Jurus Kementan Antisipasi Jatuhnya Harga Cabai

Selasa, 12 Mei 2020, 11:16 WIB

Kementan memfasilitasi cool storage di beberapa wilayah untuk petani guna menyimpan hasil panen cabai, yang akan dijual kemudian saat harga membaik. | Sumber Foto: Humas Ditjen Hortikultura

AGRONET --  Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyampaikan pihaknya kini tengah fokus pada penyediaan 11 (sebelas) bahan pokok penting. Langkah tersebut agar masyarakat mendapatkan kepastian pangan di tengah pandemi COVID-19 serta mengantisipasi agar tidak terjadi gejolak harga menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Cabai yang merupakan salah satu dari 11 (sebelas) bahan kebutuhan pokok dan penting kini sudah tersedia berlimpah. Sebagian besar wilayah sentra mulai panen raya sejak bulan April lalu dan diprediksi panen berlangsung hingga Juli mendatang.

Melimpahnya hasil panen tersebut ternyata tidak sebanding dengan permintaan pasar saat ini akibat kebijakan PSBB di beberapa daerah tujuan pasar. Akibatnya terjadi kelebihan pasokan yang berdampak pada jatuhnya harga sehingga petani kekurangan modal untuk menanam kembali.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto, mengungkapkan kondisi saat ini di luar prediksi karena sebelumnya pihaknya sudah mengatur pola tanam dan membuat peringatan dini dalam bentuk data Early Warning System (EWS) yang dikirimkan ke seluruh wilayah setiap bulan.

"Tujuannya tak lain untuk mencegah terjadinya over supply. Namun yang terjadi saat ini adalah kejadian di luar kendali kami,” tanggap Anton melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (9/5).

Meski demikian, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan saat ini sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan jatuhnya harga. Diantaranya, kata Prihasto, sistem tunda jual yang sudah disosialisasikan kepada Petugas Dinas Pertanian dan Petani Champion cabai di seluruh wilayah sentra sejak awal bulan April.

"Teknisnya Direktorat Jenderal Hortikultura memfasilitasi sewa cool storage di beberapa wilayah yang dapat digunakan petani untuk menyimpan hasil panen petani. Nanti dijual ketika harga sudah membaik. Kami juga fasilitasi biaya distribusi dari daerah produksi surplus ke daerah minus," kata pria yang akrab disapa Anton itu.

Anton juga berpesan agar petani lebih cerdas dan tidak kaku dalam berbudidaya. Misalnya dengan pola budidaya tumpangsari. "Jadi tidak hanya menanam cabai saja, tapi tumpangsari dengan komoditas lainnya, sehingga jika harga cabai jatuh masih ada pemasukan dari komoditas lain yang masih memberikan keuntungan," ungkap Anton.

Tidak hanya itu, dalam rangka mendukung program penanganan dampak COVID-19 terhadap kelompok tani. Direktorat Jenderal Hortikultura telah merelokasi anggaran untuk memfasilitasi bantuan benih hortikultura. Bantuan antara lain berupa benih cabai, benih buah-buahan, dan sayur-sayuran lainya.

Berdasarkan data EWS bulan Agustus hingga Oktober mendatang, produksi khususnya untuk aneka cabai diprediksi akan mengalami surplus nasional yang sangat tipis, hanya sekitar 5 ribu-9 ribu ton pada bulan September-Oktober. Hasil produksi tersebut dampak dari mulai terjadinya musim kemarau dan menurunnya minat tanam petani karena rendahnya harga yang terjadi saat ini.

"Hal tersebut menjadi perhatian pemerintah. Sehingga dengan kebijakan bantuan benih yang diberikan, kami berharap petani tetap dapat menamam pada bulan Mei-Juni ini sehingga produksi cabai nantinya dapat memenuhi permintaan pasar," tutup Anton. (591)