Kembali Petani Milenial Papua Barat Buktikan Pertanian Itu Keren

Selasa, 19 Oktober 2021, 08:09 WIB

Heri Purwanto, Duta Petani Milenial Kota Sorong | Sumber Foto:Istimewa

AGRONET --  Hortikultura menjadi salah satu alternatif penopang ketahanan pangan nasional.  Usaha ini pun dilirik Heri Purwanto seorang Duta Petani Milenial (DPM) asal Kota Sorong, Papua Barat.  Dari sana Heri mampu membuktikan, “Pertanian itu keren”.

Pernyataan Heri sejalan dengan apa yang telah disuarakan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) bahwa Petani itu keren, bertani itu hebat.  Terlebih Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di Papua Barat merupakan modal utama agar mampu menjadi pemain utama penghasil ragam komoditas pertanian di Indonesia Timur.

“Keberadaan para petani milenial sangat vital dalam mewujudkan pencapaian ketahanan pangan,” tutur Mentan SYL. Sebab bertani bukan sekedar profesi.  Pertanian menjadi upaya yang langsung memiliki pahala dengan mengurusi kebutuhan pangan bagi 273 juta jiwa masyarakat Indonesia.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi pun berkomitmen terus berupaya meningkatkan regenerasi petani ke seluruh pelosok Nusantara.  "Hal itu dilakukan, karena pengungkit utama produktivitas pertanian adalah SDM, maka harus ditingkatkan kualitasnya secara berkelanjutan agar sektor pertanian bergerak maju, mandiri dan modern," kata Dedi.

Pertanian yang maju, mandiri, dan modern menjadi impian Heri meski memiliki latar belakang Pendidikan Jurusan Perkantoran, Heri lebih tertarik pada dunia pertanian.  Peluang pengembangan usaha yang besar menjadi pemicu semangat Heri.  Budi daya hortikultura seperti tanaman cabai, tomat, terong dan sayur-sayuran lainnya mulai dikelolah sejak tahun 2014.

Kegiatan tersebut Heri mulai saat lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 di Kabupaten Aimas.  Disamping karena orang tua yang memang seorang petani, ia juga menyadari peluang pasar yang terbuka jika ditekuni dengan sungguh-sungguh.

“Keterbatasan saya dalam menjalankan usaha hortikultura ini karena jumlah lahan pribadi yang masih sempit, jadi mau menyewa beberapa hektar lahan untuk tambahan dikelolah” harap Heri.  Selain itu, tantangan terbesar dari bertani yang dijalankan adalah musim yang tidak menentu.  Hal ini menjadikan kendala dalam memprediksi musim tanam.  Meski demikian,  Heri mampu memprediksi pasar hingga sukses meraup omset 20-100 juta tiap kali panen.

Omset yang luar biasa dari lahan yang terbatas.  Heri mampu menghasilkan minimal 300 kg cabai tiap kali panen yang dijual ke pengepul yang berasal dari luar kabupaten seperti Fak-fak dan Pegunungan Arfak (Pegaf).  Sedangkan tanaman yang lain, Ia tanam sesuai dengan permintaan pasar dengan harga yang tinggi agar tidak mengalami kerugian. 

Sorotan pun datang dari Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari, Purwanta selaku penanggung jawab DPM di Wilayah Timur Indonesia.  “Aksi yang dilakukan oleh DPM asal Sorong tersebut dapat memberikan motivasi kepada generasi milenial yang lain supaya regenerasi petani dapat segera terwujud,” tutur sang Doktor lulusan UMI Makassar. (Polbangtan Manokwari/269)

Reporter : Imran/Humas Polbangtan Manokwari

Sumber : RILIS BPPSDMP - 19 Oktober 2021 *1339/HUMAS