Industri Keripik Tempe Khas Malang Terpuruk

Jumat, 22 Mei 2020, 11:59 WIB

Gambar Ilustrasi. | Sumber Foto: Istimewa

AGRONET -- Keripik tempe menjadi salah satu oleh-oleh khas Kota Malang. Wisatawan atau warga pendatang kerap menjadikan camilan ini sebagai buah tangan.

Namun di tengah pandemi COVID-19, industri keripik tempe Malang terpuruk. Para pengrajin tempe yang berada di sentra industri Sanan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, menderita kerugian lantaran produksinya terhenti sejak adanya imbauan di rumah saja.

Jayanti, seorang pengrajin keripik tempe mengungkapkan, segmen utama pembeli produk camilan gurih nan renyah ini mayoritas wisatawan. Namun ketika seluruh tempat wisata ditutup, keripik tempe produksinya jadi tak laku. 

Menurutnya, usaha keripik tempe di Kampung Sanan rerata berhenti produksi sejak akhir Maret atau setelah pemerintah memberikan imbauan untuk di rumah saja. Apalagi, tempat wisata di Malang Raya ditutup total. “Produk kami tidak terbeli karena tidak ada wisatawan yang datang,” katanya, Jumat (22/5).

Karena produknya tidak terbeli, maka pengkajian keripik tempe ini terpaksa membakar sedikitnya 10 karung keripik. “Kemarin dibakar karena tidak laku, keripiknya jadi tidak layak dikonsumsi,” ungkapnya. 

Padahal biasanya, di momen lebaran seperti saat ini para pengrajin panen rejeki. Sebelum pandemi COVID-19 menyerang, Jayanti bisa memproduksi 3 kuintal keripik dalam sehari. “Biasanya saya memasok ke beberapa toko oleh-oleh di Malang, sekarang produksi berhenti total. Kalau ada pesanan baru bikin,” ujar Jayanti.

Ia pun berharap pandemi virus corona segera berakhir, sehingga para pengrajin keripik tempe di Sanan bisa kembali produksi untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. “Saya hanya mengandalkan usaha rumahan membuat keripik tempe, kalau kondisinya seperti saat ini tidak asa pemasukan. Semoga segera normal lagi,” pungkasnya.  (KBRN/591)