Antisipasi Dampak Kemarau, Kementan Siapkan Strategi

Kamis, 30 Juli 2020, 08:52 WIB

Penyaluran bantuan mesin pompa kepada petani di Provinsi Aceh. | Sumber Foto:Humas Ditjen Hortikultura

AGRONET -- Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), beberapa daerah di Indonesia memasuki musim kemarau. Prediksi awal musim kemarau terjadi pada Mei dan puncaknya pada Agustus 2020. Menghadapi situasi itu, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Hortikultura sigap dalam mendukung pengamanan produksi hortikultura.

Dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, menurut BMKG, sebanyak 30 persen diperkirakan mengalami kemarau lebih kering dari situasi normal, yaitu sebagian Aceh, sebagian pesisir timur Sumatera Utara, sebagian Riau, Lampung bagian timur, Banten bagian selatan, sebagian Jawa Barat, serta Jawa Tengah bagian tengah dan utara. 

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, dalam keterangannya, Rabu (29/7) menyampaikan bahwa untuk menjaga pertanaman dari dampak perubahan iklim, maka dukungan dinas pertanian melalui petugas lapang sangat penting peranannya. 

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, agar Kementan hadir dalam mengamankan ketersediaan bahan pokok penting (Bapokting), khususnya cabai dan bawang merah dalam memenuhi kebutuhan 267 juta jiwa masyakat Indonesia. Tujuannya untuk meminimalisir kehilangan hasil akibat dampak perubahan iklim (kekeringan).

Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf, menjelaskan bahwa kebijakan Direktorat Perlindungan Hortikultura selaku pembina dan pelaksana pengelolaan dampak perubahan iklim bertujuan untuk mengamankan produksi hortikultura melalui adaptasi dan mitigasi. Target lokasinya adalah sentra hortikultura yang rawan terkena kekeringan dan banjir.

Direktorat Perlindungan Hortikultura juga telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam rangka antisipasi dampak perubahan iklim terhadap komoditas hortikultura di seluruh Indonesia.

"Kekeringan merupakan situasi yang hampir setiap tahun terjadi, terutama di daerah rawan. Bencana kekeringan cenderung terus meningkat, baik frekuensi, intensitas, maupun distribusi kejadiannya. Kejadian kekeringan tersebut sangat nyata berpengaruh terhadap sub-sektor hortikultura," ungkap Yanti.

Sementara itu, Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Aceh, Iriana Ismida, mengatakan untuk menghadapi dampak perubahan iklim tersebut, mereka telah melakukan langkah-langkah antisipasi dengan memberikan bantuan berupa pompa air. Menurutnya, dampak perubahan iklim merupakan dampak yang ditimbulkan akibat terjadinya variabilitas iklim, antara lain banjir dan kekeringan.

Pengamatan oleh petugas bertujuan untuk mengetahui luas kerusakan akibat dampak perubahan iklim serta faktor-faktor yang berpengaruh. Selanjutnya dianalisis untuk menentukan langkah-langkah penanggulangan yang tepat.

"Menghadapi musim kemarau, kami telah melakukan langkah antisipatif untuk daerah yang sering mengalami kekeringan seperti Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Aceh Besar yakni melalui bantuan pompa air," jelas Iriana.

Adapun penerima bantuan tersebut adalah dari kelompok tani Merak Jaya, Desa Gelanggang Merah, Kecamatan Peureulak Timur, Kabupaten Aceh Timur, dan kelompok tani Taruna Tani, Desa Kuta Karang, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar. Petani setempat bersyukur dan berterima kasih kepada Kementerian Pertanian dan BPTPH Aceh yang telah menyalurkan bantuan pompa air melalui program antisipasi dampak perubahan iklim.

Alhamdulillah, dengan adanya bantuan pompa air, kami bisa bertanam sayuran saat musim kemarau dan tidak perlu khawatir lagi kekurangan air," ungkap Hamdani, dari kelompok tani Merak Jaya yang merasakan manfaat dari bantuan pompa air tersebut. (357)