Pentingnya Hilirisasi Lada

Selasa, 30 Juni 2020, 08:05 WIB

Untuk meningkatkan nilai jual komoditas lada perlu sinergitas yang kuat antara pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, dan industri. | Sumber Foto:Ditjenbun Kementan

AGRONET -- Pandemi COVID-19 turut mempengaruhi perdagangan komoditas perkebunan terutama masalah dinamika harga. Khususnya, beberapa sentra produksi lada di Babel, Lampung, Sulsel, dan daerah lainnya mengalami fluktuasi harga ditingkat domestik. Pada Mei lalu tercatat harga lada putih sebesar Rp46.360 per kg dan lada hitam Rp25.900 per kg.

Demikian disampaikan Dedy Junaedi, Direktur Pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan, Kementan. Menurutnya, pada tahun 2016 lada pernah mencapai masa jaya hingga 150 ribu per kg. Namun di tengah pandemi ini harga lada pun terkena dampaknya. Dinamika harga ini melanda hampir semua komoditas perkebunan.

Lanjut Dedy, tentunya saat ini, pemerintah tidak tinggal diam. Kementerian Pertanian tetap berupaya, salah satunya dengan menyiapkan langkah-langkah antisipatif, seperti mendorong penyerapan dalam negeri, dan membuka akses pasar di negara-negara non tradisional. Kemudia beberapa kebijakan di sektor hulu diantaranya fasilitasi bantuan pengembangan lada melalui bantuan benih dan saprodi. Di samping itu, perlu sinergitas yang kuat antara pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, dan industri untuk menjawab persoalan tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perkebunan menyikapi persoalan harga lada ini dengan mendorong penguatan kelembagaan petani. “Pada dasarnya kelembagaan petani menjadi salah satu solusi dalam posisi tawar petani terhadap dinamika harga, tentunya kelembagaan dengan menjalin kemitraan yang kuat dengan industri/pelaku usaha,” kata Kasdi Subagyono, Direktur Jenderal Perkebunan pada keterangannya pekan lalu. 

Harga yang kompetitif, lanjut Kasdi, akan terbentuk karena adanya mutu yang dihasilkan oleh petani berdasarkan standar yang ada. “Terkait harga lada yang menurun dapat diatasi, salah satunya dengan meningkatkan produktivitas, tentunya dengan inovasi teknologi pemeliharaan, intensifikasi, GAP, dan lainnya,” tambahnya.

Berdasarkan data Ditjen Perkebunan, produktivitas lada nasional rata-rata mencapai sebanyak 500 kg/ha.  “Dengan provitas naik, maka bisa mengatasi tingginya biaya faktor produksi di penanaman lada di tengah harga lada yang fluktuatif. Selain itu, pemerintah mendorong integrasi tanaman lada dengan ternak (pemanfaatan tajar hidup dari lamtoro untuk pakan ternak) dan tanaman pangan lainnya sehingga bisa membantu pemasukan petani,” ujarnya.

Kasdi menekankan, penting untuk hilirisasi komoditas lada, tidak hanya menjual lada utuh tetapi lada bubuk dengan nilai tambah tinggi. Bantuan alat pengolahan juga telah pemerintah fasilitasi. Fasilitasi pemda juga perlu didorong untuk mengatur distribusi dan tataniaga lada di sentra produksi.

Lanjut Kasdi, dapat juga memanfaatkan fasilitasi Sistem Resi Gudang (SRG) dari Commodity Futures Trading Regulatory Agency (BAPPEBTI) atau sistem tunda jual saat panen raya, stock melimpah, dan harga belum remuneratif. “Selain itu peran penyuluhan dan penguatan kelembagaan petani melalui kemitraan usaha dengan industri turut menjadi faktor penting dalam akselerasi pengembangan sosial ekonomi petani,” katanya. (Ditjenbun/357)