Harga Pupuk Subsidi di Sleman Melebihi HET

Kamis, 24 Desember 2020, 11:27 WIB

Menyiasati kebutuhan pupuk petani menggunakan pupuk kandang dengan mengolah kotoran ternak kambing miliknya. | Sumber Foto:KBRN

AGRONET -- Pupuk bersubsidi di Kabupaten Sleman, Yogyakarta dijual melebihi harga eceran tertinggi (HET). Para pemegang kartu tani, harus membayar Rp95 ribu, agar bisa mendapat setengah kwintal pupuk. Padahal, harga normalnya hanya Rp90 ribu dengan berat yang sama.

Namun, sejumlah buruh tani di wilayah Kapanewon (Kecamatan) Seyegan yang belum memiliki kartu tani, tidak dapat membeli pupuk bersubsidi. Mereka terpaksa membeli pupuk kujang non subsidi, meski dirasa sangat berat akibat harganya jauh lebih mahal.

Tetapi, karena harus tetap menanam padi di sawah, sehingga tidak ada pilihan lain. "Sekarang satu sak pupuk non subsidi harganya hampir Rp300 ribu,” ucap Suparjan di Sleman, Rabu (23/12).

Untuk menggarap lahan sawah milik orang lain seluas dua ribu meter persegi, dia butuh pupuk lebih dari satu kwintal. Karena modal yang terbatas, ia membeli pupuk sedikit demi sedikit.

Kadang, dirinya hanya mampu membeli 10 kilogram saja, namun pernah juga membeli sampai 30 kilogram pupuk. "Ya memang hasilnya tidak maksimal, tapi ini menjadi satu-satunya jalan karena mahal sekali harganya,” tuturnya.

Ia pun mengutarakan, seandainya memiliki kartu tani, bisa membeli pupuk urea yang harganya lebih murah karena masih disubsidi pemerintah.

Petani lainnya bernama Wasudi juga menyampaikan pendapatnya. "Sejak November kemarin, sulit sekali beli pupuk subsidi, harus pakai syarat kartu tani. Kalau tidak punya, tidak bisa beli urea yang harganya lebih murah,” kata dia.

Wasudi menggarap tujuh ribu meter persegi lahan sawah milik orang lain. Dia menyiasati harga pupuk yang mahal, sehingga pupuk kandang juga digunakan, dengan mengolah kotoran ternak kambing miliknya.

Baik Suparjan maupun Wasudi, sudah mengurus pembuatan kartu tani ke dinas pertanian setempat, melalui kepala dukuh masing-masing. Tetapi, kartu tersebut baru bisa diterima pada bulan Januari 2021 mendatang.

Permainan Harga

Sebetulnya, para petani yang tidak memiliki kartu tani, tetap bisa membeli pupuk bersubsidi. Syarat yang diperlukan, dengan mengisi blangko sebagai fasilitas dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).

”Harga yang diberikan tetap sama sesuai yang ditetapkan pemerintah,” kata Sumarno, selaku Kepala Seksi Produksi Tanaman Pangan, Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman.

Tetapi dirinya tidak memungkiri, ada dugaan permainan harga pupuk bersubsidi yang dilakukan para pengecer, sehingga harga jualnya tidak sesuai HET.

Padahal, ini bentuk pelanggaran yang tidak boleh dilakukan. "Alasan mereka macam-macam, ada yang untuk beli pulsa, beli kertas, sehingga tambahan biaya dibebankan kepada petani. Hal ini juga terjadi di Bantul dan Gunungkidul,” imbuhnya.

Terkait permainan harga pupuk bersubsidi, Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman, kata Sumarno, sudah melaporkan persoalan ini ke Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KP3) agar ditindaklanjuti. (KBRN/139)