Dukung Pengembangan Sorgum, Kementan Siapkan Produksi Benih Sumber Sorgum

Kamis, 13 Oktober 2022, 10:34 WIB

Dukung Pengembangan Sorgum, Kementan Siapkan Produksi Benih Sumber Sorgum | Sumber Foto:DITJENTP

AGRONET -- Kementan terus melakukan Pengembangan Komoditas Tanaman Pangan, di era Menteri Pertanian SYL pengembangan tidak hanya fokus Komoditas Pajale, tetapi sekarang fokusnya menjadi PAJALEGONG, yaitu Padi-Jagung-Kedelai-Sorgum dan Singkong. Hal ini sejalan dengan arahan Bapak Presiden RI yang secara khusus menyoroti sorgum sebagai bahan subtitusi gandum, dimana gandum hingga saat ini masih menggantungkan pada impor.

 

“Bapak Presiden minta dibuatkan roadmap pengembangan sorgum sampai tahun 2024. Di situ di tahun 2023 disiapkan lahan 115 ribu ha dan tahun 2024 itu 154 ribu ha,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartato, usai rapat terbatas di Kantor Presiden.

 

Untuk melaksanakan arahan tersebut, Kementan melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menindaklanjuti dengan memprogramkan pengembangan budidaya sorgum seluas 15 ribu hektar pada tahun 2022, 115 ribu hektar dan 150 ribu hektar berturut-turut pada tahun 2023 dan 2024. Dengan adanya peningkatan target luas tanam, maka kebutuhan benih juga semakin banyak, sehingga harus disiapkan sebelum jadwal tanam tiba.

 

Guna mendukung Program pengembangan Sorgum ini, pada 11/10/2022 dilaksanakan Bimbingan Teknis Produksi dan Sertifikasi Benih Sorgum di Maros, Sulawesi Selatan, yang dihadiri oleh perwakilan Balai Benih dan Pengawas Benih Tanaman dari 7 provinsi sasaran tanam sorgum.

 

Catur Setiawan, Koordinator Kelompok Sustansi Pengawasan Mutu Benih, Direktorat Perbenihan Tamaman Pangan, Menyampaikan Bimtek ini diselenggarakan dalam rangka pelaksaanaan kerjasama produksi benih sumber sorgum antara Direktorat Perbenihan dengan Dinas Pertanian provinsi dalam menyiapkan benih untuk budidaya tahun 2023 dan 2024.

 

“Produksi dan sertifikasi diangkat menjadi topik bimtek karena Kami melihat tanpa teknik produksi yang baik dan benar, sehebat apapun pengawasan mutu benih, maka tidak akan dihasilkan benih bermutu dalam jumlah yang cukup” ujar Catur

 

Dr. Ramlah Arief, peneliti Balitser Maros menjelaskan tentang tata cara produksi benih sorgum meliputi pilihan varietas sesuai dengan sifat-sifat, syarat lahan, teknik roguing, penentuan waktu panen, cara pengeringan dan sortasi benih serta pengemasan benih.

 

” Untuk mengelabui burung adalah dengan membungkus malai, menggunakan lokasi lahan yang berbeda untuk setiap tanam sehingga tidak dikenali oleh burung dan tanam bersamaan dengan jadwal tanam padi untuk memecah minat burung”jelas Ramlah

 

“Untuk menghasilkan benih dengan vigor tinggi, disarankan panen dilakukan sekitar 3 hari setelah masak fisiologis, pengeringan dilakukan dua kali untuk menurunkan kadar air secara perlahan menggunakan blower dan panas dengan suhu tidak lebih dari 40oC, Penurunan kadar air yang terlalu cepat dapat mengakibatkan kerusakan pada embrio benih. Pengeringan dengan sinar matahari dilakukan selama 3 hari dengan membolak-balik benih”tambahnya

 

Produsen benih dan Pengawas Benih Tanaman harus sama-sama memahami teknis produksi dan regulasi perbenihan. Sinergi antara produksi yang baik dan benar dan adanya pengawasan mutu akan memberikan jaminan benih bersertifikat yang dihasilkan memuaskan konsumen benih.

 

Pada kesempatan lain,Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi dalam keterangan mengatakan tanaman sorgum tidak hanya sebagai pangan alternatif pengganti beras tapi juga sebagai bahan pakan dan bahkan dapat menghasilkan bio ethanol. Ia juga menerangkan bahwa sorgum merupakan tanaman sehat, mudah dibudidayakan, rendah biaya produksi dan sangat bermanfaat untuk kesehatan. Sorgum juga memiliki manfaat yang tidak kalah saing dengan padi, jagung dan kedelai.

 

“Sorgum dibudidayakan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Hampir seluruh bagian tanaman sorgum, seperti biji, tangkai biji, daun, batang dan akar, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. Mulai menjadi makanan seperti sirup, gula, kerajinan tangan, pati, biomas, bioetanol dan tepung pengganti terigu dan lainnya,” kata Suwandi

 

Sumber:

DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN