Closed Loop, Solusi Dorong Kepastian Pasar Produk Petani

Kamis, 06 Mei 2021, 07:48 WIB

Asas gotong royong terlihat dalam project ini, dimana setiap stakeholder yang tergabung dalam project ini saling bahu membahu agar project ini dapat berhasil. | Sumber Foto:Humas Ditjen Hortikultura

AGRONET -- Kementerian Pertanian bekerja sama dengan semua pihak menghadirkan model kemitraan agribisnis yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Tujuan kolaborasi ini untuk meningkatkan skala ekonomi, pendapatan petani dan meningkatkan produktivitas.

Salah satunya melalui piilot project closed-loop. Project pillot closed-loop merupakan suatu pendekatan untuk mendorong perkembangan agribisnis berkelanjutan, melalui ekosistem digital. Closed loop membentuk suatu rantai pasok dan rantai nilai produk hortikultura, di mana hasil pertanian akan memiliki pasarnya tersendiri. Petani tidak lagi mencari pasar dari produk yang dihasilkannya melainkan petani didorong untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan permintaan pasar.

Pilot project closed loop ini diinisiasi oleh Kamar Dagang Indonesia sejak tahun lalu dan didukung penuh oleh Kementan, terlebih pada produk hortikultura yang dikembangkan pada skala luas. Hal ini sesuai dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, yang menginginkan adanya terobosan inovatif dan terintegratif sebagai pengembangan produk. Closed loop adalah model bisnis yang dapat diterapkan pada semua program dan komoditas, seperti kampung hortikultura yang menjadi program utama di Ditjen Hortikultura.

Dalam pidatonya pada acara Jakarta Food Indonesia Summit tanggal 18 November 2020 silam, Presiden Jokowi mengatakan bahwa inisiasi skema closed loop perlu untuk terus dikembangkan, terutama dalam mengembangkan kemitraan antar pemangku kepentingan yang saling menguntungkan dari hulu-hilir. Selain itu perlu adanya dukungan yang melibatkan petani, koperasi, perbankan dan offtaker.

Presiden juga mengarahkan inisiatif kolaborator seperti Program Hortikultura di Garut dapat meningkatkan produktivitas dan nilai tambah bagi petani dan perlu direplikasi. Selanjutnya dicopy ke daerah-daerah lain agar bisa mendongkrak sektor pangan sebagai kekuatan ekonomi baru yang membuka lebih banyak lapangan kerja dan menjadi sumber kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.

Closed loop ini mulai menampakkan hasil. Petani milenial dari Garut yang tergabung dalam project ini mulai rutin mengirimkan produknya ke Paskomnas. Saat ini sedang dirintis kerja sama dengan Indofood.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hortikultura, Bambang Sugiharto mengatakan bahwa Direktorat Jenderal Hortikultura akan turut membantu petani untuk dapat menghasilkan produk hortikultura yang berkualitas.

“Terbukti di tahun ini, tema kita adalah produk berkualitas. Sehingga hasil produk dari petani sudah harus dilakukan seleksi, trimming, grading, cleaning. Untuk sementara kami akan memfasilitasi 90 kelompok tani dengan peralatan tersebut,” ucap Bambang dalam keterangannya (5/5).

Kabupaten Sukabumi sendiri berhasil mereplikasi Closed loop Garut. Ke depan Closed Loop akan terus direplikasi ke berbagai wilayah lain di Indonesia.

“Semua lahan yang dimanfaatkan oleh petani milenial yang tergabung dalam program Closed loop ini mendapat prioritas untuk diregistrasi, untuk memastikan ketelusuran dan mutu produk yang dihasilkan,” ujar Koordinator Pemasaran dan Investasi Hortikultura, Andi Arnida.

Pernyataan ini diamini oleh Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Garut, M Rahmat, yang menyampaikan bahwa lahan yang dikelola Kelompok Tani Eptilu sudah diregistrasi.

Replikasi closed loop juga hadir di Kabupaten Sukabumi. Bercermin dari Closed Loop Garut, maka Closed loop Sukabumi memperbaiki apa yang kurang dari Closed Loop Garut. Hal ini disampaikan oleh Asdep Pengembangan Agribisnis Hortikultura, Kemenko, Yuli Sri Wilanti dalam acara Rakor Percepatan Replikasi Program Kemitraan Closed Loop Hortikultura di Bogor beberapa waktu lalu.

“Perjalanan pilot project closed loop tidak berakhir di sini, bahkan ini merupakan awal dari semua kegiatan ini. Komitmen yang tinggi merupakan unsur penting dalam pilot project ini agar dapat terus berjalan dan dapat mensejahterakan petani,” ujar Yuli mengapresiasi.

Asas gotong royong pun terlihat dalam project ini, di mana setiap stakeholder yang tergabung dalam project ini saling bahu membahu agar project ini dapat berhasil.

“Sekarang ini Indonesia in Cooperation, kita maju untuk Indonesia kita berbuat yang lebih baik untuk Indonesia, dengan produk yang lebih baik dan petani yang lebih canggih dan semua itu kita bangun bersama dengan stakeholders yang ada.” ujar Karen Tambayong, Ketua Komite Tetap Hortikultura -Kadin. (591)