Peluang dan Harapan Sikomandan Papua Barat

Senin, 23 Maret 2020, 10:00 WIB

Kebijakan Nasional Sikomandan Kementerian Pertanian | Sumber Foto:Istimewa

AGRONET -- Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) masih menjadikan komoditas daging sapi sebagai salah satu targer swasemba.  Di Era Kabinet Kerja, Program ini bernama Upsus Siwab (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting).  Kini, Era Kabinet Indonesia Maju, istilah berubah menjadi Sikomandan (Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri).

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua Barat, Drh. Hendrikus Fatem, MP. menyebutkan, “Provinsi Papua Barat sangat berpeluang untuk mengembangkan Program Sikomandan dengan dukungan lahan yang memadai.”  Program penunjang disiapkan yang Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua Barat dengan membuat padang pengembalaan atau ranch

Ranch dipersiapkan untuk menampung sapi-sapi yang dilahir pada tahun 2020.  Sebanyak 9.760 ekor ditargetkan lahir anak sapi berdasar pada Surat Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan No. 02045/PK.010/F/01/2020 tanggal 2 Januari 2020 tentang data target akseptor Tahun 2020 dengan alokasi target Provinsi Papua Barat. 

Fatem merinci memalui program inseminasi buatan (IB) Kementan menargetkan 2.000 akseptor, dengan jumlah kebuntingan 1.400 ekor dan diprediksi akan lahir 1.260 anak sapi (pedet).  Sedangkan kawin alam, sebanyak 10.000 sapi akseptor dengan tingkat kelahiran 85%. 

Bukan target yang mudah.  Namun realisasi Pelaksanaan Upsus Siwab Provinsi Papua Barat Tahun 2019 tercatat target akseptor untuk Inseminasi Buatan sebanyak 1.000 ekor, terrealisasi 1.023 ekor.  Kebuntingan sapi target 700 ekor realisasi 855 ekor.  Jumlah kelahiran pun terpenuhi, dari target 560 pedet realisasi 673 pedet.

Berbagai upaya dilakukan demi terwujudnya realisasi pelaksanaan, seperti : pembuatan kandang jepit, pembuatan cattle yard portabel sebagai penamoung ternak yang akan diperiksa.  Bagi para petugas dilakukan sosialisasi cara pelaporan agar inseminator dapat melapor datanya secara tepat waktu ke isikhnas ( integrated sistem informasi kesehatan hewan nasional). 

Mengaktifkan kembali petugas teknis yang tidak aktif, menjalin kerjsa sama baik dengan penyuluh dalam pendataan akseptor KA ataupun pihak lain, seperti institusi pendidikan menjadi bagian terpenting teralisasinya target yang ditetapkan.

Keberadaan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari yang merupakan Pendidikan Tinggi Vokasi dibawah naungan Kementerian Pertanian menjadi solusi percepatan pengumpulan data.  Direktur Polbangtan Manokwari, drh. Purwanta, M.Kes menyampaikan, “Kami telah memprogramkan berbagai kegiatan untuk mendukung berjalannya Program Sikomandan.” 

Kegiatan Praktik Kerja Lapangan II yang rencananya akan dimulai April mendatang, melibatkan Mahasiswa semester enam untuk turun ke lapangan mengawal Program Sikomandan yang merupakan bagian dari Program Kostratani.  “Mengacu pada Surat Edaran Gubernur Papua Barat tentang Pencegahan Corona Virus dan Arahan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian untuk menunda kegiatan yang mengumpulkan banyak orang,” sebut Purwanta.

Purwanta beserta jajarannya akan mengkaji ulang kegiatan PKL yang telah dirancang.  Meski corona virus begitu cepat penyebarannya, dengan adanya sentuhan  teknologi informasi, Polbangtan Manokwari dapat turut menyokong keberhasilan Program Sikomandan Papua Barat.

Berkembangnya peternakan sapi dan kerbau yang ada Papua Barat menjadi harapan Faten dan juga Purwanta.  Kesejahteraan masyarakat pun akan terjamin jika semua pihak bahu membahu menyukseskan Program Sikomandan secara nasional, khususnya Papua Barat. (269)