Mugi & Kawasan Korporasi Agro

Jumat, 06 Desember 2019, 14:52 WIB

senttra hortikultura | Sumber Foto:Dok Kementan

Mugiyanto pasti tak menduga. Bahwa dia pada akhirnya jadi sosok penting dalam pengembangan Kawasan Korporasi agro di Indonesia. Yakni dalam pengembangan hortikultura. Setidaknya dia dijadikan petani model pengembangan budidaya klengkeng. Salah satu komoditas yang kini tengah digarap Kementerian Pertanian. Bersama dengan beberapa komoditas lainnya.

Langkah warga Magelang, Jawa Tengah, ini tidak ke arah sana. Dia ingin jadi tentara. Dia berlatih keras untuk dapat bergabung dengan militer. Harapan itu tercapai. Dia menapaki karirnya hingga kini menjadi seorang Kopral Kepala TNI AD. Terbiasa bekerja keras, Mugi pun tak bias diam.

Dia pun mengolah lahan yang dimilikinya. Dia memilih menanam klengkeng. Buah yang disukai oleh banyak kalangan, namun masih sangat sedikit petani yang menanam pohonnya. Pilihannya jatuh pada jenis Klengkeng Kateki. Jenis yang dapat berbuah sangat lebat, hingga dapat mencapai 75 kg per pohon per tahun.

Dengan 200 pohon per hektar, 15 ton klengkeng pun dapat dipanennya. Dijual seharga Rp 30 ribu per kg, maka omset tahunan klengkeng itu bisa sebesar Rp 450 juta per hektar. Dengan biaya produksi sekitar Rp 10 ribu per kg, sedikitnya dapat diperoleh Rp 300 juta bersih. Wowww! Hal yang tidak mudah diraih oleh usaha pertanian.

Maka Mugi terus menekuni perklengkengan. Dan Kementerian Pertanian pun merangkulnya untuk pengembangan komoditas ini secara lebih luas. Bukan melalui bantuan untuk usaha kecil. Namun untuk pengembangan wilayah yang diistilahkan sebagai “Kawasan Korporasi’ hortikultura. Kawasan bersama para petani, mengadopsi model korporasi berskala menengah.

Klengkeng bukan satu-satunya komoditas yang dipilih oleh keperluan itu. Berbagai komoditas lain juga dikembangkan, seperti bawang merah hingga jeruk.  Untuk pengembangan hortikultura, model pengembangan Kawasan Korporasi agro tampaknya lebih tepat. Dibanding dengan pengembangan usaha berskala gurem.

Itu juga yang ditekankan Siti Bibah Indrajati, yang menangani pengembangan Kawasan Korposasi berbagai komoditas di Kementerian Pertanian. Disebutnya, Direktur Jenderal Hortikultura sangat menekankan arah itu. Prihasto Setyanto, Sang Dirjen, percaya pada pendekatan OVOP. One village one product. Satu desa satu produk. Konsep itupun diadaptasi menjadi model Kawasan Korporasi itu.

Konsepnya sederhana. Para petani kecil di wilayah yang sama hendaknya berhimpun: mengembangkan usaha secara serempak. Untuk komoditas yang sama. Dalam hal ini adalah komoditas-komoditas hortikultura. Sayur dan buah. Lahan mereka masing-masing lalu menjadi bagian dari pengembangan komoditas itu secara luas.

“Menjadi semacam usaha korporasi,” begitu kurang lebih prinsipnya. Dengan demikian, dukungan untuk pengembangannya pun menjadi lebih mudah. Mulai dari dukungan untuk produksi, pembiayaan, pengolahan hasil, hingga pemasaran. Tak kalah pentingnya adalah dukungan berupa riset. Buat mengembangkan usaha itu.

Dengan cara itu, kapasitas diri masing-masing petani akan leih cepat berkembang. Secara serempak pula. Itu yang akan meningkatkan produksi secara nyata. Baik kuantitas dan apalagi kualitas. Hal yang akan secara nyata meningkatkan pendapat mereka. Apalagi, peningkatan kapasitas juga terjadi dalam sisi bisnisnya.

Bersamaan dengan itu pula, kerja sama antarpetani juga akan meningkat. Bukan sekadar karena punya produk dan orientasi yang sama. Lebih dari itu, juga pasti mendorong penguatan kelembagaan mereka. Itu yang sangat terpenting.  Kuatnya agro di negara-negara maju hanya terjadi ketika asosiasi petani menjadi kuat. Kawasan korporasi agro mendorong hal itu.

Pengembangan Kawasan Korporasi agro ini yang tampaknya jadi andalan Direktorat Jenderal Hortikultura. Di bawah kepemimpinan Prihasto sekarang. Program andalan yang lalu mendapat momentum yang tepat. Menteri baru, Syahrul Yasin Limpo, menekankan pentingnya pertanian berbasis klaster. Buat meningkatkan efektivitas dan efisiensi berusaha tani.

Kawasan Korporasi hortikultura sejalan dengan klasterisasi agrobisnis itu. Pengembangan berbagai komoditas pun disebut akan diarahkan ke sana. Di antaranya adalah komoditas bawang merah dan bawah putih. Komoditas yang tampaknya tak akan pernah berswasembada karena timpangnya harga di dalam dan luar negeri. Sangat menguntungkan buat mengimpornya.

Beberapa buah tropis yang menjadi keunggulan Indonesia tentu masuk dalam daftar pengembangan Kawasan Korporasi itu. Duren misalnya, yang kini juga telah ditanam dalam skala besar. Begitu juga mangga dan salak.  Pengembangan manggis diam-diam sudah mengarah ke sana. Bahkan sebelum program Kawasan Korporasi itu dicanangkan.

Di Purwakarta, misalnya, pengembangan manggis secara bersama telah berjalan baik. Produksi dari daerah ini ikut berkontribusi dalam ekspor manggis Indonesia. Komoditas yang, tanpa diduga, termasuk paling banyak diekpor. Kementan kini mengembangkan model serupa pada klengkeng tersebut. Bukan buat ekspor, tapi memenuhi kebutuhan dalam negeri. Yang masih sangat besar.

Setidaknya enam kabupaten menjadi wilayah pengembangannya. Tak jauh dari Magelang, kabupaten Kulon Progo dan Gunung Kidul juga menjadi pengembangan Kawasan Korporasi klengkeng. Begitu pula daerah kering di Kabupaten Grobogan, Blora, serta Tuban. Sekitar 100 hektar akan dikembangkan di masing-masing wilayah.

Model pengembangan Kawasan Korporasi –apapun sebutannya— seperti ini sebenarnya sudah agak terlambat bagi Indonesia. Tapi bukankah ada ungkapan never late than never. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Model seperti inilah yang harus terus dikembangkan. Apalagi jika ada mitra luar biasa, seperti Mugiyanto. Petani klengkeng di Borobudur itu.*

Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi AGRONET