Petambak Demak Berhasil Budidaya Kakap Putih di Air Payau

Selasa, 24 Maret 2020, 12:41 WIB

Para pembudidaya di Demak menunjukkan ikan kakap putih hasil budidaya di air payau. | Sumber Foto: Humas KKP

AGRONET -- Petambak ikan di Kabupaten Demak, Jawa Tengah berhasil membudidayakan kakap putih di tambak air payau. Mereka bisa panen kakap putih dengan produksi mencapai 3 ton per hektare. Kakap putih merupakan komoditas ikan laut ekonomis tinggi. Dalam perkembanganya ikan ini juga berhasil dikembangkan secara masal di tambak air payau.

Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara memilih Demak sebagai kawasan uji coba budidaya kakap putih di tambak. Bentuk dukungan yang disalurkan KKP berupa benih kakap putih sebanyak 200.000 ekor. Selain itu juga melakukan transfer teknologi budidaya secara intensif kepada para pembudidaya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto di Jakarta, beberapa waktu lalu (22/3) menyambut baik keberhasilan uji coba budidaya kakap putih di Demak tersebut. Slamet mengatakan saat ini pihaknya tengah mendorong kakap putih sebagai salah satu andalan komoditas ekspor.

"Kita lagi gencar-gencarnya untuk menggenjot nilai ekspor perikanan budidaya, dimana kakap putih akan menjadi andalan ke depan. Selain di laut, kami saat ini juga menginisiasi sentra pengembangan kakap putih di tambak, seperti di Pinrang, Sulawesi Selatan. Terbaru, kita akan dorong juga di Kabupaten Demak, Jawa Tengah," ungkap Slamet.

Dia tidak menampik adanya kekhawatiran dampak wabah Covid-19 sebagai pandemik global yang akan mempengaruhi kinerja ekspor dalam negeri. Namun, Slamet optimis hal tersebut tidak akan berlangsung lama. Menurutnya, produksi di hulu tetap jalan paling tidak untuk memenuhi konsumsi dalam negeri. Di samping itu, menurutnya, pemerintah akan memperkuat market intelejen untuk mencari kemungkinan ekspansi ekspor di luar negara tujuan ekspor utama.

Produktivitas Cukup Tinggi

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Ketua Kelompok Windu Jaya Satu, Ahmad Hidayat, di Desa Sidorejo, Kecamatan Sayung, mengatakan semua pembudidaya merasa senang dan puas dengan hasil panen kakap putih ini. Menurutnya, budidaya ini akan menjadi alternatif usaha yang menjanjikan.

Awalnya, kata dia, bantuan benih ikan kakap sebanyak 20.000 ekor yang diterima dari BBPBAP Jepara dipelihara di kolam pendederan hingga usia dua bulan dengan berat hingga 200-an gram per ekor. Kemudian baru dipindahkan ke kolam seluas 5 hektare untuk pembesaran.

Ahmad menjelaskan, selain mengeluarkan biaya untuk pembelian pakan buatan pabrik saat masih dipelihara di kolam pendederan, ia juga mengeluarkan biaya untuk pembelian ikan rucah atau ikan kecil-kecil dari tempat pelelangan ikan (TPI) sebagai upaya menekan biaya pakan. Upaya lain untuk menekan biaya pakan, yakni dengan menyiapkan pakan alami di kolam, berupa ikan berukuran kecil mulai dari jenis ikan nila maupun mujair.

Hasilnya, lanjut dia, dalam jangka waktu lima bulan sudah bisa dipanen secara parsial dengan berat ikan setiap ekornya mencapai satu kilogram. "Saya perkirakan total ikan yang bisa dipanen berkisar 3 ton lebih sehingga masih menguntungkan, karena biaya operasional dari pembelian pakan pabrik, ikan rucah hingga biaya pemeliharaan selama lima bulan berkisar Rp50 jutaan. Sedangkan hasilnya dengan harga jual Rp55.000 per kg bisa mencapai ratusan juta," ujarnya.

Sementara itu, Kepala BBPBAP Jepara, Sugeng Raharjo, yang juga hadir di Desa Sidorejo untuk melihat hasil panen ikan kakap putih mengaku senang dengan hasil yang dicapai petambak ikan. Apalagi, lanjut dia, kakap putih merupakan komoditas yang baru dikembangkan dengan tujuan bisa mengangkat perekonomian petambak ikan. Dia berharap, keberhasilan budidaya itu ditularkan kepada petambak lain, sehingga bisa ikut menikmati hasil budidaya ikan kakap putih.

Untuk ketersediaan benih kakap putih, kata dia, BBPBAP Jepara akan memperbanyak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat petambak. Benih kakap putih yang tersedia saat ini berkisar 50.000-an ekor dan masih bisa diperbanyak lagi. BBPBAP Jepara dalam memberikan bantuan benih memprioritaskan petambak yang memang memiliki keseriusan dalam budidaya ikan tersebut dan bertanggung jawab.

"Hal terpenting, petambak yang mendapatkan bantuan bibit ikan mengikuti standar operasional prosedur dalam pemeliharaannya. Hasilnya, berhasil membudidayakan dan sudah dipanen secara parsial," pungkas Sugeng. (196)