk menggolkan target peningkatan produksi komoditas strategis sebesar 7% per tahun, gerakan tiga kali lipat ekspor atau Gratieks, penyerapan KUR Hortikultura Rp 6,3 triliun, kawasan pertanian ramah lingkungan, Kostratani,  hingga Agricultural War Room atau AWR," ujarnya.

Enrekang sebagai sentra bawang merah terbesar di Sulawesi, menjadi perhatian khusus Kementerian Pertanian. Turut hadir Bupati Enrekang, Staf Khusus Menteri Pertanian Luthfi Halide, pejabat pusat dan Muspida setempat.

Dia menambahkan Gedor Horti menjadi gerakan kolektif seluruh pemangku kepentingan hortikultura mulai dari level pusat hingga daerah. Fokus utamanya mengamankan ketersediaan dan harga komoditas strategis, yaitu cabai dan bawang merah. Komoditas hortikultura lainnya juga akan didorong untuk ekspor.

Menurutnya, Enrekang sebagai sentra bawang merah terbesar di Sulawesi, menjadi perhatian khusus Kementerian Pertanian. Berdasarkan pemetaan yang dilakukan pihaknya, Enrekang masuk dalam kategori kawasan utama, yang artinya telah mampu mencukupi kebutuhan bawang merah dari produksi setempat. "Bahkan surplus sehingga bisa memasok kebutuhan pasar di daerah sekitarnya bahkan antar-provinsi dan antar pulau," beber Prihasto.

Enrekang saat ini menempati posisi ke-5 nasional sebagai daerah penghasil bawang merah terbesar di Indonesia setelah Kabupaten Brebes, Nganjuk, Bima, dan Solok. Enrekang telah menjelma menjadi sentra bawang merah terbesar untuk daratan Sulawesi dan wilayah Indonesia bagian Timur.

Prihasto mengimbau dan mengajak kepada seluruh petani, petugas pembina, penyedia sarana produksi hingga seluruh stakeholder terkait, untuk benar-benar menerapkan prinsip-prinsip budidaya yang ramah lingkungan. "Kita ingin bawang merah Enrekang ini tidak hanya bisa berproduksi dalam hitungan sekian tahun, tapi bisa terus berproduksi hingga anak cucu nanti," tandasnya.

Staf Khusus Menteri Pertanian, Luthfi Halide, mengapresiasi petani Enrekang yang mampu menghasilkan bawang merah sepanjang tahun. Dia menjelaskan Enrekang bisa tanam bawang merah sepanjang tahun.

"Air, benih, dan teknologi sudah ada, tinggal melakukan budidaya tanaman sehat. Gunakan plastik mulsa dan plastik lindung. Insya Allah Enrekang siap mandiri, ” tutur Luthfi Halide optimis.

Luthfi menambahkan harga bawang merah berfluktuasi. Sarannya agar dilakukan pengolahan pada saat harga jatuh. Dia pun berharap Enrekang juga bisa menjadi pusat pembibitan untuk wilayah Indonesia Timur dan mendorong ditjen PSP agar membangun embung-embung di daerah sentra. Bawang merah Enrekang juga harus bisa masuk pasar modern.

"Dana KUR tersedia 50 triliun, bunganya cuma 6% per tahun. Bupati tolong menugaskan siapa yang akan menjadi offtaker untuk membeli hasil produksi supaya tidak ada lagi masalah pada saat panen,” kata pria yang pernah menjabat Kepala Dinas Pertanian Sulawesi Selatan ini.

Di sela-sela acara tersebut, Sri Wijayanti Yusuf, meminta para petani Enrekang untuk mempraktekkan tatacara budidaya bawang merah yang ramah lingkungan agar bisa bersaing di pasaran. Sri Wijayanti menyampaikan bahwa saingan ekspor bawang merah terbesar adalah Thailand dan Filipina.

“Kita harus bersaing di harga dan kualitas. Saya sudah melihat modernisasi di sini dengan penggunaan lampu yang bisa mengurangi penggunaan pestisida 40%. Penerimaan petani Enrekang terhadap teknologi cepat sehingga produktivitas bisa meningkat. Kurangi penggunaan bahan-bahan kimia, gunakan bahan alami. Benahi praktek budidaya tanaman sehat agar produk mampu bersaing," ujarnya.

Ia menerangkan utuk ekspor harus ada syarat BMR atau Batas Maksimal Residu. Masyarakat saat ini juga mencari yang organik. "Kalau ada logo organik, harga akan lebih mahal. Kementan akan terus mendukung, mari kita lakukan bersama-sama”, ujar Yanti penuh semangat.

"Kesadaran produksi bawang merah yang ramah lingkungan sudah semakin berkembang di sentra-sentra produksi, bahkan menjadi arus utama. Kita harus pastikan Enrekang tidak ketinggalan dengan arus utama tersebut," katanya.

Bupati Enrekang, Muslimin Bando, mengaku bersyukur daerahnya mampu menjadi salah satu sentra penghasil bawang merah terbesar. "Meski sebagian besar daerah ini berupa batu bertanah, tapi berkat kegigihan dan keuletan petani Enrekang, kawasan ini bisa menjelma menjadi penghasil bawang merah berkualitas bahkan terbesar di Sulawesi dan Indonesia bagian Timur," ujar Bando.

Enrekang juga dikenal sebagai penghasil aneka sayuran daun bahkan bawang putih. "Sejak dua tahun lalu, bawang putih mulai dikembangkan petani. Ternyata hasilnya sangat bagus. Kami siap bergandeng tangan dengan pemerintah pusat khususnya Kementerian Pertanian untuk menata dan memajukan daerah ini", tukas Bupati Bando.

Berdasarkan data BPS, luas panen bawang merah di Kabupaten Enrekang pada tahun 2019 mencapai 7.605 hektar, naik 15% dibanding tahun 2018 sebanyak 6.610 hektare. Peningkatan luas panen berbanding lurus dengan kenaikan produksi, di mana pada tahun 2019 mencapai 80 ribu ton, naik 8,7% dibanding produksi tahun 2018 sebanyak 73.581 ton. (591)