Peran Akademisi Kementan Percepat Panen Sayuran

Minggu, 17 Mei 2020, 09:22 WIB

Satya Vidarma, Mahasiswa Polbangtan Manokwari, dalam pengolahan tanah di Lahan Praktik Polbangtan Manokwari, Anday, Papua Barat | Sumber Foto:Istimewa

AGRONET – Pertanian menjadi peluang usaha yang menjanjikan di tengah pandemi covid-19.  Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyebutkan, “Dengan mengkonsumsi sayur dan buah lokal dapat menjaga stamina dan daya tahan tubuh dari paparan covid-19.”

Melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian (BPPSDMP Kementan) kolaborasi antara petani dengan akademisi untuk menyediakan pangan berkualiatas terus dilakukan.  “Pendidikan vokasi pertanian ditujukan untuk mencetak petani milenial yang berkualitas dan menghasilkan produk kualitas ekspor,” sebut Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi.

Bercocok tanam di tengah pandemi membutuhkan percepatan panen, dikarenakan permintaan pasar lokal meningkat. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membatasi pergerakan termasuk pendistibusian pangan.  Bersinarnya petani lokal menjadi peluang kejayaan pertanian.

Hal ini yang ditangkap oleh para generasi tani milenial Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari.  Jauh sebelum gencarnya penyebaran Covid-19, Mahasiswa tingkat akhir Program Studi Pertanian Berkelanjutan diantarnya : Elia Baransano, Andy Kakyarmabin, Jose Felix Windesi dan Petrus Selestinus Peten telah merancang sebuah penelitian budidaya kangkung dan sawi agar tumbuh optimal.

Instan, mudah, dan cepat memperoleh keuntungan, itulah dasar yang diambil dalam memilih komoditi kangkung dan sawi. Dalam waktu 21 hari, kangkung sudah dapat dipanen.  Sedangkan sawi membutuhkan waktu 40 hari. 

Di bawah bimbingan Carolina Diana Mual dan Yuliana Ataribaba, para mahasiswa meneliti tumpang sari, jarak tanam, pengunaan pupuk organik pada tanaman yang paling mempengaruhi percepatan tanam dan meminimalisir biaya.  Hasil penelitian selanjutnya akan dilakukan penyuluhan kepada masyarakat. 

Mengawalai kegiatan, Petrus Selestinus Peten atau akran disapa Peten melalukan pengemburan lahan pada Minggu (17/5) di Lahan Praktik Polbangtan Manokwari, Anday, Papua Barat.   Satya Vidarma dan Sarlan, mahasiswa semester IV pun turut membantu.  Nampak dalam pengolahan lahan, para generasi tani milenial sudah menggunkan alat mesin pertanian atau alsintan.  “Kami mengkolaborasikan pengunaan alat, mesin digunakan untuk mengangkut dan memecahkan tanah, sedangkan skop untuk membuat drainase,” sebut Satya.

Pemanfaatan alsinta, selain hemat biaya, hemat tenaga, dan juga mempercepat proses pengolahan lahan.  Jika waktu pengolahan lahan semakin singkat, proses percepatan panen juga kan terjadi khususnya sayuran. (269)