Petani Food Estate: Kementan Gigih Berjuang Bersama Kami

Senin, 22 Pebruari 2021, 13:40 WIB

Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto bersama petani di lahan food estate Humbahas Sumatera Utara. | Sumber Foto:Humas Ditjen Hortikultura

AGRONET -- Food Estate Humbang Hasundutan yang berbasis komoditas hortikultura sudah mulai menampakkan hasilnya. Ada 215 hektare areal yang sudah dikembangkan, ditanamai bawang merah, bawang putih, dan kentang. 

Salah satu kunci keberhasilan program food estate ada pada kegigihan para petani yang berjuang bersama tim, baik dari Kementerian Pertanian, Pemerintah Daerah maupun pihak lain. Kerja keras mereka menjawab adanya tudingan sumir yang menganggap program food estate belum berhasil.

“Sah-sah saja orang bilang ini gagal total namun saya yang menanam di sini, tidak mau dibilang gagal. Beberapa lahan memang ada yang tidak tumbuh maksimal. Meski demikian, coba lihat sendiri pertanaman yang saya miliki ini. Pertumbuhannya bagus, saya dan istri saya merawat setiap harinya. Lahan saya belum panen makanya kalau dibilang gagal itu salah,” ujar petani dari Kelompok Tani Ganda Mersada, Jhon Les Lumban Gaul saat ditemui di lahannya, Kamis (18/2).

Jhon yang saat itu bersama dengan anak-anaknya yang masih kecil menyebutkan tantangan terberatnya adalah cuaca termasuk saat perayaan Natal dan Tahun Baru. Varietas Batu Ijo yang ditanam di lahannya sempat ditinggalkan beberapa hari karena fokus dengan perayaan keagamaan.

“Di sini kendala utamanya cuaca yang ekstrim. Pagi kadang hujan sampai sore dan kalau malam berkabut. Keduanya, waktu petani yang tersedot pada saat perayaan Natal tahun lalu. Saya akui sempat saya meninggalkan lahan namun kemudian usai perayaan, saya kembali menekuni lahan saya," ujarnya.

Petani berusia 50 tahun ini salut dengan Kementerian Pertanian. Bantuan yang ia terima sesuai dengan kebutuhan yang ada tanpa dikurangi dan ditutup-tutupi. Tidak hanya benih dan sarana produksi, dia bersama para petani lain sempat menerima upah kerja.

“Bantuan kepada kami itu tidak ada yang tersembunyi. Berapa yang dikasih ke kami, itulah yang kami terima. Mulai dari benih hingga sarana produksi kami terima penuh. Bahkan kami juga menerima upah kerja mulai saat penaburan kompos, pemasangan mulsa hingga waktu penanaman. Kami hanya tinggal merawatnya saja. Hasilnya pun bukan buat pemerintah, semua murni untuk kami para petani,” terang Jhon. 

Jika ada perbedaan pertumbuhan, dirinya menilai wajar karena itu kembali lagi ke petani yang menggarap. “Jika tumbuh dengan baik, berarti terawat dengan bagus. Jika belum bagus berarti perawatannya perlu ditingkatkan lagi. Pada dasarnya bibit yang kami terima memang bagus. Jadi ya bagaimana perawatannya. Wajar juga karena kami di sini baru pertama kali tanam, pun arealnya sangat luas. Masih perlu belajar,” lanjutnya.

Jhon juga mengingatkan bahwa hasil yang diterima bukan daun melainkan umbi yang hendak dipanen. "Perlu diperhatikan juga, kami ini memanen umbinya. Bukan daunnya. Jadi jangan fokus dengan daun bawang yang harus besar atau kecil ukurannya. Berukuran kecil pun tetap ada umbinya. Kami ini fokus dengan pertumbuhan umbinya. Panen sebesar apapun, hasilnya jelas ada,” ujar Jhon semangat.

Terdapat petani muda berusia 30 tahun, Charles Sinaga yang mengaku perkembangan pertanaman miliknya luar biasa. Pembukaan lahan pertanian yang tadinya hanya terdiri dari semak belukar dan kini tampak hijau mata memandang adalah berkat program Food Estate yang didorong oleh Presiden Joko Widodo. 

“Progressnya luar biasa. Bisa dilihat, kami diberi bantuan tanam di atas lahan yang tadinya tidur dan kini saya bisa menanamnya. Sangat bangga, kami petani muda di sini terdorong untuk menanam dengan gigih,” ujarnya. 

Charles juga memaklumi, pertanaman tidak dimungkiri bisa diharapkan semua bagus dalam sekali waktu apalagi ini tanam perdana. Jika ada yang menilai gagal, menurutnya itu kembali ke persepsi masing-masing.

“Saya pribadi merasa wajar jika ada tanaman yang kurang bagus. Artinya ada yang kurang dalam pengaplikasiannya. Apalagi saya, belum pernah menanam sebelumnya, pun dalam jumlah luasan yang besar seperti ini. Di antara yang bagus pertumbuhannya, ada juga yang kurang bagus,” akuinya.

Dengan perkiraan panen di awal Maret, Charles meyakini hasil panennya akan bagus. Umbi bawang tumbuh dengan baik dan hal itu membuat dirinya bangga.

“Saya mau lihat hasil panen perdana dulu. Nanti di periode ke dua baru saya akan menargetkan hasil. Berapa kira-kira minimal tonase yang mau saya raih. Untuk sekarang saya fokus saya merawat tanamannya,” papar Charles. 

Sebagai informasi, harga bawang merah rogol basah dijual Rp 10 ribu per kg. Sementara bawang merah yang siap konsumsi, untuk yang berukuran besar Rp 16 ribu per kg dan berukuran sedang Rp 20 ribu. Harga bawang berukuran sedang lebih mahal ketimbang yang berukuran besar karena masyarakat sekitar lebih menyukai bawang merah berukuran sedang.

Baik John, Charles dan para petani lain menganggap kehadiran tim Kementan untuk pendampingan selama masa tanam hingga pasca panen betul-betul menyemangati para petani.

“Kami di sini betul-betul dikawal teman-teman dari Kementan. Mereka berhari-hari di sini meninggalkan keluarganya untuk memastikan pertanaman di sini. Ini yang sangat menyemangati kami. Adanya food estate ini membangun Humbang Hasundutan menjadi daerah yang produktif,” pungkas John diamini para petani. (357)