Gandeng Petani Milenial, Kementan Tingkatkan Kualitas Pengolahan Sagu Tradisional

Senin, 03 Mei 2021, 20:50 WIB

Calon Petani Milenial, Sudirja Sudin dalam Mendemonstrasikan Pengolahan Sagu | Sumber Foto:Dok. Pribadi

AGRONET -- Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menegaskan Kementerian Pertanian berkomitmen mendorong pengembangan diversifikasi pangan lokal melalui penerapan berbagai inovasi dan teknologi serta pengendalian hama.

“Upaya ini sekaligus mendukung pembangunan pertanian dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional dan menciptakan daya saing produk pertanian dan juga menggairahkan ekspor”, ujar Mentan SYL.

Untuk mendorong pengembangan tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi mengajak petani, penyuluh, dan petani milenial untuk mendukung Gerakan Diversifikasi Pangan.

“Caranya dengan menyediakan pangan yang berasal dari pertani lokal ditiap-tiap daerah,” ujar Dedi. Salah satu komoditi pangan lokal yang memiliki potensi adalah sagu.

Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari Purwanta mengatakan, “Sagu sebagai pangan lokal di Papua Barat secara masif dikembalikan kekayaannya dalam rangka ketahanan pangan.” Berdasarkan survey yang telah dilakukan Pohon Sagu di Manokwari hampir tidak ada.

Para pengerajin mendatangkan sagu yang bersal dari Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat. Mengatasi kondisi tersebut, Polbangtan Manokwari melakukan penyuluhan peningktan kualitas pengolahan sagu tradisional.

Bertempat di Kelurahan Sanggeng, Manokwari dibawah bimbingan para dosen Polbangtan serta melibatkan Sudirja selaku milenial yang telah sukses mengembangkan komiditas sagu penyuluhan dilakukan di hadapan beberapa calon petani milenial lainnya.

“Kami melatih calon petani milenial melakukan penyuluhan agar tekstur dan warna sagu lempeng lebih baik. Pengerajin biasa umumnya hanya menggunakan campuran sagu basah untuk membuat sagu lempeng.

Hasilnya permukaan sagu nampak kasar. Dengan menggunakan perbandingan sagu basah dan sagu kering sebanyak satu banding satu permukaan sagu lempeng yang nampak kasar tidak terlihat lagi”, tambah Purwanta.

Purwanta mengkisahkan Sudirja memadukan pola tradisional dengan khasanah keilmuan. “Kami berharap selain Sudrija masih banyak lagi generasi tani milenial yang memiliki trobosan sehingga ketahanan pangan dapat makin kokoh berkat dukungan para petani milenial”, tegas Purwanta. (BPPSDMP/269)