9 Arahan Presiden Joko Widodo Tuk Optimalkan Pembangunan Pertanian

Senin, 11 Januari 2021, 13:30 WIB

Rapat Kerja Nasional Kementerian Pertanian di Istana Negara pada Senin (11/1) | Sumber Foto:Kementan

AGRONET -- Kementerian Pertanian (Kementan) dalam membuka lembaran baru di Tahun 2021 dengan mengadakan Rapat Kerja Nasional yang dibuka di Istana Negara pada Senin (11/1).  Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam laporannya menyampaikan rasa terima kasih pada Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo, yang telah memperhatikan sektor pertanian dan mengaprsiasi kinerja dalam menopang perekonomian Indonesia dan kesejahteraan petani.

Menteri SYL telah menetapkan arah kebijakan pembangunan yaitu pertanian harus maju, mandiri dan modern. Arah kebijakan tersebut menjadi pertimbangan untuk bertindak cerdas, cepat dan tepat.  Lebih lanjut Menteri SYL menyebutkan program utama dalam mewujudkan ketahanan pangan yaitu meningkatkan nilai tambah dan ekspor di bidang pertanian, sehingga peningkatan produktivitas yg tercapai ditahun 2020 akan lebih baik ditahun 2021.  "Selain itu ada pula program pendukung yang perlu diterapkan yaitu peningkatan kapasitas produksi dan diservikasi pangan," ungkapnya.

Presiden Joko Widodo membenarkan bahwa sektor pertanian telah menjadi sentral dimasa pandemi. Akan tetapi Presiden menggaris bawahi 9 (sembilan) Isu Strategis dalam Pembangunan Pertanian.  Diawalai dengan menyoroti peringatan Food Agricultur Organization (FAO) tentang potensi krisis pangan sehingga pengolahan yang berkaitan dengan pangan dan pertumbuhan pertanian perlu dilakukan maksimal.

Pengelolaan pangan dan pembangunan pertanian khususnya terkait dengan komoditas bahan impor seperti kedelai, jagung, gula, bawang putih, dan beras harus diseriuskan.  Pengembangan Lumbung Pangan atau Food Estate, pengembangan pertannian dengan skala ekonomi luas, pemaksimalan teknologi pertanian,  penetapan harga yang kompetitid dan bersaing menjadi sorotan Presiden Joko Widodo untuk optimalisasi pembangunan pertanian.

Subsidi pupuk menjadi pekerjaan rumah (PR) yang perlu selalu dievaluasi.  Bentuk evaluasi dengan menjawab apakah dengan adanya subsidi tersebut nampak peningktatan produksi sektor pertanian dan menjamin kesejahteraan petani.  Pengguanaan subsidi pupuk harus lah sejalan dengan peningkatan produksi pertanian.  Ke-9, Presiden mencontohkan “Hal yang baik adalah ekspor yang cukup tinggi yaitu komoditi sawit,” sebut Joko Widodo.

Sebagai penutup Presiden mengajak untuk membuat kawasan ekonomi skill dengan menambah dan memperluas lahan pertanian.  Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangta) Manokwari, Purwanta menyikapi peluang ekspor sawit yang masih sangat terbuka khususnya di Manokwari Papua Barat.

Polbangtan Manokwari yang merupakan Unit Pelayanan Teknis (UPT) Kementan Bidang Pendidikan telah menjalin kerjasama dengan PT. PT. Medco Papua Hijau Selaras Papua Barat yang bergerak dalam industi kelapa sawit untuk turut serta mensukseskan program peningkatan ekspor tiga kali lipat.  Kerjasama yang telah terjalin dalam Tahun 2021 ini akan lebih dioptimalkan demi menopang Pembangunan Pertanian. (Ian/Pur/269)