Petani Milenial Turut Tingkatkan Nilai Tambah Kopi Nasional

Kamis, 08 Oktober 2020, 16:36 WIB

Usaha pengolahan kopi membuka lapangan pekerjaan bagi ibu-ibu dan pemuda masyarakat untuk membantu dalam proses pascapanen, mulai dari sortasi buah, fermentasi, soratasi biji, sangrai, packing, promosi, dan pemasaran. | Sumber Foto:Ditjenbun

AGRONET -- Kerja keras petani berbuah manis, salah satunya petani milenial asal Desa Sekarmojo, Kecamatan Purwosari, kabupaten Pasuruan yang sukses memetik hasilnya dalam mengembangkan komoditas perkebunan khususnya kopi.

Heri Tahan Muji (36), salah petani milenial yang giat dan tekun melaksanakan program yang diberikan oleh Ditjen perkebunan melalui Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya.

Menurut Kresno Suharto Kepala BBPPTP Surabaya, pada tahun 2018 Direktorat Jenderal Perkebunan melalui Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya memilih Kelompok Tani Candi Mulyo untuk bergabung dalam program Sertifikasi Desa Pertanian Organik berbasis komoditas perkebunan. Berbagai kegiatan pembinaan mulai dari budidaya, pengendalian hama dan penyakit secara organik, peralatan pascapanen dan pemasaran telah diberikan kepada Kelompok Tani Candi Mulyo.

Heri Tahan Muji merupakan anggota Kelompok Tani Candi mulyo. Kelompok tani ini merupakan Binaan Ditjen Perkebunan pada program Sertifikasi Desa Pertanian Organik berbasis komoditas perkebunan. “Saya menanam kopi mulai tahun 2002 sampai sekarang,” ujar Heri saat dihubungi oleh tim POPT BBPPTP Surabaya, beberapa waktu lalu (5/10).

Heri menuturkan, dia mulai menanam kopi bersama anggota kelompok tani lainnya mulai dari luasan 1 ha dan saat ini telah mencapai 15 ha. Pada awalnya Kelompok Tani Candi Mulyo menjual kopi dalam bentuk buah cery kepada tengkulak dengan harga yang relatif murah yaitu untuk robusta dihargai 5 rb/kg dan arabika dihargai 8 rb/kg. Mereka menjual kopi dalam bentuk buah cerry karena tidak memiliki pengetahuan serta peralatan pascapanen.

Pelan tapi pasti, Heri yang ditugasi oleh kelompok tani dibagian pascapanen dan pemasaran kini membuktikan dapat menghasilkan kopi dengan berbagai jenis olahan mulai dari natural, semiwash, fullwash, wine dan honey baik robusta maupun arabika. Semua hasil panen kopi anggota kelompok tani dibeli oleh Heri untuk diproses hingga menjadi kopi yang enak dan nikmat. 

Dalam satu bulan heri mampu menjual kopi hingga 2500 kg/bulan dengan omset berkisar Rp 100 jutaan. Selain itu turut membuka lapangan pekerjaan bagi ibu-ibu dan pemuda masyarakat sekitar untuk membantu dalam proses pascapanen mulai dari sortasi buah, fermentasi, Soratasi biji, sangrai, packing, promosi, dan pemasaran.

Heri memberi nama kopinya dengan merk “Kopi Lesung Arjuno”. Kopi ini memiliki kualitas premium yang ditanam di lereng Gunung Arjuno dengan ketinggian 1.300 mdpl menjadikan rasa kopi yang khas dan berkarater. Kopi lesung dibudidayakan oleh Kelompok Tani Candi Mulyo dan saat ini telah mendapatkan sertifikat organik berstandar Eropa.

Bayu Aji Nugroho selaku POPT BBPPTP Surabaya dan pendamping desa organik mengatakan untuk mencapai ini dibutuhkan komitmen dan sinergi yang solid dari seluruh anggota kelompok tani. Perlu anak muda seperti Heri ini karena sangat menginspiratif, dapat memotivasi, dan tekun mengembangkan kopi sehingga dapat menghasilkan kopi yang berkualitas dan menambah pendapatan petani.

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, pada peringatan Hari Tani Nasional di Jakarta, September lalu, menyatakan bahwa peran petani milenial amat dinanti negara untuk bisa menciptakan inovasi pertanian dari hulu ke hilir sehingga menciptakan nilai tambah komoditas pertanian. Para petani milenial harus terus didukung agar bisa memacu tumbuhnya petani-petani muda yang baru. (Ditjenbun/139/