Di Tengah Pandemi COVID-19

Angkat Perekonomian melalui Roemah Jamur Alam Panjang

Kamis, 03 September 2020, 10:48 WIB

Kelompok usaha Roemah Jamur Alam telah menghasilkan produk berupa baglog, jamur segar, dan kripik. | Sumber Foto:DD Riau

AGRONET -- Pada 2019 lalu Dompet Dhuafa Riau telah menyalurkan zakat yang berhasil dihimpun kepada masyarakat yang tergabung dalam kelompok usaha rumah tangga Roemah Jamur Tiram Alam Panjang sebagai modal usaha. Bantuan yang diberikan setara dengan kapasitas 12.000 media tanam untuk bibit jamur tiram (baglog) yang dilengkapi dengan tempat serta biaya pembudidayaan yang bertempat Desa Alam Panjang, Kecamatan Rumbio, Kabupaten Kampar, Riau.

Sejarah inisiasi bantuan kepada kelompok usaha ini lantaran daerah kawasan tersebut banyak warganya yang berpenghasilan rendah khususnya buruh tani. Potensi yang ada di Roemah Jamur Alam Panjang itu dikelola oleh kurang lebih 24 orang atau enam Kepala Keluarga (KK).

Di Indonesia, jamur tiram sangat mudah ditemukan. Oleh karena itu, tak jarang masyarakat membudidayakan jamur tiram ini karena banyak sekali peminatnya. "Walaupun sedikit, selama itu bisa membuat untuk makan sehari-hari dan didasari rasa syukur, membuat kami semangat untuk berusaha," jelas Erma Fitriani selaku Pendamping Program Roemah Jamur Alam Panjang dalam keterangannya pada Rabu (2/9).

Saat ini Kelompok usaha Roemah Jamur Alam telah menghasilkan produk berupa baglog, jamur segar, dan kripik miko (Ola Jamur Tiram). Kebutuhan akan jamur tiram ini selalu tinggi karena disukai oleh hampir semua kalangan.

Harga jual jamur tiram segar dipasarkan Rp25.000 perkilogram serta jamur krispi yang dikemas dengan komposisi 80 gram dengan enam varian rasa dijual Rp15.000 untuk satu kemasan. Produk tersebut telah menjalar di Kabupaten Kampar, Kota Pekanbaru, bahkan sudah dikirim ke Padang dan beberapa daerah lain melalui sistem perdagangan daring.

"Tujuan awal kami usaha ini kami mau punya usaha yang banyak dan mengurangi pengangguran di suatu daerah, dapat memberikan ekonomi yang layak bagi yang membutuhkan, punya duit banyak biar bisa bantu fakir, miskin, yatim, dan piatu. Bisa banyak bangun fasilitas umum, tempat ibadah biar amalan tetap mengalir," lanjut Erma.

Setelah menekuni budidaya jamur tiram, para ibu yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga dengan penghasilan rata-rata Rp300.000 perbulan mengaku kini mereka bisa mendapatkan nominal yang sama dalam sepekan.

Dengan inovasi pengembangan program pemberdayaan ekonomi, jamur berdasarkan manfaatnya dibagi menjadi tiga kelompok. Terdapat jamur yang bisa dikonsumsi, jamur yang digunakan obat, dan jamur yang beracun. Jamur yang bisa dikonsumsi ini memiliki nilai gizi yang tinggi dan disebut dengan jamur edible atau layak makan.

"Terimakasih Dompet Dhuafa Riau sudah memberikan kepercayaan kepada kami untuk menjadi pendamping dalam program ini. Sungguh bahagia diberi Allah jalan melalui mereka," tutup Erma. (357)