Pekan Sagu Nusantara 2020

Rabu, 21 Oktober 2020, 11:04 WIB

Pekan Sagu Nusantara 2020 | Sumber Foto:DOk Kementan

AGRONET -- Dalam peringatan hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober 2020, FAO menyatakan bahwa pandemi COVID-19 telah menyingkapkan bahwa sistem pangan dan pertanian global masih rapuh sehingga memicu resesi ekonomi dunia. Hal tersebut menguatkan apa yang diperingatkan FAO pada bulan April 2020 bahwa negara di dunia perlu mewaspadai terjadinya krisis pangan akibat pandemi COVID-19.

Pemerintah memberikan perhatian pada peringatan tersebut di mana Presiden Joko Widodo memberikan arahan untuk meningkatkan produksi bahan pangan dalam negeri agar rantai pasokan tak terganggu. Selain itu, Pemerintah terus mendorong diversifikasi produk dan konsumsi agar dapat menjaga ketahanan pangan nasional. Peningkatan diversifikasi pangan lokal dilakukan melalui penyebaran informasi produk-produk pangan yang sehat dan bergizi sehingga dapat memberikan opsi kepada masyarakat untuk menkonsumsi berbagai sumber pangan bernutrisi lainnya seperti sagu, singkong, jagung, dan lain lain.

Pada saat ini, posisi pangan Indonesia masih tergantung pada ketersediaan beras, namun kondisi di masa mendatang pada tahun 2050 kelangkaan pangan akan terjadi bila tidak dikembangkan pangan lain sebagai pasokan pangan nasional. Sagu, merupakan tanaman asli Indonesia yang dapat menjadi alternatif pangan nasional, sebagaimana sagu telah menjadi pangan utama sejak jaman dahulu khususnya untuk Kawasan Timur Indonesia.

Secara umum pembudidayaan dan pemanfaatan sagu memberikan manfaat lebih bagi Indonesia, baik pada taraf peningkatan ekonomi, kesejahteraan sosial, penyediaan komoditi pangan nasional, hingga penyediaan lapangan kerja dan bisnis. Dan yang lebih penting lagi, apabila upaya ini dilakukan dengan konsisten kita dapat berkontribusi secara signifikan bagi pemenuhan pangan dunia. Untuk pangan nasional, tentu pemanfaatan sagu sebagai komoditi pangan berkarbohidrat juga ikut mengurangi ketergantungan masyarakat pada beras yang saat ini diserap hampir 80% oleh masyarakat Indonesia, sehingga program diversifikasi pangan dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan sumberdaya pangan lokal.

Indonesia memiliki luas lahan sagu terbesar di dunia. Dari 6,5 juta ha lahan sagu di seluruh dunia, sebesar 5,4 juta ha berada di Indonesia dan lebih dari 95 persen terfokus di wilayah Papua (5,3 juta ha). Jenis Sagu yang tumbuh di wilayah Papua menghasilkan “pati” yang lebih tinggi  dibandingkan sagu yang tumbuh di daerah lain. Dari segi konsumsi, konsumsi sagu Indonesia masih sangat rendah yaitu 0,4-0,5 kg/kapita/tahun sedangkan konsumsi beras cukup besar hingga 95 kg/kapita/tahun dan konsumsi tepung terigu meningkat tajam hingga 10-18 kg/kapita/tahun.

Potensi pengembangan lahan sagu di Indonesia baru dimanfaatkan sekitar 6 persen dengan produksi tidak lebih dari 500.000 ton, dimana sebagian besar  diproduksi di Provinsi Riau (80 persen) dan lebih dari 95 persen pengusahaan sagu berasal dari perkebunan milik rakyat.

Dalam hal kontribusi sagu terhadap penyediaan lapangan pekerjaan, jumlah tenaga kerja atau petani sagu mencapai 286.007 KK. Sedangkan dalam hal kontribusi ekspor, nilai ekspor sagu di tahun 2019, sebesar Rp 47,52 Milyar dan total volume 13.892 ton, dengan 5 negara tujuan utama ekspor sagu Indonesia yaitu Malaysia, Jepang, China, Korea Selatan, dan Singapura. Kondisi ini menunjukkan bahwa produk sagu Indonesia diminati oleh pasar global, sehingga perlu dikembangkan untuk meningkatkan daya saing produk, serta meningkatkan kontribusi ekspor sagu terhadap devisa Negara.

Kegiatan “Pekan Sagu Nusantara (PSN) 2020” dengan tema “Sagu Pangan Sehat untuk Indonesia Maju” diinisiasi oleh Kemenko Perekonomian dalam rangka Peringatan Hari Pangan Sedunia tanggal 16 Oktober, dan juga sebagai upaya pemerintah dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi nasional (PEN). Kegiatan PSN melibatkan K/L terkait dan juga diikuti oleh 13 Provinsi penghasil sagu, yaitu Papua, Papua Barat, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Bangka Belitung, dan Aceh. 

Tujuan penyelenggaraan PSN 2020 adalah untuk menyosialisasikan sagu nusantara kepada masyarakat sebagai salah satu sumber pangan sehat Indonesia, sumber energi terbarukan, serta sumber perekonomian nasional dan daerah. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menggali potensi bisnis sagu Nusantara dan meningkatkan kesadaran seluruh pemangku kepentingan dalam melakukan optimalisasi manfaat sagu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selanjutnya, sagu sebagai pangan sehat  diharapkan dapat terus disosialisasikan dan dikembangkan melalui program pembangunan sagu yang dilakukan secara terpadu hulu hilir dengan melibatkan seluruh stakeholder terkait dan terus digulirkan menjadi program berkelanjutan untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh sagu khususnya untuk mendukung ketahanan pangan dan energi.

Turut hadir pada kegiatan Pekan Sagu Nusantara 2020 ini Menteri Pertanian, Menteri LHK, Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, Menteri Koperasi dan UKM, Menteri Desa PDTT, Kepala BPPT, Gubernur Papua Barat, Rektor IPB, Dirut Perum Bulog, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, serta perwakilan Kementerian dan Lembaga.(234)

BERITA TERKAIT