Petani Jagung Jember Raup Untung di Akhir Tahun

Sabtu, 26 Desember 2020, 06:54 WIB

Saat ini di Jember harga jual jagung tongkol kering per kg mencapai Rp2.000 - Rp2.100, dengan rata-rata biaya produksi per hektare Rp15 juta dan hasil produksi rata-rata 15 ton. | Sumber Foto:Humas Kementan

AGRONET -- Jember dikenal sebagai salah satu Kabupaten sentra jagung di Jawa Timur. Kabupaten ini mempunyai luasan panen jagung tertinggi pada bulan Desember yakni sekitar 12.000 hektare. Lahan pertanaman tersebut umumnya berada di lahan sawah yang sebelumnya di tanamani padi. 

Menteri Pertanian Syahtul Yasin Limpo saat penanaman jagung sekaligus meresmikan Food Estate di Desa Umbul Pabal Kecamatan Umbu Rato Nggai Barat, Sumba Tengah beberapa waktu lalu menyampaikan di beberapa sentra penghasil jagung, produktivitas mencapai sekitar 8-9 ton per hektare.

"Rata-rata produktivitas jagung lokal saat ini memang masih sekitar 6,4 ton per hektare. Kita sama-sama berusaha agar peran penting komoditas jagung dapat meningkatkkan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produksi dan pendapatan petani," kata Mentan SYL. 

Pola tanam padi-padi-palawija masih diterapkan oleh petani di Jember. Ini diharapkan diperoleh dua keuntungan, yaitu tanah sawah akan mengalami kering sempurna sehingga memberikan aerasi yang baik bagi tanah dan menyehatkan bagi padi untuk berikunya, serta harga yang lebih baik karena panen di luar masa panen raya. 

Ali, petani di Jember, Kamis (24/12) mengungkapkan saat ini petani jagung di Jember merasakan nikmatnya menjadi petani jagung, karena begitu mudahnya menjual jagung dan memperoleh harga yang baik. “Rata-rata petani di Jember menjual jagung dalam bentuk tongkol kering. Ini karena kami ingin mempercepat kegiatan panen dan pascapanen untuk mempersiapkan kembali sawah bekas tanaman jagung untuk pertanaman padi,” ujarnya

Diungkapkan Ali saat ini harga jual jagung tongkol kering per kg sudah mencapai Rp2.000 sampai Rp2.100. Dengan rata-rata biaya produksi per hektare Rp15 juta dan hasil produksi rata-rata 15 ton, maka petani memperoleh hasil dari kegiatan budidayanya sekitar Rp15 juta per hektare.

Bila hasil produksi di akumulasi dalam satu kabupaten, maka selama bulan Desember 2020, Kabupaten Jember mensuplai sekitar 180.000 ton jagung tongkolan kering atau bila dikonversi menjadi jagung pipilan kering dengan kadar air 17% sekitar 90.000 ton.

Di tempat terpisah, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Kementan Gatut Sumbogodjati mengatakan meski di luar masa panen raya, panen jagung sedang berlangsung di beberapa wilayah menjadi berkah tersendiri bagi petani, karena akan memperoleh harga yang lebih baik dibandingkan saat masa panen raya. 

Gatut menegaskan Kementan terus berkomitmen menyalurkan bantuan untuk budidaya dan penanganan pascapanen. Hal ini salah satunya guna memastikan produksi jagung cukup sesuai kebutuhan bulanan.

"Luas tanam kita tingkatkan, tapi produktivitas juga harus bagus. Dalam keadaan apapun pertanian kita harus tangguh. Produksi pangan hingga saat ini dan ke depan aman," ucapnya.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menyampaikan bahwa beberapa sentra produksi jagung saat ini sudah bisa mencapai target produktivitas 8 hingga 9 ton per hektare. Peningkatan produktivitas dapat menjamin tercukupinya kebutuhan jagung.

"Kementan jamin produksi jagung, biasanya musim tanam sama mengikuti musim padi. Pola tanam bisa monokultur, bisa tumpangsari, bisa tumpang sisip, pergiliran tanam, atau pola lain. Jagung ditanam di lahan sawah, lahan kering, tadah hujan maupun integrasi dengan tanaman kelapa sawit dan lainnya. Terpenting tersedia air bisa ditanam jagung," ucapnya. (139)