Teh Putih Bantu Imun Tubuh Tetap Tinggi

Sabtu, 23 Mei 2020, 12:17 WIB

Pelaku usaha dan pekebun terus berkreasi mengembangkan olahan teh sehingga memiliki nilai daya saing dan kualitas mutu yang baik serta berkelanjutan sehingga diminati pasar dunia. | Sumber Foto: Ditjenbun

AGRONET -- Siapa yang tak kenal dengan teh, baik dari khasiatnya bagi kesehatan tubuh maupun beragam produk olahan yang dihasilkan dari teh terus bermunculan. Pelaku usaha dan pekebun terus berkreasi mengembangkan olahan teh sehingga memiliki nilai daya saing dan kualitas mutu yang baik serta berkelanjutan sehingga diminati pasar dunia.

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), bahwa perlu melakukan inovasi-inovasi teknologi terhadap komoditas pertanian termasuk komoditas perkebunan. Kemudian menggenjot peningkatan produksinya sehingga memiliki peningkatan mutu dan kualitas dalam rangka upaya mendorong peningkatan ekspor komoditas pertanian.

Demi memenuhi kebutuhan pasar teh tersebut, walau di tengah pandemik COVID-19 ini, pekebun teh tak patah semangat, tetap bertahan dan tekun memelihara kebun teh, dengan harapan daun teh ini bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. “Untuk produksi teh di tengah pandemi ini, kami masih tetap bekerja. Pekebun kita selalu menggunakan masker karena udara dingin, dan ketika memetik tetap memperhatikan jarak, selalu berjauhan serta selalu memakai sarung tangan,” kata Ifah Syarifah pemilik Arafah Tea saat di hubungi oleh Ditjen Perkebunan (18/05).

Ifah Syarifah, menyampaikan bahwa teh putih adalah satu-satunya jenis teh yang paling utuh kandungan nutrisi daun tehnya. “Minum tiap hari untuk menjaga imun tetap tinggi, badan terlindungi dari bakteri, virus, dan racun-racun. Selain itu juga bisa memperbaiki sel yang rusak karena antioksidan tinggi yang ada dalam teh putih. Semua kebaikan nutrisi teh utuh dalam teh putih,” katanya.

Saat pagi hari, lanjut Ifah, para pekebun memetik kuncup-kuncup teh yang belum mekar, karena sebagai bahan baku teh putih. “Teh putih dipersiapkan natural tanpa proses mesin. Pembuatan teh putih hanya dengan sinar matahari. Pekebun tentunya menjaga kualitas daun teh agar tetap higenis, mulai dari pemetikan daun tehnya, mereka menggunakan sarung tangan,” katanya.

Ifah menambahkan bahwa, sekitar jam 10 pagi daun segar pucuk teh itu harus sudah sampai di rumah produksi, lalu secepatnya dijemur sinar matahari. Diloyang stainles yang ada sirkulasi udaranya, pucuk-pucuk itu disimpan dan ditata, ditutup kelambu supaya aroma teh tidak terbang. Hanya sampai jam 12 siang saja dikeringkan dengan sinar matahari.

Selanjutnya dipindahkan ke pengeringan kedua yaitu rak-rak dengan cahaya lampu dengan memakai timer. Setiap 3 jam sekali di balik. Rak-rak tersebut diselimuti kelambu untuk mempertahankan aroma & tetap higienis. Sampai kadar air maksimal 7%, memerlukan waktu hingga 2 hari. Kemudian dimasukkan kemasan kedap sinar matahari. Disimpan di lemari gudang dengan suhu udara stabil. 

“Teh putih yang bagus terlihat putih keperakan dengan bulu-bulu halus yang masih terlihat utuh. Ketika dimakan tehnya terasa renyah dan aroma tehnya seperti harum bunga. Uniknya ketika diseduh perlahan teh tersebut pada berdiri dan daunnya segar lagi utuh seperti pertama dipetik, rasanya lembut manis,” tambahnya.

Menurut Ifah, pucuk-pucuk teh sebagai bahan baku teh putih diperoleh dari kebun-kebun teh yang terawat. Rutin dipangkas dan dipetik secara teratur. Karena rutinitas siklus pemetikan yang baik di kebun, maka tinggi tanaman tampak seragam, tampak indah bagai hamparan permadani.

“Terima kasih para pemetik teh, karena dari tangan-tangan kalianlah kita bisa meminum teh putih yang baik, dan juga pemandangan yang indah. Dengan adanya COVID-19 ini awal kita mengubah budaya. Kita harus bangkit," katanya.

"Sistem informasi teknologi itu sangat penting apalagi disaat pandemi seperti ini. Sudah sejak awal Arafah Tea memakai sistem IT dalam memonitoring partnership, bahkan monitoring produksi. Jadi kami selalu tetap kerja. Saya pun menggunakan laptop untuk mengawasi pegawai yang kerja. Saat ini iklan online dan edukasi itu sangat penting,” tambahnya.

Pada kesempatan berbeda, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono, mengapresiasi berbagai upaya para pekebun yang tetap konsisten menjaga pasokan maupun produksi dan produktivitas komoditas perkebunan apalagi ditengah pandemi ini. Tentunya dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan tetap berada pada koridor keberlanjutan, baik keberlanjutan usaha secara teknis maupun keberlanjutan lingkungan. (Ditjenbun/357)