Maju Berlokomotif Kopi (1)

Sabtu, 04 Januari 2020, 19:32 WIB

ilustrasi : Kopi | Sumber Foto:Istimewa

Tanyakan pada warga setempat namanya. Di lereng selatan Gunung Malabar, Pengalengan, Jawa Barat. Semua akan cepat menunjukkan rumahnya. Dialah Haji Supriatna Dinuri. ‘Bapak Kopi Malabar’ – kopi yang kini juga mendunia. Menyusul Kopi Gayo hingga Kopi Toraja.

Awalnya Haji Dinuri bukan petani kopi. Ia sempat bertani sebagaimana para petani setempat lainnya. Hampir semua warga  desanya juga bertani sayur. Namun perlahan kemudian masalah mulai muncul. Saat itu, hutan lindung di atasnya perlahan digerogoti.

Pembalakan liar pun berlangsung. Kayu-kayunya dijarah. Lahannya sedikit demi sedikit dialihfungsikan menjadi lahan sayur. Perlahan air sumber yang biasa mengairi desa-desa sekitarnyanya menyusut. Longsor mulai terjadi.

Saat itulah Haji Dinuri mulai bereksperimen. Yakni mencoba beberapa jenis kopi yang cocok dengan lahan d sana. Setelah beberapa kali gagal, ia mulai mendapatkan hasilnya. Satu-dua orang warga setempat lalu bergabung dengannya. Mulai menanam kopi.

Bersama-sama mereka pun membentuk Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Mereka namainya LMDH Tani Rahayu. Menjadi lembaga binaan Perum Perhutani. Masyarakat boleh manam kopi di lahan hutan Perhutani. Sambil menjaga kelestarian hutan tersebut.

Ternyata Kopi Malabar yang dihasilkannya luar biasa. Beberapa kali kopi tersebut menang dalam lomba di tingkat Jawa Barat, nasional, bahkan internasional. Pasar kopi mereka terbuka lebar hingga Jerman dan Belanda. Yang mereka perlu kini hanya menjaga tingkat produksi dan kualitasnya.

Haji Dinuri dan masyarakat sekitarnya maju dengan kopi. Kopi Malabar. Kopi ini yang sekarang jadi lokomotif majunya pertanian di Kawasan Malabar.  Hal yang juga terjadi di banyak daerah lain termasuk di Papua. Kopi Arabika Wamena dari lembah Baliem pun sekarang mendunia.

Di masa lampau, komoditas Indonesia yang paling popular di dunia memang pala. Emas hijau dari kawasan Maluku ini sempat menjadi primadona perdagangan dunia. Hal yang membuat Belanda dan Inggris mempertukarkan Pulau Rhun di Banda, Maluku, dengan Pulau Manhattan di New York.

Tetapi kejayaan pala tersebut sudah berlalu. Perlu waktu dan usaha besar lagi untuk membangkitkannya. Dalam masa seperempat abad terakhir, produk pertanian Indonesia yang populer justru kopi. Sebutan Java yang terkenal di Amerika Serikat berarti kopi.

Java berarti kopi dari Pulau Jawa atau kopi dari Indonesia. Selanjutnya mereka menyebut berbagai kopi sebagai Java. Begitu terkenal istilah Java sebagai kopi, hingga para pelaku bisnis teknologi informasi pun menggunakan istilah itu sebagai istilah bahasa pemrograman komputer.

Semua berasal dari kopi Nusantara ini. Hal yang menempatkan kopi di jajaran terdepan dari berbagai komoditas pertanian Indonesia saat ini. Maka, untuk membuat pertanian kita maju, mengapa kita tak menggunakan kopi sebagai komoditas lokomotifnya.

Hal serupa ditekankan oleh Anton Apriantono. Menteri Pertanian RI 2004-2009 ini sekarang menjadi Ketua Dewan Kopi Indonesia (Dekopi). Lembaga yang memayungi seluruh asosiasi perkopian di Indonesia. Menurut Anton, sekarang saatnya untuk berusaha lebih keras memajukan perkopian Indonesia.

Disebutnya, kesempatan maju buat kopi Indonesia sangat besar. Persaingan kopi dunia semakin tinggi. Brazil dan Vietnam sangat gencar di pasar kopi dunia. Produktivitas pertanian kopi kita masih sangat rendah dibanding di kedua negara tersebut. Rata-rata baru sekitar 0,75 ton/ha per tahun. Sedangkan Vietnam telah mencapai sekitar 3 ton/ha per tahun.

Meskipun begitu, posisi tawar kopi Indonesia cukup tinggi. “Kita punya kopi premium yang diakui dunia,” kata Anton. Kopi Arabika dari beragam daerah di Indonesia diminati konsumen di berbagai negara. Itu menjadi modal besar buat memajukan kopi lebih lanjut.

Pasang naik kopi di dalam negeri juga dapat menjadi pijakan untuk menjadikan komoditas ini sebagai lokomotif kemajuan pertanian Indonesia. Pasang naik itu diawali dengan masuknya merek kopi Amerika, Starbuck ke Jakarta. Kehadirannya telah membangkitkan posisi kopi sebagai bagian dari gaya hidup.

Berbagai merek kopi bermunculan. Seperti Anomali yang mengisi pasar eksklusif kopi nasional. Hingga merek populer seperti Kopi Kenangan, Kopi Janji Jiwa, Coffee Toffee, hingga Kopi Tuku. Adonan khas Indonesia berupa kopi susu plus gula aren menjadi favorit masyarakat.

Itu hanya sebagian merek kopi yang menguat di permukaan. Ada ribuan merek kedai kopi lainnya yang tersebar di setiap daerah. Bahkan kedai-kedai kopi tradisional pun kini dicari lagi. Dari Kopi Thiam hingga Kopi Klothok. Kedai-kedai itu bersisian dengan kafe-kafe kopi modern.

Naik pamornya kopi sebagai gaya hidup itu jelas menguntungkan para petani. Apalagi kalangan petani yang punya hubungan langsung dengan kafe-kafe kopi. Hal ini juga menumbuhkan profesi baru menyangkut kopi. Seperti para analis kopi hingga barista –profesi yang kini juga jadi incaran kalangan muda.

Menguatnya pamor kopi di dalam negeri menjadi pondasi buat melangkah ke manca negara. Hingga saat ini, ekspor utama kopi kita masih berupa kopi biji. Yang berupa produk saat ini adalah permen kopi dan juga kopi sachet. Produk yang diolah dari kopi rasal manapun seperti Vietnam.

Produk kopi premium kita? Belum melakukan penetrasi secara signifikan ke pasar dunia. Belum berperan sebagai lokomotif kemajuan pertanian Indonesia. Padahal potensinya luar biasa. Spirit yang berkembang di akar rumput pun kuat.     

Seperti di Pengalengan itu. Haji Dinuri dan kawan-kawannya tak henti mengembangkan kapasitas diri. Tak cukup dengan hasil kopi hutannya, mereka pun mengembangkan kopi luwak. Anaknya yang kuliah di Bandung pun telah bersertifikat sebagai barista kelas dunia. Mereka semua maju dengan kopi.*

Zaim Uchrowi, Ketua Dewan Redaksi AGRONET