Antisipasi Kemarau, Kementan Dorong Pengembangan Pangan Lokal

Senin, 11 Mei 2020, 10:35 WIB

Pemanfaatan pekarangan oleh kelompok wanita tani guna meningkatkan gizi dan pangan keluarga, dan dapat menambah pendapatan ekonomi rumah tangga. | Sumber Foto: Humas BKP Kementan

AGRONET -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meramalkan Indonesia akan segera memasuki musim kemarau. BMKG menyebut musim kemarau tahun ini akan menjadi musim kemarau terkering dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam rapat terbatas pekan lalu (5/5) memerintahkan jajarannya untuk mengantisipasi hal tersebut. Berdasarkan prediksi BMKG, 30 persen daerah akan mengalami kemarau pada zona musim ke depan. Oleh sebab itu, tegas Jokowi, antisipasi dan mitigasi harus betul-betul disiapkan sehingga ketersediaan dan stabilitas harga bahan pangan tidak terganggu.

Merespon arahan Presiden, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan telah menyiapkan sejumlah strategi dalam menghadapi kekeringan panjang. Langkah tersebut antara lain mempercepat musim tanam dengan memanfaatkan ketersediaan air hujan, mempercepat penyediaan benih, pupuk, obat-obatan, dan menyiapkan sejumlah wadah penampung air yang nantinya bisa mengairi area pertanian. Ketersediaan air pun bisa dipastikan tetap ada meski terjadi kekeringan.

Selain itu, Kementan juga mendorong pengembangan pangan lokal sebagai salah satu strategi ketahanan pangan. Ini bertujuan agar pangan tetap terjaga di tengah pandemi dan menghadapi kekeringan.

Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi, mengatakan pihaknya mendorong masyarakat untuk mengonsumsi pangan lokal dan tidak tergantung pangan impor. "Kita mencoba mendorong masyarakat Indonesia mengonsumsi pangan lokal. Kalau makan buah dan sayuran jangan yang impor lah, sehingga pangan lokal ini akan berjaya," ujar Agung saat dihubungi, Sabtu (9/5).

Agung menggarisbawahi yang dimaksud pangan lokal tidak terbatas pada komoditas pangan tertentu. Pangan lokal menurut Agung adalah semua komoditas pangan yang ditanam atau diproduksi di dalam negeri.

“Pangan lokal tidak terbatas sagu singkong. Semua produksi pangan dari dalam negeri itu pangan lokal, sayuran, buah-buahan, dan lainnya. Kita makan pangan yang kita hasilkan sendiri. Lupakan impor, kembalilah ke pangan lokal kita,” ujar Agung.

Ditambahkan Agung, di tengah kondisi pandemi saat ini, masyarakat harus mampu menyediakan pangan sendiri, harus mampu memproduksi sendiri, karena kecenderungan setiap negara mengutamakan kebutuhan pangan dalam negeri.

“Kekuatan ketahanan pangan menghadapi kondisi pandemi dan kekeringan mendatang terletak di ketahanan pangan keluarga. Karena itu kita dorong masyarakat untuk mampu memproduksi pangan sendiri dari pekarangan mereka,” pungkas Agung.

Karena itu, Kementan juga memfasilitasi program family farming (pertanian keluarga) yang tujuannya selain untuk menggerakkan ekonomi, juga agar masyarakat mampu menyediakan pangannya sendiri.

"Lalu ada program family farming, pekarangan pangan. Kenapa itu kita lakukan, sekarang kita tahu pandemi Covid-19 ini banyak orang nganggur, orang tidak bisa pulang kampung nganggur. Oleh karena itu kita bantu dengan kegiatan family farming, pemanfaatan pekarangan pangan. Kita berikan bantuan modal untuk mereka menggerakkan ekonomi, paling tidak mereka mampu menyediakan pangan untuk dirinya," jelas Agung.

Agung pun optimis bila seluruh upaya itu berjalan baik, maka stok pangan di Indonesia akan aman sampai Februari 2021 mendatang. "Dengan berbagai strategi tadi Insyaallah kita aman sampai Desember bahkan Februari (2021), kalau ini semua berjalan sesuai dengan yang kita harapkan," pungkasnya. (591)