Kabupaten Batang Siap Jadi Sentra Bawang Putih Nasional

Minggu, 23 Agustus 2020, 16:26 WIB

Panen perdana bawang putih APBN 2020 di Kabupaten Batang. | Sumber Foto:Humas Ditjen Hortikultura

AGRONET -- Setelah sukses melakukan dua kali ekspor bawang putih ke Taiwan, kali ini Kabupaten Batang, Jawa Tengah, melakukan panen bawang putih tepatnya di Desa Pranten, Kecamatan Bawang, dengan produktivitas yang cukup mencengangkan, 17 ton per hektare. Angka ini jelas membanggakan karena sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo guna meningkatkan potensi produksi komoditas pertanian yang bermutu, berkualitas dan ramah lingkungan.

Program tanam bawang putih di Kabupaten Batang ini sebenarnya telah berjalan kurang lebih dua tahun. Berawal di tahun 2018 seluas 50 hektare, disusul 2019 seluas 275 hektare. Kini pada 2020 mendapatkan kembali alokasi tanam 115 hektare.

“Kami yakin dengan budidaya yang baik akan memberikan hasil yang bermanfaat. Kabupaten Batang selalu melakukan ekspansi lahan baru. Luasan yang ada sekarang ini 115 hektare dan akan terus kami perluas,” ujar Wakil Bupati Batang, Suyono saat melakukan panen perdana APBN 2020, Sabtu (22/8).

Suyono meyakini bawang putih di wilayahnya akan terus berkembang, terlebih penyuluh pertanian berperan aktif untuk mengedukasi para petani hingga produktivitasnya tinggi, di atas produktivitas nasional, yakni 6 hektare. Dulunya daerah ini terkenal dengan kentang, namun saat harga kentang jatuh dan ada penawaran tanam bawang putih dan harganya bagus, petani mulai tertarik menanam.

“Ini sudah menghasilkan dan memenuhi kebutuhan dalam negeri. Juga dalam hal serapan anggaran, Kabupaten Batang termasuk tinggi. Artinya mampu mengalokasikan anggaran dengan maksimal,” jelas Direktur Perbenihan Hortikultura, Sukarman.

Sukarman menegaskan, luasan total lahan bawang putih nasional yang berkisar 10 ribu hektare sudah mampu menghasilkan 88 ribu ton. Angka ini terbilang bagus dari total kebutuhan konsumsi 560 ribu ton. Untuk menghasilkan bawang putih berukuran besar dan mampu bersaing dengan bawang putih impor, lanjut Sukarman, petani perlu melakukan seleksi benih berkualitas berikut perlakuan budidaya yang baik.

“Lokasi panen yang tepat berada di kaki Lereng Gunung Dieng ini pemandangannya sangat indah. Selain bisa menghasilkan bawang putih berkualitas, juga bisa menjadi wilayah agrowisata. Insya Allah dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sini,” ujar Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Tommy Nugraha.

Tommy menyebutkan, petani bawang putih di Batang mendapat kekhususan tersendiri dalam hal harga. Bawang putih di tingkat petani Rp 10 ribu per kg dan dipatok dengan harga yang sama di tengkulak. Artinya ada kepastian harga, selain pemberian bantuan benih dari pemerintah.

“Animo petani tinggi untuk terus menanam bawang putih, khususnya sejak dua tahun melakukan penanaman. Saat ini dengan varietas Lumbu Hijau. Prospek jualnya bagus. Meskipun di saat pandemi harganya sedang menurun, kami bertekad untuk terus melakukan penanaman bawang putih guna mendukung swasembada bawang putih,” ujar anggota Kelompok Tani Sanding Kladu, Ali.

Panen Perdana Jeruk

Selain panen bawang putih, Kabupaten Batang juga melakukan panen perdana jeruk tepatnya di kebun milik UPTD Balai Benih Pertanian. Jeruk yang dipanen adalah varietas Siam Pontianak.

“Ini buah panen perdana. Usianya 2 tahun 3 bulan. Jika perdana memang masih terasa asam, namun pada panen berikutnya kurang lebih 2 minggu, usia akan semakin manis. Untuk hasil maksimal adalah tahun depan,” ujar Kepala Balai Benih Pertanian Kabupaten Batang, Chasum Umi Kalsum.

Umi, panggilan akrabnya, menyebutkan terdapat 44 ribu batang benih yang siap diedarkan dengan luasan kawasan 40 hektare. Meskipun tanaman ini tergolong manja dalam hal budidaya, hasilnya mampu menguntungkan para petani karena produktivitasnya tinggi.

“Kami sarankan juga para petani untuk menggunakan pupuk organik yang diproduksi sendiri semisal pupuk kandang. Kami pun bekerja sama dengan Balitjestro Batu Malang akan membantu memfasilitasi para petani yang berminat menanam jeruk,” papar Umi.

Direktur Perbenihan Hortikultura, Sukarman, menjelaskan untuk luasan tanaman jeruk Indonesia saat ini mencapai 57 ribu hektare dengan produksi 2,5 juta ton. Jumlah tersebut masih perlu ditingkatkan lagi.

“Dari luasan yang ada masih kurang sekitar 4 ribu hektare lagi guna memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dengan demikian perlu terus dilakukan perluasan tanaman. Salah satu daerah yang berpotensi adalah Kabupaten Batang ini. Lokasi ini dinilai cocok untuk pengembangan jeruk,” ujar Sukarman.

Dia menyebutkan, jenis tanaman yang cocok dikembangkan di Batang antara lain varietas Siam Pontianak, Keprok RGL, dan Keprok Trigas. “Panen perdana jeruk di sini diharapkan bisa menjadi contoh agar para petani bisa ikut mengembangkan jeruk. Petani tidak perlu khawatir karena semua kebutuhan mulai dari benih, pendampingan hingga pemasaran akan dibantu oleh pemerintah,” tutup Wakil Bupati Batang, Suyono. (139)