Riset Ungkap Penguatan Peran Penyuluh Pertanian Dinilai Tepat

Jumat, 14 Pebruari 2020, 20:32 WIB

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat berdialog dengan penyuluh melalui video confrence di pusat AWR Kementan, Jakarta. | Sumber Foto: Humas Kementan

AGRONET -- Program terobosan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam menguatkan peran penyuluh untuk menyebarkan inovasi pertanian dinilai tepat. Hal tersebut diungkap mahasiswa pascasarjana Univeritas Padjajaran, Vivit Wardah, pada sidang promosi program doktor di bidang ilmu komunikasi di Kampus Universitas Padjajaran, Bandung, Rabu (11/2).

Menurut Vivit, Kementan saat ini dapat mempertajam peran penyuluh dengan menempatkan mereka ke kluster terkecil komunitas petani di tingkat desa. "Selama ini sebagian besar penyuluh masih berada di bawah wewenang dinas-dinas provinsi dan kabupaten sehingga organisasinya seringkali berbeda setiap daerah. Ujung tombak penyuluh juga masih di tingkat kecamatan," ujar Vivit. 

Menurut dia, karakter petani di daerah yang ditelitinya membentuk kluster-kluster. Umumnya petani berinteraksi dalam kluster dengan posisi setara sehingga tidak ada yang saling mendominasi. Jarang sekali petani berinteraksi lintas kluster.

Vivit yang juga pustakawan di Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, Kementerian Pertanian itu menambahkan di dalam setiap kluster terdapat aktor-aktor sentral yang menjadi rujukan anggota di setiap kluster karena berperan sebagai opini leader. Mereka menjadi kunci penyebaran inovasi di petani.

Aktor sentral itu biasanya petani yang dipercaya dan memiliki mobilitas tinggi, seperti pemilik penyewaan traktor, pemilik penggilingan, atau ketua kelompok tani. Dari para aktor sentral itu penyebaran inovasi berlangsung secara personal. "Sifatnya komunikasi interpersonal, bahkan peran media massa dan media sosial masih rendah," kata Vivit.

Pada konteks itu, menurut Vivit, para penyuluh yang ditempatkan di setiap desa harus dapat menembus aktor sentral di setiap kluster. Aktor leader itu juga berperan sebagai jembatan penghubung antar kluster di sebuah wilayah.

Untuk diketahui, hasil riset Vivit itu terbatas pada petani di sebuah daerah yang umumnya berusia di atas 40 tahun yaitu di Majalengka. Riset Vivit berjudul: Jaringan komunikasi petani adopter teknologi tanam jajar legowo di Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka.

Riset di bawah bimbingan promotor Dr. Asep Suryana, MSi; Prof. Tuhpawana P Sendjaja, PhD; dan Dr. Dadang Sugiana, MSi. Hasil riset Vivit hanya cocok untuk daerah-daerah yang memiliki tipologi sama yaitu kluster-kluster petani dengan anggota yang egaliter. (591)