Kembangkan Cold Chain, Komoditas Hortikultura akan Lebih Bersaing di Pasar Ekspor

Senin, 22 Juni 2020, 06:53 WIB

Dengan cold chain kualitas produk hortikultura akan dapat meningkat dan mampu bersaing di pasar ekspor. | Sumber Foto:Humas Ditjen Hortikultura

AGRONET -- Kementerian Pertanian (Kementan) optimis program gerakan tiga kali eskpor (Gratieks) bisa tercapai. Ini didasarkan dari sisi produk dan peluang pasar ekspor sangat besar. Namun demikian, pandemi COVID-19 berdampak serius terhadap distribusi dan penyimpanan bahan pangan khususnya produk hortikultura yang bersifat mudah rusak.

Diversifikasi pangan dan digitalisasi rantai pasok merupakan kunci untuk membangun daya tahan dan efisiensi rantai pasok produk hortikultura agar tetap mampu bersaing dengan negara lain. “Kita butuh penanganan pascapanen hortikultura yang lebih baik, higienis, dan menjamin kesegaran produk sehingga mampu bersaing. Salah satu kebijakan Kementan saat ini adalah pengembangan rantai beku. Anggaran sudah turun dan akan ada pengadaaan rantai dingin sebanyak 40 unit CAC,” ujar Bambang Sugiharto, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Ditjen Hortikultura, dalam Diskusi PanganTalk#3, Sabtu, (20/6).

Dalam diskusi melalui webinar yang bertemakan: ”Tantangan dan Peluang Pengembangan Rantai Beku Komoditas Hortikultura”, Bambang menjelaskan Indonesia secara geografis diuntungkan sebagai negara tropis dan mampu menghasilkan produk hortikultura yang melimpah. Saat ini tercatat Indonesia sebagai produsen buah dan sayur nomor 3 terbesar di dunia.

Namun tantangannya adalah susut produk hortikultura tinggi, rata-rata 50% setelah panen. Besarnya susut ini akan berpengaruh pada margin dan daya serap konsumen. “Strategi utamanya adalah cold chain. Ini penting untuk mempertahankan kualitas produk pangan hortikultura. Selain itu, kita juga sudah lalukan beberapa program," jelas Bambang memberi solusi.

Lebih rinci, Bambang memberikan solusi, yakni: Pertama, pengembangan pascapanen yang dilengkapi dengan sarana seperti keranjang panen, precooling, sortasi, timbangan, sarana pengemasan, dan pengangkutan.Kedua, revitalisasi sub terminal agribisnis melalui cold storage, sarana pengemasan, pemasaran online, dan pengangkutan berpendingin. "Terakhir optimalisasi pasar tani dengan kelengkapan cold storage, showcase, dan pemasaran online," jelas dia.

Senada dengan Bambang, Muhammad Makky, Ketua LPPM dan Dosen Teknik Petanian Universitas Andalas, berpendapat sistem rantai beku untuk komoditas hortikutura memungkinkan umur simpan yang lebih lama, sehingga kehilangan produk yang bernilai ekonomi dapat dikurangi. Tantangannya adalah manajemen suhu produk dari lahan sampai konsumen, khususnya setelah panen.

“Rantai beku yang ada saat ini hanya di tiga titik, yaitu pedagang besar, grosir, eksportir, dan agen. Sedangkan produsen hortikultura umumnya berskala kecil dan tidak memiliki kemampuan finansial untuk menerapkan rantai beku,” kata Makky.

Pada aspek teknis, kecepatan proses pembekuan produk dan suhu penyimpanan khususnya pada transportasi belum standar. Akibatnya, kualitas produk yang disimpan menurun dan kalah bersaing karena biaya simpan tinggi. “Ini bisa kita atasi dengan teknologi deep freeze yang memiliki keunggulan dari segi biaya dan kualitas suhu penyimpanannya. Kuncinya saat ini ada dua,  pertama, cold chain yang mampu mempertahankan kualitas produk lebih bagus. Kedua, memiliki rantai digital, artinya mampu dilacak kualitas, waktu, dan distribusinya,” jelas Makky.

Pentingnya Cold Chain Komoditas Hortikultura

Bugie Pudjotomo, dari Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia, juga berpandangan cold chain pada produk hortikultura selain meminimalisir potensi kerugian pascapanen dan loss of weight dan quality pada masa simpan, juga berdampak pada aspek lainnya. "Mulai dari peningkatan kualitas kesegaran, stabilitas suplai, daya tawar petani, dan perluasan jangkauan distribusi," kata dia.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, dalam beberapa kesempatan mengatakan sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk peningkatan kualitas pascapanen dan pemasaran, pihaknya telah lakukan lima strategi. “Pertama peningkatan diplomasi perdagangan, promosi, investasi, dan ekspor.

"Kedua, peningkatan sertifikasi Good Agroicultural Practice (GAP), Ketiga Good Handling Practices (GHP), serta organik. Keempat, pengembangan kemitraan usaha, dan kelima peningkatan registras kebun/lahan usaha serta packing house,” ujar Anton, sapaan akrabnya.

Acara Webinar PanganTalk#3 oleh Pangan Institute.id dihadiri oleh Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia ASHARE Indonesia Chapter, Sekretaris LPPM Universitas Andalas, Peserta dari BPTP Jambi, BPTP Kalbar, BPTP Bengkulu, dan Agroindustrial Tech. Dept. of UISI. Hadir juga, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan Metro Lampung, Dinas TPHP Kalteng, Analis PMHP, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Lampung,  Dispang dan Horti Kaltim,  Ditjen PKH Kementan, BUTTMKP Bekasi, Stiper Dharma Wacana Metro Lampung, Universitas Semarang, BBPPMBTPH, dan civitas akademika. (591)