Aplikasi Kedai Tani Indonesia Resmi Dirilis, Permudah Masyarakat Akses Produk Hortikultura

Sabtu, 25 April 2020, 11:05 WIB

Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto (dua dari kiri) di sela-sela acara penandatanganan MoU antara Kementan, Kedai Sayur, dan Sub Terminal Agribisnis Cigombong di Cianjur, Jawa Barat, Senin (14/4).  | Sumber Foto: Humas Ditjen Hortikultura

AGRONET -- Pandemi Covid-19 membuat aktivitas publik terbatas. Di sektor pangan, pandemi cukup berdampak terhadap rantai distribusi komoditas strategis seperti hortikultura.

Patut dipahami karena akses petani maupun konsumen ke pasar induk atau ke pasar tradisional sudah sangat terbatas. Permintaan dari hotel dan restauran pun nyaris tidak ada. 

Petani muda milenial asal Cianjur, Sandi Octa Susila, yang bermitra dengan sekitar 385 petani memutuskan untuk melakukan penjualan secara online. Tujuannya untuk menjembatani para petani dan konsumen.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian SYL untuk senantiasa menggandeng pelaku usaha bisnis pertanian berbasis teknologi informasi (start up) dalam upaya pemasaran komoditas hasil pertanian.

Sandi menggandeng salah satu start up digital e-commerce di sektor pertanian yakni Kedai Sayur Indonesia, dan tentunya Kementerian Pertanian dalam hal ini Direktorat Jenderal Hortikultura.

“Kami tetap berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat dan mengakomodir hasi panen petani. Lewat penjualan online, kami juga sekaligus mendukung instruksi pemerintah (physical distancing),” ujar Sandi melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (25/4).

“Dengan cara online, masyarakat cukup berdiam di rumah. Kebutuhan sayuran kami antar,” lanjut alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Sandi memaparkan, Kedai Sayur Indonesia per kemarin resmi melaunching aplikasi berbasis android bernama “Kedai Tani Indonesia”. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat bisa bertransaksi aneka sayur mayur serta kebutuhan pelengkap lainnya di bidang pertanian.

“Alhamdulillah, kami sudah mendapat restu dari Kementerian Pertanian c.q. Direktorat Jenderal Hortikultura. Jika Layanan penjualan produk hortikultura berhasil dilakukan dengan aplikasi ini, maka akan segera dilakukan grand launching oleh Kementan untuk seluruh Pasar Tani di Indonesia,” beber Sandi.

Untuk menjamin keseragaman kualitas produk yang dipasarkan, Kedai Sayur Indonesia menggagas penyelenggaraan bimbingan teknis. “Fokusnya soal penanganan pascapanen produk dan tata cara distribusi untuk pengelola Pasar Tani seluruh Indonesia,” tambah Ahmad Supriyadi, Founder Kedai Sayur Indonesia.

Dirjen Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto, menyambut baik semangat anak muda seperti Sandi. Terutama untuk fokus untuk membantu pemasaran produk hortikultura. “Saya harap anak-anak muda lainnya bisa mengikuti jejak Sandi,” ujar Prihasto.

Anton - sapaannya - yakin skema penjualan online bisa membantu para petani secara signifikan. Pantauannya di lapangan, kebutuhan komoditas pertanian khususnya komoditas hortikultura meningkat signifikan.

“Permintaan pasar modern berkali-kali lipat. Ini tentu tantangan sekaligus peluang bagaimana sektor pertanian harus berada di garda terdepan di masa pandemi seperti sekarang, sebagaimana arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL),” beber Anton.

Hal senada diungkapkan Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Kementan, Yasid Taufik. Dia berharap penjualan dan distribusi hasil hortikultura yang berkualitas dari petani ke konsumen bisa dilakukan dengan baik.

“Harganya wajar. Standard kualitas produknya bisa dipertanggungjawabkan,” pungkas Yasid. (591)